Perbankan Syariah Terus Tumbuh di Tengah Pandemi

Media Asuransi – Perbankan Syariah hingga Bulan Juni 2020 terus menunjukkan perkembangan positif dengan pertumbuhan aset secara tahunan (year on year/yoy) 9,22 persen, pembiayaan yang disalurkan (PYD) tumbuh 10,13 persen yoy, dan dana pihak ketiga (DPK) yang tumbuh 8,99 persen yoy. Hal ini dipublikasikan dalam Snapshot Perbankan Syariah 2020 di akun instagram resmi OJK, 23 September 2020.

BNI Syariah Kerja Sama dengan Koperasi Amphuri 

Hingga akhir semester pertama 2020, aset perbankan syariah nasional di tahun ini (year to date/ytd) tumbuh persen 1,32 ytd, dari Rp538,3 triliun per Desember 2019 menjadi Rp545,4 triliun per Juni 2020. PYD tumbuh 3,39 persen ytd, dari Rp365,1 triliun per Desember 2019 menjadi Rp377,5 triliun per Juni 2020. Sedangkan DPK perbankan syariah tumbuh 1,15 persen ytd, dari Rp425,3 triliun per Desember 2019 menjadi Rp430,2 triliun per Juni 2020.

Per Juni 2020, market share aset perbankan syariah terhadap industri perbankan nasional sebesar 6,18 persen. Sementara itu market share perbankan syariah masih didominasi bank umum syariah (BUS) dengan portofolio mencapai 65,33 persen, disusul unit usaha syariah (UUS) dengan portofolio sebesar 32,17 persen, dan bank pembiayaan syariah (BPRS) dengan portofolio sebesar 2,50 persen.

BNI Syariah Lanjutkan Inovasi Pengembangan Ekosistem Halal

Sementara itu dari rasio-rasio yang ada, terlihat bahwa kondisi perbankan syariah per Juni 2020, cukup bagus. Hal ini terlihat dari rasio kecukupan modal (capital adequacy ratio/CAR) yang tercatat sebesar 21,20 persen. Rasio BOPO sebesar 83,47 persen, return on asset (ROA) sebesar 1,58 persen, dan rasio pembiayaan terhadap dana (financing to deposits ratio/FDR sebesar 87,11 persen. Sementara itu rasio pembiayaan bermasalah relatif rendah yang ditandai dengan angka non performing financing (NPF) Net sebesar 2,05 persen dan NPF Gross 3,37 persen,

Sebagian pembiayaan perbankan syariah disalurkan ke sektor pembiayaan konsumsi dengan portofolio sebesar 45,02 persen, disusul pembiayaan modal kerja sebesar 31,60 persen, dan pembiayaan investasi sebesar 23,38 persen. Sementara itu lima sektor terbesar yang dibiayai adalah rumah tangga (39,07 persen), perdagangan besar dan eceran (10,28 persen), konstruksi (8,98 persen), industri pengolahan (7,37 persen), dan perantara keuangan (4,92 persen). Edi