Media Asuransi, JAKARTA – Eskalasi konflik di kawasan Timur Tengah terus menjadi perhatian berbagai sektor ekonomi di Indonesia, termasuk industri asuransi. Tidak hanya menjadi kewaspadaan, tetapi langkah antisipasi diperlukan guna meminimalisir dampak negatif yang muncul.
Meski berpotensi memengaruhi stabilitas ekonomi dan perdagangan internasional, namun dampaknya terhadap industri asuransi umum di Indonesia sejauh ini dinilai masih relatif terbatas, dan tidak mengganggu target kinerja asuransi secara signifikan.
Ketua Umum Asosiasi Asuransi Umum Indonesia (AAUI) Budi Herawan menjelaskan struktur portofolio industri asuransi umum di Indonesia masih didominasi oleh bisnis domestik. Hal tersebut membuat dampak langsung dari konflik geopolitik di luar negeri belum terlalu signifikan terhadap kinerja industri.
|Baca juga: Tri Pakarta Syariah Pede Cuan Asuransi di Indonesia Masih Lebar
|Baca juga: Perusahaan di Asia Pasifik Tinjau Kembali Cakupan Asuransi saat Terjadi Ledakan Biaya Inflasi Medis
“Namun demikian, untuk industri asuransi umum di Indonesia secara keseluruhan, dampak konflik ini diperkirakan masih relatif terbatas karena portofolio bisnis domestik masih cukup dominan,” ujar Budi, kepada Media Asuransi, dikutip Selasa, 10 Maret 2026.
Ia menambahkan industri asuransi juga memiliki fleksibilitas dalam melakukan penyesuaian kebijakan underwriting apabila terjadi perubahan profil risiko global. Meski demikian, Budi menegaskan, industri asuransi tetap perlu mencermati perkembangan situasi global secara berkelanjutan.
Apabila eskalasi konflik berlangsung lebih lama, kata Budi, dampaknya bisa merambat ke berbagai sektor ekonomi, termasuk stabilitas perdagangan internasional, rantai pasok, hingga pergerakan harga energi.
|Baca juga: Induk Usaha Rombak Pengurus, Komposisi Dewan Komisaris Adira Finance (ADMF) Bakal Berubah?
|Baca juga: Travel Insurance dan Personal Accident Diramal ‘Diserbu’ Masyarakat Jelang Idulfitri 2026
“Kondisi tersebut memang belum secara langsung mengganggu target kinerja industri secara signifikan, namun tetap perlu dimonitor apabila konflik berlangsung lebih lama dan berdampak pada stabilitas ekonomi global, perdagangan, maupun harga energi,” kata Budi.
Lebih lanjut, Budi menambahkan, dalam jangka pendek lini bisnis yang relatif paling sensitif terhadap perkembangan konflik adalah asuransi marine cargo, marine hull, serta energi.
Hal tersebut lantaran ketiga lini ini berkaitan langsung dengan aktivitas pelayaran internasional dan distribusi komoditas energi yang banyak melewati kawasan berisiko seperti Teluk Persia maupun Selat Hormuz.
Editor: Angga Bratadharma
| Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
