Perpanjangan PPKM Tidak Pengaruhi Pola Transaksi dan Konsumsi Masyarakat

Media Asuransi Pemerintah secara resmi memperpanjang Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) dari 26 Januari hingga 8 Februari 2021. Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) tidak memberikan dampak signifikan terhadap ekonomi masyarakat. Terlebih masyarakat sudah mulai terbiasa dengan pola konsumsi dan pola transaksi sepanjang pandemi Covid-19 melanda Indonesia dan global.

“Perubahannya tidak terlalu signifikan, PPMK berbeda dengan krisis-krisis lainnya dan masyarakat juga masih memiliki kemampuan untuk bangkit dengan diberikannya akses untuk melakukan kegiatan usahanya.  Terlebih pemerintah juga telah melakukan beragam upaya untuk meningkatkan ekonomi nasional dengan berbagai program yang digulirkannya,” kata Pengamat Ekonomi Universitas Sebelas Maret (UNS) Lukman Hakim kepada Media Asuransi, Jumat 22 Januari 2021.

Baca Juga: Pemerintah Targetkan 68 K/L Ikut Asuransi BMN pada 2021

Dari sisi inflasi, Direktur Indef Enny Sri Hartati mengungkapkan laju inflasi pada bulan Januari 2021 akan terjadi peningkatan sebesar 0,2 persen dibandingkan dengan bulan laju inflasi bulan Desember sebesar 0,45 persen. Peningkatan ini dipicu oleh adanya kenaikan harga pangan dan transportasi akibat adanya liburan panjang di akhir Desember 2020 hingga awal Januari 2021.

Enny Sri Hartati mengatakan pemicu laju inflasi di Januari 2021 tidak akan jauh berbeda dengan bulan Desember lalu, yang dipengaruhi kenaikan harga pangan terutama bahan pangan akan menjadi pengaruh hingga akhir Januari 2021. Adanya liburan panjang di akhir Desember 2020 dan awal tahun baru 2021 mendorong laju inflasi dari sisi sektor transportasi baik dari sisi harga tiket maupun harga bahan bakar.

“Seperti diketahui bersama, pola-pola peningkatan inflasi di bulan Januari. Ya kenaikannya sekitar 0,2 persen dibanding bulan Desember karena ada hubungannya dengan liburan panjang dan dari sisi transportasi,” kata Enny.

Menanggapi kembali diperpanjangnya PPMK yang telah diumumkan secara resmi, Enny mengaku diberlakukannya kembali PPMK merupakan wujud dari ketidakjujuran pemerintah dalam memandang Covid-19. Di mana, politisasi lebih kentara ketimbang dengan penelitian medis dan kesehatan.

“Kita lihat kebijakan pemerintah lebih dari pada mempertontonkan kebijakan bersifat politis mulai dari tingkat kementerian terhadap masalah Covid-19 ini. Saya kira pengaruhnya tidak akan terlalu besar sepanjang Covid-19 ini membatasi usaha masyarakat,” jelasnya.

Baca Juga: Akankah Revitalisasi Manufaktur Dorong Pertumbuhan Industri?

Sementara itu, dalam keterangannya secara virtual pada Kamis, 21 Januari 2021, Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo mengatakan kondisi pandemi Covid-19 saat ini berbeda dengan krisis yang pernah dihadapi sebelumnya, seperti krisis global dan krisis Asia. BI juga mencermati perkembangan sejak Desember 2020 sampai Januari 2021, bahwa terjadi peningkatan kasus penularan Covid-19 yang dipengaruhi adanya mobilitas masyarakat.

Meskipun demikian, adanya mobilitas pergerakan manusia pada Desember 2020-Januari 2021 tersebut berpengaruh terhadap aktivitas ekonomi. “Ekspor impor meningkat cukup tinggi. Ekspor ke China, AS, dan ASEAN terjadi kenaikan. Angka ini merupakan yang tertinggi sejak 2013, yakni mencapai US$ 15,5 miliar atau tumbuh 14,6 persen didukung oleh program pemulihan ekonomi nasional,” kata Perry.

Baca Juga: Siapkan Dana Cadangan Bencana, Indonesia–Bank Dunia Sepakati Pinjaman US$500 Juta.

Menurut Perry, ekspansi fiskal yang dilakukan pemerintah, lewat bantuan sosial dan penggelontoran belanja modal yang digunakan Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR), berpengaruh terhadap ekonomi Indonesia. BI memandang proyeksi perekonomian nasional 2021 berada di kisaran 4,8 persen-5,8 persen, dengan assessment yang dilakukan BI dari waktu ke waktu.

“Yang tadi berpengaruh adalah mobilitas adalah konsumsi, konsumsi akan terus naik tapi tingkatnya sedikit lebih rendah. Aktivitas perekonomian masih terus naik, berbagai indikator aktivitas perekonomian terus naik.  Kemudian ekspektasi keyakinan penjualan dan konsumen masih naik meski lebih rendah,” katanya. One