PMI Manufaktur Indonesia Masuk Level Ekspansi

Media Asuransi – Pelonggaran kebijakan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) memberikan dorongan bagi sektor manufaktur Indonesia untuk meningkatkan kapasitas produksinya.

Data survei PMI terbaru menunjukkan peningkatan baru pada kondisi manufaktur Indonesia selama bulan November, didorong oleh kenaikan pada rekor tertinggi produksi. Pesanan baru meningkat untuk pertama kalinya dalam tiga bulan, tetapi pertumbuhannya hanya pada kisaran marginal, yang melihat kapasitas operasi tetap surplus. Akibatnya, perusahaan tetap berhati-hati dalam berinvestasi pada kapasitas dan inventaris, dan jumlah tenaga kerja serta aktivitas pembelian semakin menurun. Sementara itu, tekanan inflasi meningkat.

Purchasing Managers’ Index (PMI) Manufaktur Indonesia dari IHS  Markit yang dikutip Media Asuransi Rabu 2 Desember 2020, tercatat naik hampir tiga poin dari 47,8 pada bulan Oktober ke 50,6  pada bulan November, menunjukkan perbaikan kesehatan di sektor untuk pertama kalinya sejak bulan Agustus. Di angka 49,2, rata-rata data PMI selama triwulan keempat sejauh ini menjadi yang paling kuat sejak kuartal III/2019.

Menyusul pelonggaran pembatasan sosial berskala besar (PSBB) di Jakarta pada pertengahan bulan Oktober, perusahaan meningkatkan produksi pada bulan November, dengan output naik pada tingkat tercepat sejak survei dimulai lebih dari sembilan setengah tahun yang lalu. Bukti anekdotal menunjukkan pembukaan kembali jalur produksi dan peningkatan penjualan telah meningkatkan volume output.

Kondisi permintaan juga meningkat, dengan arus masuk bisnis baru meningkat untuk pertama kalinya sejak bulan Agustus. Namun demikian, laju kenaikan hanya pada kisaran marginal. Data survei menunjukkan pertumbuhan pesanan di antara konsumen dan produsen barang investasi, sedangkan pembuat barang setengah jadi melaporkan penurunan lebih lanjut dalam penjualan.

Dengan pertumbuhan penjualan yang lemah, survei menunjukkan adanya surplus kapasitas operasi, sebagaimana ditunjukkan oleh penurunan lebih lanjut pada penumpukan pekerjaan. Hal ini menghambat perekrutan, sedangkan pekerjaan berkurang selama 9 bulan berturut-turut seiring dengan gelombang PHK yang terjadi.

Kepala Ekonom IHS Markit Bernard AW menjelaskan bahwa kenaikan kegiatan bisnis Sebagian besar didorong oleh kenaikan rekor tertinggi produksi di tengah laporan meluas tentang pembukaan kembali pabrik dan peningkatan permintaan. “Permintaan baru juga kembali meningkat, meskipun laju peningkatan hanya pada kisaran marginal,” jelasnya.

Namun demikian, kenaikan lemah pada penjualan dan penurunan lebih lanjut pada penumpukan pekerjaan menunjukkan bahwa ekspansi output yang kuat berhubungan dengan upaya produsen untuk menyelesaikan pesanan yang ditempatkan sebelumnya. “Perusahaan tetap enggan untuk berinvestasi pada kapasitas dan inventaris baru, dengan ketenagakerjaan pabrik dan aktivitas pembelian keduanya mengalami kontraksi pada tingkat solid,” tuturnya.

Ke depan, Bernard menilai keberlanjutan kenaikan output ini akan bergantung pada pemulihan permintaan yang lebih kuat. ACA