Outflow Investor Asing Sejak Awal Tahun Capai Rp169,22 Triliun

Media Asuransi – Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mencatat kenaikan volatilitas di pasar keuangan global dan domestik selama September 2020 yang diikuti dengan aksi outflow investor asing hingga menapai Rp169,22 triliun sejak awal tahun.

OJK: Stabilitas Sektor Jasa Keuangan Stabil dan Terjaga

Deputi Komisioner Humas dan Logistik OJK Anto Prabowo mengatakan, volatilitas di pasar keuangan global dan domestik tersebut dipicu oleh meningkatknya ketidakpastian akibat penyebaran Covid-19 di beberapa negara yang kembali meningkat serta tensi geopolitik yang meningkat akibat memanasnya kembali perang dagang AS-China dan ketidakpastian Brexit.

“Meningkatnya ketidakpastian tersebut mendorong kenaikan volatilitas di pasar keuangan global dan domestik selama September 2020,” jelasnya melalui keterangan resmi yang dikutip Media Asuransi, Kamis 24 September 2020.

Hingga 18 September 2020, pasar saham dan pasar Surat Berharga Negara (SBN) melemah dengan IHSG turun sebesar 3,42 persen mtd (month to date) dan yield rata-rata SBN naik sebesar 4,9 bps (basis points) mtd.

Penempatan Dana Asuransi di SBN Capai Rp280,34 Triliun

Gubernur BI: Inflow ke SBN Rp1,17 T di Pekan Pertama Mei 2020

“Pelemahan pasar saham dan SBN tersebut turut didorong aksi investor nonresiden alias investor asing yang mencatatkan outflow sebesar Rp169,22 triliun sejak awal tahun 2020 hingga bulan laporan ini (ytd).”

Investor nonresiden tercatat melakukan net sell di pasar saham dan SBN masing-masing sebesar Rp11,67 triliun mtd dan Rp9,63 triliun mtd (ytd pasar saham: net sell Rp39,67 triliun; ytd pasar SBN: net sell Rp129,55 triliun).

“Di tengah perkembangan tersebut, maka secara international best practices pendekatan pengawasan secara terintegrasi dinilai mampu mensinergikan langkah mitigasi di tengah pandemi dan mengoptimalkan peran sektor jasa keuangan dalam mendukung percepatan pemulihan ekonomi nasional, baik melalui pemberian stimulus yang memberikan ruang gerak lebih longgar bagi sektor riil (demand side) maupun implementasi Program PEN melalui sektor keuangan (supply side),” tuturnya. ACA

%d bloggers like this: