Ini Dia Profil 3 Emiten Baru SCNP, KMDS, dan BBSI di BEI

Media Asuransi – PT Bursa Efek Indonesia (BEI) hari ini, Senin 7 September 2020, kedatangan tiga emiten baru yang mencatatkan sahamnya di lantai bursa. Bergabungnya ketiga emiten baru tersebut menggenapi total 40 emiten yang melakukan penawaran umum perdana (initial public offering/IPO) saham pada 2020.

Sepanjang tahun ini, BEI menargetkan IPO saham mencapai 57 emiten baru. Artinya, di tengah pandemi Covid-19 yang belum jelas kapan berakhir, target tersisa BEI hingga akhir tahun adalah 17 emiten baru.

Berdasarkan keterangan resmi BEI, ketiga emiten baru tersebut adalah PT Selaras Citra Nusantara Perkasa Tbk. dengan kode saham SCNP, PT Kurniamitra Duta Sentosa Tbk dengan kode saham KMDS, dan PT Bank Bisnis Internasional Tbk dengan kode saham BBSI. 

Pada debut perdananya, harga saham 3 emiten tersebut langsung ditransaksikan menguat. Hal ini menunjukkan respons positif dari investor pasar modal terhadap rencana ekspansi dari emiten baru. 

Berikut profil 3 emiten baru tersebut: 

Pertama, SCNP mencatatkan 2,5 miliar lembar saham pada harga Rp110 per lembar saham di papan pengembangan BEI. Hingga pukul 9.32 WIB, saham SCNP meroket 38 persen ke level Rp148 per saham.

SCNP merupakan perusahaan yang bergerak pada subsektor electronics dan memberikan kontribusi nyata bagi perekonomian Indonesia dalam industri perangkat rumah tangga (home appliances). SCNP dikenal sebagai produsen blender, setrika, kipas angin, kompor gas dengan brand dari para mitra strategis. Selain pasar domestik, SCNP juga melayani pasar ekspor salah satunya ekspos produk air purifier ke Amerika Serikat.

Pada tahun 2019, SCNP mencatatkan total aset sebesar Rp367,94 miliar dan pendapatan sebesar Rp619,28 miliar dengan laba bersih Rp39,59 miliar.

Pasca-IPO komposisi kepemilikan saham SCNP berubah menjadi 45% dimiliki oleh SD, 29,66% dimiliki oleh GDST, masing-masing 1,667% dimiliki oleh Richard Nursalim, Xaverius Nursalim, Freddy Nursalim, Willy Nursalim, dan Hendrik Nursalim. Adapun investor publik memegang kepemilikan sebesar 20%.

Kedua, KMDS mencatatkan saham baru sebanyak 800 juta lembar saham dengan harga penawaran Rp300 per lembar saham. Hingga pukul 9.21 WIB, harga saham KMDS melesat sebesar 74 persen ke level Rp374 per saham.

KMDS berdiri pada tahun 2000 dengan bidang usaha Food Service dengan distribusi produk ke seluruh Indonesia. KMDS merupakan penyedia one stop solution di Indonesia untuk makanan dan minuman berkualitas yang mendistribusikan merek terkemuka pada berbagai kategori produk ke seluruh wilayah di Indonesia.

Pada 2019, KMDS mencatatkan total aset Rp95,32 miliar dan pendapatan sebesar Rp150,50 miliar dengan laba bersih sebesar Rp31,51 miliar. Hingga Maret 2020, pendapatan yang telah dibukukan mencapai Rp48,74 miliar dengan laba bersih Rp9,61 miliar.

Pasca-IPO komposisi kepemilikan saham KMDS menjadi 60,95% dimiliki oleh PT Miki Ojisan Indomitra, 2,69% dimiliki oleh Hengky Wijaya, 1,09% dimiliki oleh Maria Lie, 0,03% dipegang oleh Dewi Irianty Wijaya, dan 20% dipegang oleh investor publik.

Ketiga, BBSI mencatatkan saham baru sebanyak 2,61 miliar lembar saham dengan harga penawaran senilai Rp480 per lembar saham. Hingga pukul 11.26 WIB, harga saham BBSI melejit ke level Rp600 per lembar saham atau meroket hingga 120 persen.

BBSI didirikan pada tahun 1957 dengan nama Bank Ekonomi Nasional NV yang bergerak di bidang industri perbankan. Perseroan telah mendapatkan izin efektif dari OJK pada 27 Agustus 2020. Dana hasil IPO akan digunakan BBSI untuk perluasan jaringan cabang dan renovasi kantor pusat, pengembangan Teknologi Sistem Informasi (TSI), dan modal kerja dalam rangka pemberian kredit.

Pada tahun 2019, BBSI mencatatkan total aset sebesar Rp953,74 miliar dan total pendapatan bersih sebesar Rp47,69 miliar dengan laba komperehensif Rp49,25 miliar.

Pasca-IPO, komposisi kepemilikan saham BBSI menjadi 17,18% saham dimiliki oleh PT Sun Antamusa Investment, 32,23% dipegang oleh PT Sun Land Investama, 35,59% dipegang oleh Sundjono Suriadi, dan 15% saham dipegang oleh investor publik. ACA