Media Asuransi, JAKARTA – Asosiasi Asuransi Umum Indonesia (AAUI) memperkirakan asuransi kargo laut akan bertahan dengan tren pertumbuhannya di 2026. Hal tersebut diyakini terjadi meskipun terdapat tekanan dan persaingan yang kuat.
Ketua Umum AAUI Budi Herawan mengungkapkan asuransi kargo laut memiliki kinerja yang tangguh sepanjang 2025, lantaran menunjukkan adanya ruang untuk ekspansi yang berkelanjutan. “Sektor kargo laut masih relatif tangguh meski ada persaingan tarif dan biaya logistik yang meningkat,” kata Budi, dikutip dari Asia Insurance Review, Rabu, 21 Januari 2026.
Berdasarkan data industri asuransi umum, premi kargo laut mencapai sekitar Rp4,1 triliun pada kuartal III/2025, mencerminkan pertumbuhan tahunan sekitar dua persen dibandingkan dengan periode yang sama tahun sebelumnya.
Ia mencatat kinerja asuransi muatan laut sangat erat kaitannya dengan pertumbuhan ekspor nasional. Perdagangan internasional yang sedang berlangsung mendorong permintaan akan perlindungan untuk melindungi pengiriman barang, baik untuk ekspor maupun impor.
|Baca juga: Juda Agung Mundur dari Deputi Gubernur BI, Istana dan DPR Proses Penggantinya
|Baca juga: BI Buka Suara tentang Pengunduran Diri Deputi Gubernur Juda Agung
|Baca juga: Saratoga Investama Sedaya (SRTG) Lego 750 Ribu Saham NRCA, Ada Apa?
Di sisi lain, campuran komoditas ekspor Indonesia yang didominasi oleh sektor mineral dan pertambangan termasuk bahan bakar mineral seperti batu bara dan nikel menunjukkan bahwa pengangkutan barang-barang bernilai tinggi melalui laut masih tetap aktif.
Akan tetapi, Budi memperingatkan sektor asuransi kargo laut akan terus menghadapi beberapa tantangan sehingga mengharuskan perusahaan asuransi menerapkan manajemen risiko yang lebih disiplin. Tekanan utamanya mencakup persaingan tarif yang ketat, nilai pengiriman yang berfluktuasi, ketidakpastian geopolitik, dan potensi gangguan pada rantai pasokan.
Lebih lanjut, perusahaan asuransi didorong untuk menerapkan strategi yang lebih dari sekadar menaikkan premi, tetapi juga menekankan pertumbuhan yang berkelanjutan dan seimbang.
Editor: Angga Bratadharma
| Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
