1
1

OJK Siapkan New RBC, Pialang Asuransi Buka Suara soal Dampaknya ke Industri!

Ketua Umum APPARINDO Yulius Bhayangkara. | Foto: Media Asuransi/Arief Wahyudi

Media Asuransi, JAKARTA – Rencana penerapan kerangka New Risk Based Capital (RBC) oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mendapat respons positif dari industri pialang asuransi. Kebijakan tersebut dinilai sebagai langkah penting untuk memperkuat fondasi permodalan sekaligus meningkatkan manajemen risiko di sektor asuransi nasional.

Ketua Umum APPARINDO Yulius Bhayangkara mengatakan secara prinsip industri pialang mendukung upaya regulator untuk memperkuat ketahanan sektor asuransi melalui pengembangan kerangka RBC yang lebih maju.

“Industri pada prinsipnya mendukung upaya OJK untuk memperkuat fondasi permodalan dan manajemen risiko industri asuransi melalui pengembangan kerangka RBC yang lebih maju,” ujar Yulius, kepada Media Asuransi, dikutip Selasa, 17 Maret 2026.

Ia menjelaskan penerapan New RBC pada dasarnya memiliki sejumlah tujuan utama bagi industri asuransi. Mulai dari memperkuat ketahanan finansial perusahaan hingga menyelaraskan standar industri domestik dengan praktik internasional.

|Baca juga: KB Bank (BBKP) Kucurkan PNM Rp500 Miliar untuk Perluas Akses Modal Jutaan Pelaku Usaha Mikro

|Baca juga: BI Catat Utang Luar Negeri Capai US$434,7 Miliar di Januari 2026

|Baca juga: Aktivitas Logistik dan Perjalanan Naik Jelang Lebaran, Bisnis Pialang Asuransi Ikut Terdongkrak

“New RBC pada dasarnya bertujuan untuk meningkatkan ketahanan finansial perusahaan asuransi, memperkuat risk management framework, serta menyesuaikan standar industri dengan praktik internasional,” jelasnya.

Menurut Yulius, dari perspektif pialang asuransi kebijakan tersebut memiliki dua sisi dampak, yakni positif sekaligus tantangan pada masa transisi. Dampak positifnya antara lain meningkatkan kredibilitas industri, memperkuat kapasitas underwriting perusahaan asuransi, serta mendorong meningkatnya kepercayaan pasar.

Di sisi lain, pada masa transisi beberapa perusahaan asuransi kemungkinan perlu melakukan penyesuaian portofolio risiko. Selain itu, terdapat potensi pengetatan underwriting pada sejumlah lini bisnis.

Meski demikian, ia menilai, dalam jangka panjang penerapan New RBC justru akan mendorong terciptanya industri asuransi yang lebih sehat dan berkelanjutan. Kondisi tersebut pada akhirnya juga dinilai akan mendukung perkembangan bisnis pialang asuransi di Indonesia.

Editor: Angga Bratadharma

| Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Related Posts
Prev Post BI Catat Jumlah Penukaran Uang Tembus 1,076 Juta Orang Jelang Lebaran 2026
Next Post Permata Bank Perkuat Komitmen untuk Dukung Ekonomi Sirkular dan UMKM Berkelanjutan

Member Login

or