Meski Kasus Positif Covid-19 Masih Tinggi, Stabilitas Sistem Keuangan Tetap Terjaga

     Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK) menilai stabilitas sistem keuangan di Kuartal II/2020 berada dalam kondisi normal, meskipun kewaspadaan tetap ditingkatkan. Berbagai indikator menunjukkan stabilitas sistem keuangan tetap baik, meskipun penyebaran Covid-19 yang masih tinggi menuntut perlunya peningkatan kewaspadaan dan kehati-hatian karena dapat memengaruhi prospek perekonomian dan stabilitas sistem keuangan. “Untuk itu, koordinasi kebijakan dalam KSSK akan terus diperkuat guna mendorong pemulihan ekonomi dan menjaga stabilitas sistem keuangan,” kata Ketua KSSK yang juga Menteri Keuangan RI Sri Mulyani Indrawati dalam jumpa pers secara virtual, 5 Agustus 2020. 

       Menurut Sri Mulyani, perkembangan terkini menunjukkan kasus positif Covid-19 masih tinggi dan berisiko kembali meningkat (second wave) di beberapa negara. Di tengah pengembangan vaksin yang belum sesuai harapan, kondisi tersebut memicu kekhawatiran berlanjutnya penurunan ekonomi global menjadi lebih dalam. Berbagai lembaga internasional kembali menurunkan proyeksi pertumbuhan ekonomi. IMF memperkirakan perekonomian global 2020 terkontraksi sebesar -4,9 persen, Bank Dunia di level -5,2 persen, dan OECD dalam rentang -7,6 sampai dengan -6,0 persen. “Perekonomian global yang menurun serta dampak penanganan Covid-19 di dalam negeri menurunkan kinerja perekonomian domestik,” tandasnya. 

       Lebih lanjut dijelaskan bahwa pertumbuhanekonomi Indonesia tercatat 2,97 persen yoy (year on year) pada Kuartal I/2020, melambat dibandingkan dengan capaian kuartal sebelumnya sebesar 4,97 persen yoy. Juga lebih rendah dibandingkan dengan pertumbuhan Kuartal I/2019 sebesar 5,07 persen yoy. Pada Kuartal II/2020, pertumbuhan ekonomi mengalami kontraksi yakni minus 5,32 persen yoy, sementara pada Kuartal I/2019 tumbuh 5,05 persen yoy. “Perkembangan ini terutama akibat penurunan dalam kegiatan ekonomi pada bulan April–Mei 2020 sejalan dampak penerapan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB),” tandas Sri Mulyani. 

     Namun demikian, menurut dia, pada Juni 2020 berbagai indikator menunjukkan aktivitas perekonomian domestik mulai meningkat. Hal ini didorong dampak pelonggaran PSBB dan kenaikan ekspor ke Tiongkok. “Ke depan, pemulihan ekonomi nasional diprakirakan berlanjut dipengaruhi peningkatan penyerapan stimulus fiskal, perbaikan restrukturisasi kredit, keberhasilan penanganan protokol kesehatan untuk penanggulangan Covid-19, serta peningkatan permintaan ekspor, khususnya dari Tiongkok,” katanya. Edi