Kredit BRI Kuartal I 2020 Tumbuh 10 Persen

PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BRI) pada kuartal pertama tahun 2020 masih membukukan pertumbuhan double digit. Laba selama kuartal pertama tahun 2020 mencapai Rp8,17 triliun dengan aset Rp1.358,98 triliun. Menurut Direktur Utama BRI Sunarso, penyelamat kinerja BRI pada kuartal pertama ini adalah sektor Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM). Pada kuartal pertama 2020, BRI telah menyalurkan kredit sebesar Rp930,73 triliun atau tumbuh 10,05 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu sebesarRp 845,72 triliun. “Pertumbuhan kredit ini lebih tinggi daripada pertumbuhan kredit industri yang sebesar 7,95 persen di bulan Maret 2020,” katanya dalam video conference dengan wartawan di Jakarta, 14 Mei 2020.

    Faktor lain yang menjadi penyokong kinerja mengkilap BRI pada kuartal pertama 2020 adalah peningkatan pendapatan berbasis komisi yang dikerek oleh peningkatan transaksi digital sebagai dampak dari himbauan physical distancing. Pendapatan berbasis komisi BRI di akhir Maret 2020 tercatat sebesar Rp4,17 triliun atau tumbuh 32 persen.

    “Seperti yang pernah saya katakan pada Maret 2020 lalu, wabah Covid-19 itu datangnya pada penghujung bulan Maret, sehingga dampaknya kepada kinerja kuartal pertama perbankan, khususnya BRI sebagai bank yang fokus untuk UMKM belum kelihatan. Malah segmen ini yang menjadi penyelamat ekonomi Indonesia khususnya bagi BRI yang membuat kinerjanya bisa tumbuh double digit,” tuturnya.

     Dia tambahkan, kredit UMKM BRI pada kuartal pertama 2020 mencapai Rp728,83 triliun, meningkat 11,39 persen dibanding periode yang sama tahun lalu yang mencapai Rp645,31 triliun. Proporsi kredit UMKM di kuartal pertama 2020 ini sekitar 78,31 persen dari total kredit perseroan, naik dari proporsi kredit UMKM di periode yang sama tahun lalu yang sebesar 77,37 persen. Rincian penyaluran kredit UMMKM pada kuartal pertama 2020, antara lain untuk mikro mencapai Rp320,24 triliun atau meningkat 12,72 persen dibandingkan dengan periode yang sama tahun 2019 yang mencapai Rp284,11 triliun.

     Untuk ritel dan menengah mencapai Rp265,85 triliun atau meningkat 12,25 persen dari kuartal pertama tahun 2019 yang mencapai Rp236,84 triliun. Sedangkan untuk konsumer mencapai Rp142,74 triliun atau tumbuh 7,04 persen dari periode sama tahun lalu yang mencapai Rp133,36 triliun. Sedangkan kredit korporasi mencapai Rp201,90 triliun atau meningkat 5,48 persen dari periode yang sama tahun lalu yang mencapai Rp191,41 triliun.

   Sunarso memaparkan, terus menyalurkan pinjaman kepada UMKM, perseroan mengambil upaya strategis dalam kaitannya penyelamatan dan perlindungan UMKM terdampak Covid-19. Upaya upaya tersebut diantaranya dengan melakukan restrukturisasi kredit UMKM. Hingga akhir April 2020 perseroan tercatat telah memberikan relaksasi berupa restrukturisasi pinjaman kepada lebih dari 1,4 juta UMKM yang terdampak Covid-19 dengan total pinjaman mencapai Rp101 triliun.

    Sementara itu mengenai likuiditas perseroan, Dirut BRI ini mengatakan bahwa pada kuartal pertama 2020 masih baik. Namun untuk likuiditas pada kuartal kedua tahun ini belum dapat dipastikan, pasalnya ada kebijakan dari pemerintah bagi debitur yang terdampak Covid-19 ada penundaan pembayaran pokok dan bunga kredit. “Kalau terjadi penundaan pembayaran pinjaman pokok, yang seharusnya dibayar dan kemudian tidak dibayar, maka akan berdampak langsung kepada likuiditas. Sedangkan dengan adanya penundaan pembayaran bunga, maka akan berdampak kepada income bank,” jelasnya.

    Menurut Sunarso, agar penundaan pembayaran cicilan pokok dan bunga tersebut tidak mengganggu likuiditas perbankan, disarankan agar pemerintah menempatkan dana di perbankan. Terutama kepada bank atau lembaga keuangan yang melakukan restrukturisasi kredit debitur. Selain itu, perbankan dapat mencari sendiri likuiditasnya. “Untuk BRI sendiri sudah mendapatkan pinjaman dari fund raising luar negeri untuk penambahan likuiditas sebesar satu miliar dolar AS. Kalau kita butuh, tinggal menukarkan ke rupiah karena kita ‘kan menyalurkan kredit dalam bentuk rupiah. Di sisi lain, akan menambah devisa kita,” tegasnya.

   Selain itu BRI juga telah membuat skema pinjaman baru untuk UMKM. Diantaranya BRI berkolaborasi dengan Gojek dan Grab dengan menciptakan skema pinjaman khusus bagi pengendara ojek online yang merupakan pelaku usaha informal. Dengan pinjaman antara Rp5 juta hingga Rp20 juta, BRI menargetkan 250.000 pengendara ojek online mendapatkan fasilitas pembiayaan ini. “Ini juga sesuai dengan arahan Presiden bahwa diperlukan sebuah terobosan yang inklusif agar pelaku UMKM terdampak langsung mendapatkan manfaatnya,” tutur Sunarso. Dia tambahkan bahwa ke depan pihaknya akan berupaya mempertahankan kinerja dengan menjaga kualitas aset serta terus menciptakan inisiatif-inisiatif baru dalam kaitannya memberikan perlindungan dan penyelamatan UMKM di Indonesia.

    Dirut BRI ini juga menjelaskan bahwa pada akhir Maret 2020 kredit bermasalah (NPL/non performing loan) BRI tercatat sebesar tiga persen atau meningkat dari periode yang sama tahun lalu yang sebesar 2,07 persen. Meskipun NPL naik, masih jauh di bawah batas maksimal NPL yang ditetapkan regulator sebesar lima persen. “NPL kita naik tetapi dalam situasi seperti sekarang ini sulit untuk bisa mempertahankan NPL. Namun kualitas aset dan cadangan kita cukup aman,” tegasnya.

Sementara itu Dana Pihak Ketiga (DPK), hingga akhir kuartal pertama tahun 2020 DPK BRI tercatat sebesar Rp1.029,00 triliun atau naik 9,93 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu yang mencapai Rp936,03 triliun. Angka ini juga masih di atas pertumbuhan DPK industri perbankan nasional pada bulan Maret 2020 sebesar 9,54 persen. Dana murah atau CASA(current account and saving account) masih mendominasi portofolio simpanan BRI. CASA mencapai proporsi 55,90 persen dari total DPK atau senilai Rp575,18 triliun, sedangkan non CASA mencapai Rp453,81 triliun.

  Sementara itu, dari sisi permodalan, BRI mencatat CAR (capital adequacy ratio) sebesar 18,56 persen di akhir kuartal pertama 2020. “Ini mencerminkan modal BRI cukup kuat untuk melakukan ekspansi dalam jangka pendek, jangka menengah, maupun jangka panjang. Di samping itu likuiditas BRI masih sangat ideal dan perseroan mempunyai ruang yang cukup untuk tumbuh secara sehat, karena LDR (loan to deposit ratio) BRI di kuartal pertama 2020 tercatat sebesar 90,45 persen ,” tutur Sunarso.

   Terkait pandemi Covid-19 BRI juga telah menyalurkan bantuan sosial tunai (BST) tahap pertama sebesar Rp316 miliar bagi masyarakat, termasuk UMKM terdampak Covid-19. Perseroan juga membagikan sejuta masker gratis kepada pedagang pasar dengan tujuan agar pedagang pasar tetap dapat melakukan aktivitas ekonomi dengan protokol kesehatan yang memadai. Selain itu perseroan juga memberikan konsultasi dan pendampingan bisnis UMKM oleh 38 ribu Relationship Manager di seluruh Indonesia serta pelatihan online atau kelas virtual oleh RKB BRI bagi UMKM. Edi