Hati-Hati Saham KAEF, INAF, dan IRRA

Media Asuransi – Sentimen vaksin Covid-19 dalam beberapa hari terakhir telah melambungkan sejumlah saham emiten farmasi. PT MNC Sekuritas memperingatkan investor untuk berhati-hati terhadap sejumlah saham emiten farmasi yang harganya dinilai sudah sangat mahal.

Head of Research Division PT MNC Sekuritas Edwin Sebayang mengatakan, secara khusus investor perlu sangat berhati-hati terhadap saham farmasi seperti: KAEF, INAF & IRRA karena valuasinya relatif sudah sangat mahal (PER KAEF 538x & PER IRRA 204x). “Bahkan yang paling parah mahalnya saham INAF yang masih menderita rugi bersih hingga kuartal III/2020 sebesar Rp18,88 miliar membuat PER mencapai -581x,” jelasnya melalui Early BIRD Fundamental Perspective yang dikutip Media Asuransi, Kamis, 10 Desember 2020.

BEDAH SAHAM: Menimbang Prospek Profitabilitas ITMG

Di lain pihak, jelasnya, sentimen positif datang dari penguatan harga beberapa komoditas yakni: Coal +0,84 persen, Nikel +2,17 persen, dan Tin +1,99 persen sehingga berpotensi mendorong naik saham-saham sektor komoditas tersebut di antaranya saham: INCO, TINS, ANTM, MBAP, ADRO, PTBA, ITMG, HRUM, dan UNTR.

Dari sisi IHSG, Edwin menjelaskan, ketika market Indonesia libur untuk menyelenggarakan Pilkada, DJIA bisa dikatakan ditutup flat di tengah turunnya EIDO sebesar -0,30 persen serta turunnya beberapa harga komoditas seperti: Oil -0,26 persen, Gold -1,40 persen, CPO -0,80 peren disertai tren investor asing kembali membukukan net sell berpotensi menjadi sentimen negatif bagi perdagangan Kamis ini.

IHSG diperkirakan bergerak pada rentang 5.894-5.985 dan nilai tukar rupiah pada rentang Rp14.050-Rp14.190 per dolar AS. Adapun saham-saham yang direkomendasikan untuk dibeli pada perdagangan hari ini adalah PGAS, ANTM, ERAA, CPIN, MAPI, PZZA, TINS, WIKA, SMRA, dan BRIS.

Lebih lanjut, Edwin menjelaskan, beberapa sentimen yang perlu dicermati pada perdagangan hari ini dari pemberitaan sejumlah media mainstream adalah:

1. Menkeu: Pertumbuhan Kredit Lemah, Ekonomi “Pingsan”. Dikatakan Menkeu, saat ini pertumbuhan kredit terus melemah yang berada di kisaran 0 persen. Bahkan per Oktober 2020, pertumbuhan kredit terus melambat hingga terkontraksi 0,47 persen. Bila kondisi penyaluran kredit terlalu lama “pingsan”, Menkeu mengatakan ekonomi Indonesia juga akan ikut “pingsan”. (Beritasatu)

2. PT Kimia Farma (KAEF). PT Bio Farma belum dapat memastikan vaksin jadi untuk Covid-19 asal China, Sinovac, aman disuntikkan kepada orang lanjut usia di atas 60 tahun. (Kontan)

3. PT SMR Utama (SMRU). Hingga akhir kuartal III/2020, perseroan membukukan pendapatan sebesar Rp369,31 miliar atau turun 34,38 persen yoy dibandingkan periode sama tahun 2019 sebesar Rp562,88 miliar. Sementara itu, hingga akhir kuartal 3/2020, perseroan membukukan rugi bersih yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk sebesar Rp171,64 miliar atau membengkak 71,21 persen yoy dibandingkan periode sama tahun 2019 merugi sebesar Rp100,25 miliar. (Kontan)

4. PT Lippo Karawaci (LPKR). Perseroan mengincar pendapatan prapenjualan pada 2021 tumbuh 40 persen menjadi Rp3,5 triliun dari target prapenjualan 2020 sebesar Rp2,5 triliun. Sampai dengan akhir Oktober 2020, perseroan telah melampaui target prapenjualan 2020 sebesar Rp2,5 triliun. (Bisnis) ACA