Itama Ranoraya (IRRA) Bidik Pendapatan sebesar Rp1 Triliun

Media Asuransi – PT Itama Ranoraya Tbk (IRRA), emiten yang bergerak dibidang peralatan dan perlengkapan medis berteknologi tinggi (HiTech Healthcare Solutions) membidik kenaikan pertumbuhan pendapatan  sebesar Rp1,02 Triliun atau 80 persen dari tahun 2020.

Perseroan juga menargetkan kenaikan laba bersih 100 persen dari realisasi tahun 2020 atau mencapai Rp121,04 miliar. Tingginya target tersebut tidak lepas dari masih tingginya permintaan alat kesehatan dalam upaya penanganan Covid-19.

Direktur Utama PT Itama Ranoraya Tbk Heru Firdausi Syarif mengatakan tingginya permintaan alat kesehatan di tahun 2020 akan terus berlanjut di tahun 2021. Alasan itulah yang menjadikan perseroan menetapkan kembali target tinggi pertumbuhan kenaikan pendapatan tahun 2021 sebesar 80 persen dan laba bersih 100 persen dari tahun 2020.

 “Tahun 2021 ini kami membidik kenaikan 80 sampai 100 persen untuk pendapatan dan laba bersih perseroan. Tingginya realisasi pertumbuhan pendapatan dan laba bersih di tahun 2020 diproyeksikan terus berlanjut tahun 2021,” kata Heru dalam siaran tertulisnya di Jakarta, Minggu 21 Februari 2021.

Baca Juga:

Menurut Heru, tingginya target tersebut tidak lepas dari masih diandalkannya produk Jarum Suntik ADS, Mesin Apheresis (Plasma Darah), Antigen Test dan produk baru, yaitu Avimac, produk immunomodulator yang dipasarkan mulai kuartal I tahun ini. Penetapan target tersebut diluar rencana akuisisi serta pembentukan Join Venture yang sudah menjadi bidikannya sebagai aksi korporasinya di tahun 2021 ini.

“Kami optimis target pertumbuhan 80-100 persen tahun ini tercapai, apalagi alat kesehatan yang dipasarkan perseroan merupakan produk kesehatan bersifat primer, khusus penanggulangan Covid-19. Tahun ini, kami juga menargetkan merealisasikan transformasi dari model bisnis medical equipment supplier menjadi manufacturer dan innovator peralatan medis, Insyallah baik itu target pertumbuhan dan transformasi bisnis bisa terealisasi,” katanya.

Terkait kebutuhan belanja modal 2021, lanjut Heru, perseroan masih memiliki opsi pendanaan pinjaman bank maupun kas internal. Perseroan juga memiliki opsi pendanaan dari penjualan saham treasury yang bisa direalisasikan kapan saja.

“Tahun ini, kami memiliki posisi kas yang sangat kuat, selain itu sampai saat ini, kami belum memanfaatkan pinjaman perbankan, karena kami mendapat dukungan yang kuat dari prinsipal kami seperti Abbott, Alera Health, Terumo dalam pemenuhan belanja barang. Dan jika diperlukan kami juga masih memiliki saham treasury hasil program buyback di tahun lalu, yang sewaktu-waktu bisa menjadi opsi pendanaan bagi perseroan”, jelas Heru.

Sementara itu, Direktur Keuangan Itama Ranoraya, Pratoto Raharjo mengatakan tahun ini menjadi tahun yang sangat penting bagi perseroan. Selain mencapai target pertumbuhan, perseroan menargetkan sejumlah aksi korporasi yang akan dilaksanakan perseroan di tahun 2021 ini.

“Ada sejumlah aksi korporasi yang akan kami laksanakan tahun ini, namun kami belum bisa sampaikan saat ini. Saat ini sedang dilakukan finalisasi dan diharapkan dapat dilaksanakan secepatnya agar dapat memberikan  dorongan terhadap peningkatan pendapatan dan laba bersih perseroan kedepan,” ungkapnya.

Pranoto menambahkan, sepanjang tahun 2020 perseroan berhasil membukukan kenaikan laba bersih tahun 2020 mencapai 82,3 persen menjadi Rp60,52 miliar, dibandingkan periode sama tahun 2019 senilai Rp33,21 miliar. Pertumbuhan tersebut didukung atas lonjakan pendapatan perseroan mencapai 100,1 persen menjadi Rp563,89 miliar pada 2020, dibandingkan raihan tahun 2019 senilai Rp281,75 miliar.

“Penyumbang utama pendapatan berasal dari penjualan segmen alat kesehatan invitro dengan pertumbuhan 183,4 persen menjadi Rp410,8 miliar, dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Produk swab antigen test menjadi produk urutan teratas penyumbang pendapatan terbesar dalam segmen alat kesehatan invitro, diikuti oleh Mesin Plasma Darah (Apheresis), dan mesin USG. Sementara segmen alat kesehatan Non Elektromedik Steril berupa produk alat suntik ADS (Auto Disable Syringe) mencetak kenaikan penjualan 24,8 persen menjadi Rp147,7 miliar,” papar Pranoto.

Diakui Pranoto, pendapatan dan laba bersih perseroan per kuartal IV/2020 berkontribusi masing-masing sebesar 75 persen dan 85 persen terhadap total pendapatan dan laba bersih sepanjang tahun 2020. Hal ini didasarkan besarnya pesanan dari pemeirntah dan ritel terkait penanganan Covid-19 pada kuartal akhir tahun lalu, seperti penyediaan jarum suntik, mesin plasma (mesin apheresis), dan swab antigen test.

Pranoto menambahkan, perseroan juga mencatat lonjakan kas dan setara tahun 2020 menjadi Rp147 miliar, dibandingkan posisi sama tahun sebelumnya dengan defisit Rp 7,8 miliar. Dididi lain, jumlah kas dan setara kas perseroan tahun 2020 juga mengalami kenaikan menjadi Rp233,04 miliar atau setara 443,7 persen dibandingkan tahun 2019 senilai Rp42,86 miliar.  

“Secara total, pendapatan kuartal IV/2020 tumbuh 177 persen, dibandingkan kuartal IV/2019. Hal ini didukung lonjakan permintaan alat suntik ADS , Mesin Apheresis untuk plasma darah, dan antigen test dari pemerintah. Bahkan, produk antigen test yang baru mulai dipasarkan pada kuartal IV/2020 berkontribusi paling besar,” pungkasnya. One