Pentingnya Manajemen Risiko bagi UMKM di Tengah Pandemi

Media Asuransi – Pengembangan kegiatan Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) harus disertai dengan strategi pengelolaan dan mitigasi risiko agar UMKM bisa bertahan dalam situasi krisis seperti pandemi Covid-19.

Hal tersebut terungkap dalam acara menggelar acara seminar nasional yang diselenggarakan oleh Sekolah Tinggi Manajemen Asuransi (STMA) Trisakti. Dalam seminar tersebut, tema yang diangkat adalah “Manajemen Risiko Dalam Mendukung Pemberdayaan Masyarakat Pada Masa Pandemi Covid-19” dan disiarkan secara virtual dari kampus STMA Trisakti Jakarta Timur, 29 Agustus 2020. Acara webinar nasional ini bertujuan untuk membangun kesadaran masyarakat terhadap risiko dalam mengembangkan kegiatan UMKM di masa pandemi Covid-19.

Plt Ketua STMA Trisakti I Made Indra mengatakan bahwa pemberdayaan masyarakat melalui usaha mikro, kecil, dan menengah sangat potensial untuk dikembangkan. Untuk pengembangan sektor UMKM tersebut, dibutuhkan kolaborasi antarpelaku usaha dan pihak lain, terutama untuk bisa masuk di era digital seperti saat ini.

Pandemi Covid-19 telah mempengaruhi pola usaha UMKM tersebut. Butuh strategi, bagaimana pengelolaan risiko-risiko yang berkaitan dengan program UMKM ini. “Oleh karena itu, STMA Trisakti menggelar acara ini yang diharapkan menjadi wahana bagi para akademisi dan praktisi untuk bertukar pikiran bagaimana membangun masyarakat yang memiliki daya saing dalam pengelolaan risiko di sektor UMKM,” ungkap I Made Indra saat memberi sambutan.

Pemerintah All Out Atasi Covid-19 & Pulihkan Ekonomi

Sementara itu, Kepala Lembaga Layanan Pendidikan Tinggi (LLDIKTI) Wilayah 3, Profesor Agus Setyo Budi saat memberikan sambutan menyampaikan apresiasi atas langkah STMA Trisakti dalam menyelenggarakan webinar tentang manajemen risiko ini, yang memang dianggap sangat penting bagi masyarakat dalam menjalankan usahanya. Manajemen risiko, kata Agus, merupakan sarana dan alat perbaikan dalam menjalankan standar operasional prosedur dan petunjuk teknis dalam sebuah sistem. “Kita berharap ilmu manajemen risiko yang diperoleh dalam acara ini dapat dipahami oleh para akademisi dan praktisi untuk diterapkan secara sistemik di lembaga masing-masing,” ungkapnya.

Dalam webinar ini tampil sebagai pembicara adalah Direktur Bisnis Lembaga Pengelolaan Dana Bergulir Krisdianto Soedarmono yang memaparkan materi tentang Upaya Pemerintah Dalam Pemulihan Ekonomi Melalui Penyaluran Dana Bergulir kepada Koperasi dan UMKM Serta Mitigasi Risikonya Di Masa Krisis Akibat Pandemi Covid-19.

Kristianto menjelaskan bagaimana langkah-langkah pemerintah dalam upaya pemulihan ekonomi nasional melalui penyaluran dana bergulir kepada koperasi dan UMKM, serta bagaimana mitigasi risikonya di masa krisis akibat pandemi Covid-19 ini. Kristianto dengan lugas menjelaskan tentang kondisi perekonimian nasional terkini, fase-fase strategi pemerintah, penerima bantuan serta subsidi modal, cara mengelola risiko yang benar, serta bagaimana penerapan jaminan.

Menurut dia, ada lima dampak terbesar pandemi Covid-19 terhadap UMKM, yaitu penurunan penjualan serta permintaan, kenaikan harga bahan baku, pengurangan tenaga kerja, produksi terhambat dan kesulitan permodalan. “Jadi dalam melakukan mitigasi risiko yang baik harus dilaksanakan secara cermat dan tidak boleh ada yang bolong. Karena sekalipun tujuannya benar, namun dengan cara yang salah, maka akan dihitung dalam kategori yang salah,” ungkap Kristianto.

Sementara itu, pembicara kedua adalah Ketua Departemen Asuransi Mikro AAUI Eravany Noura Widyanggari yang membahas tentang Mitigasi Risiko dalam Meningkatkan Produktivitas UMKM. Dalam pemaparannya Eravany mengungkapkan bahwa UMKM ini sangat penting untuk diperhatikan.

Pasalnya, dari sektor UMKM ini menyumbang sebesar 60 persen dari total PDB Indonesia dan menyediakan hampir 90 persen dari total lapangan pekerjaan, serta berperan penting dalam hal ekspor dan investasi. Oleh karena itu sangat wajar sekali pemerintah sangat concern sekali dengan sektor UMKM ini, hingga dalam 5 tahun ke depan ditargetkan akan menaikkan nilai ekspor sebesar 18 persen, yang mana saat ini UMKM menyumbang nilai ekspor sebesar 14 persen.

Hingga saat ini, tambah Eravany ada beberapa rancangan pemerintah untuk pengembangan UMKM, yaitu pengembangan UMKM yang dilakukan dengan pendekatan kelompok atau klaster, penentuan prioritas komoditi berorientasi ekspor dan substitusi impor, pemberdayaan UMKM yang dilakukan secara lintas sektoral dengan one gate policy, serta dengan cara modernisasi dan inovasi dari berbagai hal.

Oleh karena itu, lanjutnya, penting sekali bagi para pelaku untuk lebih memperhatikan manajemen risiko dalam usahanya, terlebih di saat pandemi Covid-19 seperti saat ini. “Intinya, kegiatan mengatur risiko bisa dilakukan dengan cara identifikasi, analisis, menilai, meminimalisir dan menghilangkan risiko yang tidak dikehendaki dan mengatur kondisi agar dapat menanggulangi risiko terhadap pendapatan bisnis dengan pendekatan yang terintegrasi,” terang Eravany. Fir