LRMA: Industri Asuransi Terus Tumbuh

   Kinerja industri asuransi jiwa di Indonesia tetap menunjukkan pertumbuhan signifikan selama 2017. Lembaga Riset Media Asuransi (LRMA) telah melakukan kajian pada 15 indikator kinerja keuangan asuransi jiwa dari neraca publikasi periode 2016 dan 2017 terhadap 49 dari total 53 perusahaan asuransi jiwa, empat perusahaan asuransi jiwa yang belum mempublikasikan neraca keuangan. Indikator keuangan yang minus masih tetap terjadi pada kas dan bank serta hasil underwriting, seperti yang terjadi di tahun 2016.

   Namun sebaliknya, kinerja cukup memuaskan terjadi pada hasil laba komprehensif yang naik sebesar 70 persen, dari Rp12 triliun selama 2016 menjadi Rp21 triliun di tahun 2017. Hasil investasi meningkat 58 persen, dari Rp27,96 triliun di tahun 2016 menjadi Rp44,28 triliun pada 2017. Sementara itu, aset tumbuh sebesar 23 persen, dari Rp381,82 triliun di tahun 2016 menjadi Rp468, 76 triliun pada 2017.

  “Pendapatan premi meski tumbuh sebesar 16 persen di 2017, tetap lebih kecil dari pencapaian tahun sebelumnya yang tumbuh sebesar 25,4 persen. Sedangkan premi neto juga naik 16 persen, dari Rp131,46 miliar pada 2016 meningkat menjadi Rp152,7 triliun pada 2017,” kata Pemimpin Lembaga Riset Media Asuransi (LRMA) Mucharor Djalil, di sela-sela acara Insurance Award 2018 di Hotel Le Meridien-Jakarta, Kamis (12/7/2018) malam.

    Sementara ekuitas naik pada 2017 kenaikannya sebesar 21 persen, lebih tinggi dari eknaikan tahun sebelumnya hanya 15,49 persen. Pada tahun 2016 ekuitas asuransi jiwa baru Rp81,91 triliun, kemudian naik menjadi Rp98,86 triliun di 2017. Cadangan teknis tumbuh 23 persen, dari Rp266,50 triliun di 2016 menjadi Rp328,95 triliun di tahun 2017. Di sisi lain, beban klaim dan manfaat yang dibayar naik 25 persen, dari Rp117 triliun pada 2016 menjadi Rp146 triliun.

   Sementara itu untuk asuransi umum, menurut Mucharor Djalil, berdasar hasil kajian terhadap neraca keuangan publikasi dari 73 perusahaan asuransi umum –di luar empat perusahaan asuransi umum syariah (full fledged) yang dikelompokkan terpisah— secara umum pencapaian industri asuransi umum di tahun 2017 lebih baik dibandingkan tahun 2016. Dari sisi premi, baik premi langsung maupun premi neto, tahun 2017 lalu pertumbuhannya sama-sama positif. Berbeda dengan tahun 2016 saat premi langsung justru turun, walau premi netonya tumbuh. “Industri asuransi umum di tahun 2017 mencatat premi langsung sebesar Rp60,21 triliun, naik 4,56 persen dibandingkan pencapaian tahun 2016 sebesar Rp57,59 triliun. Premi netonya tumbuh 3,75 persen, dari Rp30,52 triliun di tahun 2016 menjadi Rp31,67 triliun di tahun 2017,” jelasnya.

   Peningkatan premi ini juga diikuti pertumbuhan klaim neto sebesar 6,55 persen –lebih rendah dibanding pertumbuhan klaim neto tahun sebelumnya yang mencapai 11 persen— yakni dari Rp16,5 triliun di tahun 2016 menjadi Rp17,58 triliun di tahun 2017. Di sisi lain, klaim bruto asuransi umum masih tumbuh negatif, yakni turun sebesar 0,37 persen, dari Rp28,17 triliun di tahun 2016 menjadi Rp28,06 triliun di tahun 2017. Kenaikan klaim ini berakibat pada tertahannya pertumbuhan hasil underwriting yang tercatat hanya sebesar 0,26 persen, dari Rp12,03 triliun di tahun 2016 menjadi Rp12,06 triliun di tahun 2017.

   Dari sisi aset, industri asuransi umum mencatatkan nilai aset sebesar Rp132,08 triliun di tahun 2017, naik 4,99 persen dibandingkan nilai aset 2016 sebesar Rp125,79 triliun. Ekuitas tumbuh 9,82 persen, dari Rp47,63 triliun di tahun 2016 menjadi Rp52,31 triliun di tahun 2017. Sementara itu investasinya melonjak 11,33 persen, dari Rp60,04 triliun di tahun 2016 menjadi Rp66,85 triliun di tahun 2017. Dengan nilai investasi sebesar itu, industri asuransi umum mencatatkan pertumbuhan hasil investasi sebesar 10,48 persen di tahun 2017, yakni naik dari Rp4,41 triliun di tahun 2016 menjadi Rp4,87 triliun.

    Mengenai kinerja asuransi syariah, LRMA melakukan kajian terhadap 10 perusahaan asuransi dan reasuransi syariah full fledged. Hasilnya, industri ini mengalami peningkatan tipis. Hal tersebut dapat dilihat dari hasil kontribusi bruto yang hanya meningkat kurang dari satu persen saja, yaitu sebesar 0,44 persen. Dari segi nilai, pertambahan kontribusi bruto di tahun 2017 dibandingkan tahun 2016 hanya sebesar Rp5,48 miliar saja. Secara keseluruhan, angka kontribusi bruto hanya sekitar Rp1,28 triliundi tahun 2017Di sisi lain, beban klaim dan manfaat yang dibayarkan, mengalami peningkatan tipis sebesar 0,65 persen, dari Rp757,91 miliar pada 2016 menjadi Rp763,03 miliar di tahun 2017.

    Sementara itu untuk kinerja reasuransi, menurut Pemimpin LRMA ini, masih ada pengaruh dari berlakunya Surat Otoritas Jasa Keuangan (OJK) No. S-77/D.05/2014 tentang Optimalisasi Kapasitas Dalam Negeri. “Pertumbuhan premi tak langsung dalam industri reasuransi selama 2017 sebesar 19,55 persen, dari Rp14,02 triliun selama 2016 menjadi Rp16,77 triliun di tahun 2017. Sedangkan premi neto mengalami pertumbuhan 18,97 persendari Rp6,93 triliun selama 2016 menjadi Rp8,25 triliun selama 2017,” jelas Mucharor Djalil.

   Sementara itu, beban klaim mengalami kenaikan sebesar 20,96 persen, dari Rp5,51 triliun selama 2016 menjadi Rp6,67 triliun selama 2017. Jumlah beban klaim juga naik sebesar 23,67 persendari Rp4,69 triliun tahun 2016 menjadi Rp5,80 triliun selama 2017. Hasil Underwriting selama 2017 hanya mengalami kenaikan sedikit, di bawah lima persen, yaitu 3,56 persen, dari Rp1,36 triliun selama 2016 menjadi Rp1,41 triliun di tahun 2017. Investasi yang dilakukan oleh enam perusahaan reasuransi di Indonesia berdasarkan kajian LRMA mengalami peningkatan sebesar 20,74 persen, dari Rp9,48 triliun pada 2016 menjadi Rp11,44 triliun selama 2017. Tetapi Hasil Investasi secara nominal masih kecil walaupun mengalami kenaikan signifikan. Selama 2017 Hasil Investasi industri reasuransi mengalami kenaikan 20,88 persen, dari Rp619,38 miliar selama 2016 menjadi sebesar Rp748,73 miliar di tahun 2017Ken