Kajian LRMA: Kinerja Asuransi Masih Bagus

Media Asuransi – Lembaga Riset Media Asuransi (LRMA) melakukan kajian atas kinerja keuangan 140 perusahaan asuransi, berdasar laporan keuangan per Desember 2019 yang dipublikasikan di media massa, paling lambat 31 Juli 2020. Hasilnya, premi asuransi umum dan reasuransi tumbuh double digit sedangkan asuransi jiwa dan asuransi syariah (full fledged) tumbuh single digit, jika dibandingkan dengan tahun sebelumnya.

36 Perusahaan Raih Predikat Best Insurance 2020

Perusahaan asuransi yang dikaji kinerja keuangannya oleh LRMA, terdiri dari  71 perusahaan asuransi umum, 50 perusahaan asuransi jiwa, 6 perusahaan reasuransi, serta 13 perusahaan asuransi dan reasuransi syariah (full fledged). Hal ini disampaikan Pemimpin Lembaga Riset Media Asuransi (LRMA) Mucharor Djalil, di sela-sela penyelenggaraan Insurance Award 2020 yang dilangsungkan secara virtual melalui aplikasi zoom meeting dan ditayangkan secara live streaming di kanal YouTube TVAsuransi, Kamis, 19 November 2020.

Lembaga Riset Media Asuransi (LRMA) merupakan lembaga riset yang didirikan oleh Media Asuransi untuk melakukan riset di industri asuransi, perbankan, multifinance, dan jasa keuangan lainnya.

Mucharor Djalil menuturkan, kinerja industri asuransi jiwa di Indonesia tetap menunjukkan pertumbuhan signifikan selama 2019. LRMA telah melakukan kajian pada 18 indikator kinerja keuangan asuransi jiwa dari laporan keuangan periode 2018 dan 2019 terhadap 50 dari total 54 perusahaan asuransi jiwa, dan ada empat perusahaan asuransi jiwa yang belum mempublikasikan neraca keuangan. 

Data LRMA memperlihatkan, pencapaian hasil kinerja perusahaan asuransi jiwa selama 2019, raihan tertinggi pada hasil investasi yang melesat hingga 250 persen, dari Rp8,75 triliun di tahun 2018 menjadi Rp30,62 triliun di 2019. Indikator untuk kas dan bank tumbuh sebesar 41 persen dari Rp11,46 triliun di akhir 2018 meningkat sebesar Rp16,19 triliun. 

Beberapa indikator yang meningkat tipis seperti pada ekuitas naik 16,7 persen dari Rp95,62 triliun pada 2018 berubah menjadi Rp111,60 triliun di akhir 2019. Untuk investasi tumbuh 8,8 persen, dari Rp439,46 triliun tahun 2018 menjadi Rp478,26 triliun di tahun berikutnya. Aset tumbuh 9,6 persen, pada 2018 ada di angka Rp480,68 triliun meningkat menjadi Rp526,63 triliun di 2019. Demikian pula pendapatan premi naik hanya 4 persen dari sebesar Rp167,97 triliun pada 2018 tumbuh menjadi Rp174,8 triliun di tahun 2019. 

Sementara itu, seiring dengan kondisi ekonomi nasional dan global di sepanjang 2019 yang melambat, beban klaim dan manfaat mengalami kenaikan sebesar 19,4 persen, dari Rp120,33 triliun di 2018 menjadi Rp143,9 triliun di tahun 2019. Jumlah beban usaha naik sebesar 16,11 persen, pada 2018 di angka Rp159,31 triliun naik menjadi Rp184,98 triliun di tahun 2019. Selain itu, ada lonjakan cukup tinggi pada indikator rasio beban (rata-rata industri) naik hingga 267,96 persen dari 137 persen di tahun 2018 berubah sebesar 504 persen di tahun selanjutnya.

Sementara itu, hasil kajian LRMA menunjukkan bahwa di tahun 2019, asuransi umum mencatatkan pertumbuhan premi bruto sebesar 15,05 persen sedangkan pertumbuhan premi neto sebesar 15,78 persen. “Kajian itu dilakukan atas laporan keuangan publikasi 71 perusahaan asuransi umum, di luar asuransi umum syariah full fledged, dan 2 perusahaan belum mempublikasikan laporan keuangannya saat kajian dilakukan,” tutur Pemimpin LRMA Mucharor Djalil.

LRMA mencatat, premi bruto asuransi umum tumbuh 15,05 persen, dari Rp56,39 triliun per Desember 2018 menjadi Rp64,87 triliun per Desember 2019. Sedangkan pertumbuhan premi neto tercatat sebesar 15,78 persen, dari Rp32,58 triliun per Desember 2018 menjadi Rp37,72 triliun per Desember 2019. Ini merupakan dua tahun berturut-turut hasil kajian LRMA menunjukkan bahwa pertumbuhan premi asuransi mencapai double digit.           

Namun, pertumbuhan premi yang tinggi ini juga diikuti pertumbuhan klaim, bahkan dengan pertumbuhan yang lebih tinggi. Klaim neto industri asuransi umum tumbuh 17,06 persen, dari Rp18,22 triliun per Desember 2018 menjadi Rp21,33 triliun per Desember 2019. Di sisi lain, utang klaim turun 14,35 persen, yakni dari Rp1,69 triliun per Desember 2018 menjadi Rp1,45 triliun per Desember 2019.

Dari sisi aset, industri asuransi umum mampu mencatatkan peningkatan aset sebesar 9,33 persen, dari Rp133,92 triliun per Desember 2018 menjadi Rp146,41 triliun per Desember 2019. Nilai investasi tumbuh 9,72 persen, dari Rp64,41 triliun per Desember 2018 menjadi Rp70,67 triliun per Desember 2019. Sedangkan nilai ekuitas tumbuh 14,08 persen, dari Rp47,03 triliun per Desember 2018 menjadi Rp53,65 triliun per Desember 2019.

“Kabar gembira datang dari komponen pendapatan, yakni hasil underwriting dan hasil investasi yang sama-sama tumbuh double digit,” jelas Mucharor Djalil. Hasil underwriting meningkat 12,50 persen, dari Rp12,41 triliun per Desember 2018 menjadi Rp13,96 triliun per Desember 2019. Sedangkan hasil investasi naik 1,65 persen, dari Rp4,04 triliun per Desember 2018 menjadi Rp4,11 triliun per Desember 2019. Sementara itu pertumbuhan jumlah beban usaha relatif rendah, yakni hanya 5,42 persen, dari Rp11,79 triliun per Desember 2018 menjadi Rp12,43 triliun per Desember 2019.

Kinerja industri asuransi umum yang cukup baik, terutama pertumbuhan pendapatan yang tinggi sedang di sisi lain pertumbuhan beban usaha relatif rendah, berdampak pada meningkatnya laba. Laba sebelum pajak tercatat meningkat 18,54 persen, dari Rp4,83 triliun per Desember 2018 menjadi Rp4,94 triliun per Desember 2019. Sementara itu laba bersih setelah pajak industri asuransi umum tercatat sebesar Rp4,94 triliun per Desember 2019, meningkat 22,09 persen dibandingkan dengan perolehan laba bersih setelah pajak per Desember 2018 yang tercatat sebesar Rp4,04 triliun.

Menurut Mucharor Djalil, kinerja industri reasuransi di Indonesia selama 2019 juga bagus, karena ada pertumbuhan double digit dibandingkan periode yang sama pada 2018. Misalnya, seperti yang dikaji oleh LRMA dari 6 reasuransi konvensional, pertumbuhan premi neto industri reasuransi per Desember 2019 sebesar 18,84 persen menjadi Rp12,41 triliun dari Rp10,44 triliun per Desember 2018. Sedangkan pertumbuhan klaim neto industri reasuransi per Desember 2019 mencapai 21 persen dibandingkan per Desember 2018, meskipun dari nominalnya tidak sebesar premi neto. Yaitu beban klaim neto per Desember 2019 sebesar Rp8,18 triliun dari Rp6,77 triliun per Desember 2018.

Menurut kajian LMRA, hasil underwriting industri reasuransi mengalami pertumbuhan 21,18 persen menjadi Rp1,22 triliun per Desember 2019 dari Rp1 triliun selama periode yang sama 2018. Sedangkan hasil investasi industri reasuransi per Desember 2019 tumbuh 66,13 persen menjadi Rp878,03 miliar dari Rp528,53 miliar per Desember 2018.

Industri reasuransi tampaknya juga lebih solvent selama 2019 dibandingkan 2018. Seperti terlihat pada rasio solvabilitas atau RBC rata-rata industri reasuransi mencapai 414 persen per Desember 2019, tumbuh 13,58 persen dari 365 persen per Desember 2018. Sementara itu, rasio kecukupan investasi rata-rata industri reasuransi juga mengalami pertumbuhan 4,50 persen menjadi 238 persen per Desember 2019 dari 228 persen per Desember 2018.

Industri reasuransi selama 2019 ternyata membukukan laba lebih besar dari tahun sebelumnya. Masih menurut LRMA, laba setelah pajak industri reasuransi per Desember 2019 mengalami pertumbuhan 58,37 persen menjadi Rp1,03 triliun dari Rp649,79 miliar per Desember 2018. “Industri reasuransi selama 2019 tampaknya benar-benar bagus. Karena dari 18 indikator yang dikaji oleh LRMA, setidaknya 17 indikator menunjukkan pertumbuhan yang baik,” jelas Mucharor Djalil.

Sementara itu asuransi syariah juga menunjukkan kinerja yang masih cukup baik. Dari hasil kajian oleh LRMA, 13 perusahaan asuransi dan reasuransi syariah  full fledge di Indonesia, yakni terdiri dari 1 reasuransi syariah, 7 asuransi jiwa syariah, dan 5 asuransi umum syariah, memberikan kontribusi cukup menggembirakan di tahun 2019.

Menurut Pemimpin LRMA Mucharor Djalil, kinerja yang masih bagus itu dapat dilihat dari hasil Kontribusi Bruto yang meningkat cukup baik pada tahun tersebut, yaitu sebesar 9,28 persen. Pada 2018 kontribusi tercatat sebesar Rp1,78 triliun dan di tahun 2019 meningkat menjadi Rp1,95 triliun atau dengan selisih lebih dari Rp165 miliar 2018.

Tumbuhnya kontribusi bruto ini memberikan dampak positif pada perolehan Ujroh pengelola yang meningkat sebesar 17,18 persen, tahun 2018 tercatat sebesar Rp615,45 miliar dan pada 2019 menjadi Rp721,17 miliar. Bahkan hasil Underwriting Dana Tabarru industri asuransi syariah 2019 melonjak 265 persen dibandingkan tahun sebelumnya, yakni dari defisit Rp15,92 miliar di tahun 2018 menjadi surplus Rp25,27 miliar di tahun 2019.

Kinerja positif lainnya juga dapat dilihat dari pertumbuhan aset industri asuransi syariah secara gabungan yang meningkat sebesar 18,93 persen. Pada 2018 aset industri asuransi syariah tercatat sebesar Rp7,99 triliun, sedangkan  tahun 2019 mengalami pertambahan menjadi Rp9,51 triliun. Peningkatan  lainnya juga terjadi dari sisi ekuitas, tumbuh sebesar 2,90 persen. Pada 2018 ekuitas asuransi syariah tercatat mencapai Rp1,87 triliun dan terjadi penambahan setahun setelahnya menjadi Rp1,93 triliun.

Sementara itu, investasi industri asuransi syariah di  tahun 2019 mengalami pertumbuhan sebesar 18,83 persen. Di tahun 2018 Investasi asuransi syariah tercatat sebesar Rp6,07 triliun, kemudian meningkat menjadi Rp7,22 triliun di tahun 2019. Pertumbuhan ini memberi dampak positif dengan meningkatnya Hasil Investasi industri asuransi syariah hingga mencapai 68,72 persen. Pada tahun 2018 tercatat hasil investasi sebesar Rp74,35 miliar dan di akhir 2019 tercatat tumbuh menjadi Rp125,44 miliar.

Pertumbuhan positif lainnya dapat dilihat dari perolehan laba bersih setelah pajak di industri ini, meningkat sebesar 11,84 persen. Pada 2018 laba bersih tercatat sebesar Rp76,59 miliar, kemudian pada tahun 2019 tercatat meningkat menjadi Rp85,66 miliar. Edi