Harum Energy (HRUM) Akuisisi 24,5 persen Saham Infei Senilai US$68,6 juta

Media Asuransi – PT Harum Energy Tbk (HRUM) melalui anak usahanya, PT Tanito Harum Nickel, mengakuisisi perusahaan pemurnian (smelter) nikel, PT Infei Metal Industry. Dalam aksi korporasi tersebut perseroan menempatkan 24,5 persen saham dengan nilai transaksi mencapai US$68,6 juta.

Manajemen Harum Energy mengatakan, akuisisi perseroan merupakan bagian dari strategi perseroan untuk mengembangkan kegiatan usaha hilirisasi penambangan nikel, sehingga dapat meningkatkan nilai tambah dan pendapatan perseroan kedepan.

 “Tidak ada dampak material dari pembelian saham tersebut terhadap kegiatan operasional, hukum, kondisi keuangan, atau kelangsungan usaha perseroan,” kata Manajemen dalam keterbukaan informasi kepada Bursa Efek Indonesia (BEI) di Jakarta, Selasa 22 Februari 2021.

Baca Juga:

Menurut Manajemen HRUM, perseroan melalui Tanito Harum Nickel juga mengakuisisi perusahaan nikel, PT Position dengan transaksi sebesar US$80,32 juta pada awal Februari 2021 lalu. Dimana, perseroan menempatkan 51 persen saham Position dari Aquila Nickel Ptd Ltd.

“Tapi mengenai jumlah saham, saat pembelian, dan harga pembelian akan sangat dipengaruhi oleh kondisi pasar. Seperti yang telah kami informasikan di laporan keuangan dan laporan-laporan kami yang lain, harga saham Nickel Mines sudah jauh lebih tinggi dibandingkan harga saham pada saat kami melakukan akuisisi saham tersebut. Hal ini akan menjadi pertimbangan bagi kami untuk melakukan investasi di Nickel Mines,” jelas manajemen.

Manajemen HRUM mengungkapkan bahwa pembelian saham Nickel Mines merupakan upaya perseroan mendiversifikasikan usaha perseroan ke sektor non-batubara. Kendati Nickel Mines adalah perusahaan yang tercatat di bursa efek luar negeri, namun seluruh operasinya berada di Indonesia. Nickel Mines adalah perusahaan publik asal Australia yang bergerak di bisnis tambang yang memproduksi nickel pig iron (NPI), salah satu bahan utama dalam produksi stainless steel.

“Nickel Mines merupakan investasi yang sangat prospektif sehingga perseroan akan mempertimbangkan untuk menambah kepemilikan saham,” paparnya.

Seperti diketahui, Aquila Nickel merupakan salah satu portofolio investasi Solway Investment Group, perusahaan investasi global yang berkantor pusat di Swiss. Perusahaan fokus pada bisnis pertambangan dan logam. Portofolio investasi perusahaan memiliki pabrik dan tambang logam di Guatemala, Ukraina, Rusia, Indonesia, dan Makedonia. Proyek Aquila di Indonesia berlokasi di Halmahera, yang diperkirakan memiliki sumber daya lebih 120 juta ton bijih dry saprolite dengan kadar nikel rata-rata 1,58 persen, serta lebih 80 juta ton bijih dry limonite dengan kadar nikel 1,15 persen dan kobalt 0,15 persen.

Akuisisi Position ini menambah akuisisi yang dilakukan Harum Energy setidaknya dalam enam bulan terakhir. Pada Juni 2020, Harum Energy sempat memborong 39 juta saham perusahaan tambang nikel asal Australia, Nickel Mines Ltd, sebesar Aus$34,26 juta. Nickel Mines memegang kepemilikan 60 persen di Proyek Hengjaya Nickel dan Ranger Nickel. Keduanya mengoperasikan pabrik Rotary Kiln Electric Furnace (RKEF) yang memproduksi NPI di Indonesia Morowali Industrial Park.

Dari sisi kinerja, sebagaimana disampaikan sebelumnya, hingga kuartal III-2020, Harum Energy membukukan laba bersih sebesar US$25,73 juta atau naik 60,41 persen dibandingkan periode sama tahun 2019 yang mencatatkan laba bersih sebesar US$ 16,04 juta. Total pendapatan perseroan pada akhir kuartal III-2020 tercatat sebesar US$136,14 juta atau turun 32 persen dibandingkan periode sama tahun 2019 yang sebesar US$200,28 juta.

Adapun beban pokok pendapatan dan beban langsung tercatat sebesar US$98,72 juta atau turun 33,33 persen dibandingkan akhir kuartal III-2019 yang sebesar US$147,89 juta. Alhasil, perseroan membukukan laba kotor pada akhir kuartal III-2020 sebesar US$ 37,41 juta atau turun 28,57 persen dibandingkan periode sama tahun 2019 yang sebesar US$ 52,38 juta. One