Kredit BCA Tumbuh 5,3 persen di Semester I 2020

       PT Bank Central Asia Tbk (BCA) membukukan laba bersih sebesar Rp12,24 triliun pada semester pertama 2020, turun 4,8 persen jika dibandingkan dengan laba bersih pada periode yang sama tahun sebelumnya sebesar Rp12,86 triliun. Pada periode ini, kredit BCA tumbuh sebesar 5,3 persen secara tahunan (year on year/yoy) menjadi Rp595,1 triliun sedangkan total dana pihak ketiga (DPK) per Juni 2020 meningkat 13,0 persen yoy menjadi Rp761,6 triliun. Hal ini disampaikan Presiden Direktur BCA Jahja Setiaatmadja dalam jumpa pers secara virtual, 27 Juli 2020.

     Jahja menjelaskan bahwa pandemi Covid-19 berdampak pada perlambatan berbagai aktivitas bisnis di beragam industri, sehingga mengakibatkan rendahnya permintaan kredit khususnya pada bulan Maret hingga Juni 2020. Menurut dia, kredit yang tumbuh 5,3 persen di semester pertama 2020, ditopang oleh pertumbuhan kredit korporasi. BCA membukukan kredit korporasi sebesar Rp257,9 triliun, meningkat 17,7 persen yoy, sementara kredit komersial dan UKM turun 0,9 persen yoy menjadi Rp184,6 triliun. Pada portofolio kredit konsumer, kredit pemilikan rumah (KPR) tumbuh flat 0,3 persen yoy menjadi Rp91,0 triliun dan kredit kendaraan bermotor (KKB) turun 11,9 persen yoy menjadi Rp42,5 triliun. Saldo outstanding kartu kredit turun 18,6 persen yoy menjadi Rp10,6 triliun akibat penurunan konsumsi domestik. Total portofolio kredit konsumer turun 5,1 persen yoy menjadi Rp146,9 triliun.

     Presiden Direktur BCA ini menyampaikan bahwa pihaknya  focus mendukung nasabah untuk menghadapi kondisi perlambatan bisnis dengan memberi restrukturisasi kredit secara selektif pada berbagai segmen. Selama bulan Maret sampai dengan Juni 2020, BCA memproses pengajuan restrukturisasi kredit sebesar Rp115 triliun atau sekitar 20 persen dari total portofolio kredit yang berasal dari 118.000 nasabah. Per tanggal 30 Juni 2020, total kredit yang telah selesai direstrukturisasi tercatat sebesar Rp69,3triliun atau 12 persen dari total  portofolio kredit. “Kami melihat adanya kemungkinan peningkatan kredit yang direstrukturisasi hingga 20-30 persen dari total portofolio kredit, yang berasal dari 200.000-250.000 nasabah,” kata Jahja Setiaatmadja.

      Di tengah tantangan pandemi Covid-19, BCA berhasil mencatat pertumbuhan dana pihak ketiga yang tinggi pada semester pertama 2020. Dana giro dan tabungan (CASA/current account and saving account) tumbuh 12,8 persen yoy, mencapai Rp575,9 triliun dan berkontribusi sebesar 75,6 persen dari total DPK pada Juni 2020. Jaringan transaksi perbankan yang luas merupakan faktor pendorong pertumbuhan dana CASA. BCA terus berinvestasi pada platform layanan transaksi perbankan, khususnya pada digital channels. Jumlah rekening tumbuh 11,9 persen yoy mencapai 22,5 juta rekening hingga Juni 2020 didukung oleh layanan pembukaan rekening online. Sementara itu, deposito berjangka tumbuh 13,6 persen yoy mencapai Rp185,6 triliun.

      “Posisi likuiditas tetap kokoh dengan LDR (loan to deposits ratio) sebesar 73,3 persen. Likuiditas berada pada tingkat yang sehat untuk mengantisipasi berbagai kebutuhan yang tidak terduga, khususnya selama masa pandemi,” jelas Jahja.

    Pada semester pertama 2020, BCA berhasil menurunkan biaya DPK sehingga membantu meringankan tekanan pada pendapatan bunga gross yang diakibatkan oleh peningkatan restrukturisasi kredit. Pendapatan bunga bersih naik 10,6 persen yoy menjadi Rp27,2 triliun. Pencapaian ini mendukung BCA untuk membukukan total pendapatan operasional sebesar Rp37,8 triliun, tumbuh 10,3 persen yoy. Di sisi lain, beban operasional tumbuh lebih rendah, sebesar 3,8 persen yoy menjadi Rp16,2 triliun. Edi