1
1

Allianz Indonesia: Hidup Sehat Bukan Tren, Kebiasaan Kecil Jadi Kunci Investasi Jangka Panjang

Public Figure, Runner, dan Wellness Enthusiast  Melanie Putria. | Foto: Allianz Indonesia

Media Asuransi JAKARTA – Di tengah padatnya rutinitas kerja modern, menjaga kesehatan kerap terabaikan dan baru menjadi perhatian saat tren bermunculan. Padahal, pola hidup sehat tidak seharusnya menunggu waktu luang. Lebih dari sekadar tren, kesehatan adalah investasi jangka panjang yang dibangun dari konsistensi menjalani kebiasaan kecil setiap hari.

“Di tengah rutinitas kerja yang padat, kesehatan sering jadi prioritas terakhir atau baru dipikirkan ketika ada tren. Kami ingin menggeser cara pandang itu, bahwa hidup sehat bukan sesuatu yang menunggu waktu luang, tapi harus dibangun dari kebiasaan kecil dilakukan setiap hari. Ini bukan soal tren sementara, tapi investasi jangka panjang,” kata Chief People & Culture Allianz Life Indonesia Nina Hatumena dalam momentum World Health Day bertema “Together for Health, Stand with Science” yang digelar oleh Allianz Indonesia.

Dalam hal ini Allianz Indonesia menghadirkan inisiatif wellbeing untuk mendorong gaya hidup sehat yang lebih realistis dan berbasis bukti.

|Baca juga: Allianz Indonesia: Kasus Penyakit Kritis Meningkat di Kalangan Usia di Bawah 45 Tahun

Sejalan dengan perkembangan dunia digital dan sosial media saat ini semakin mendominasi kehidupan masyarakat, penyebaran informasi kesehatan yang tidak akurat ini juga menjadi satu hal yang patut dicermati, sebagaimana disoroti oleh World Health Organization. Akibatnya, banyak masyarakat, terutama pekerja dengan mobilitas tinggi terjebak pada tren kesehatan instan yang tidak berkelanjutan.

Pada kesempatan itu, Public Figure, Runner, dan Wellness Enthusiast  Melanie Putria, menyoroti kesalahpahaman umum terkait aktivitas fisik sehari-hari. “Banyak orang merasa sudah cukup aktif karena aktivitas harian seperti beres-beres rumah atau berjalan saat menggunakan transportasi umum. Padahal itu termasuk Non-Exercise Physical Activity (NEPA), yaitu aktivitas fisik non-olahraga,” ujarnya dikutip dari keterangan resmi, Rabu, 8 April 2026.

|Baca juga: 3 Penyakit Terbanyak Usai Lebaran Versi Allianz Indonesia

Melanie menjelaskan bahwa aktivitas seperti berjalan ke stasiun, berdiri di KRL, atau naik tangga memang bermanfaat bagi tubuh, namun belum dapat menggantikan olahraga yang terstruktur dan terukur. Ia juga menekankan empat pilar utama gaya hidup sehat, yaitu olahraga, nutrisi, istirahat & recovery, serta manajemen stres.

Sementara itu, Nutritionist & Health Expert Itsbuah, Rinta Agustiani Dwiputra, S.Gz, M.M, menekankan bahwa tantangan terbesar dalam menerapkan gaya hidup sehat saat ini bukan pada kurangnya informasi, melainkan kesalahan dalam memahami dan memilih informasi yang tepat.

“Banyak orang ingin hidup sehat, tapi terjebak pada tren atau solusi instan yang belum tentu sesuai dengan kebutuhan tubuhnya. Akibatnya, hasilnya tidak bertahan lama, bahkan bisa berdampak sebaliknya,” jelasnya.

|Baca juga: Perbedaan Asuransi Penyakit Kritis dan Kesehatan dari Allianz Indonesia yang Wajib Anda Tahu

Ia mencontohkan fenomena yang sering terjadi saat seseorang mengikuti tren diet tanpa pemahaman tepat yang dapat mengganggu metabolisme tubuh, seperti efek yoyo, yaitu kondisi ketika berat badan turun drastis dalam waktu singkat, namun kembali naik dengan cepat, bahkan bisa lebih tinggi dari sebelumnya.

Rinta juga menegaskan bahwa pendekatan sederhana justru lebih efektif untuk pekerja urban, selama dilakukan secara konsisten. Beberapa kebiasaan yang dapat diterapkan antara lain: pola makan seimbang, aktivitas fisik rutin, tidur berkualitas, micro-break setiap 90 menit dan power nap 15–20 menit.

Data World Health Organization menunjukkan bahwa 154 juta nyawa telah terselamatkan melalui imunisasi, atau setara dengan 6 nyawa setiap menit selama 50 tahun terakhir. Hal ini menegaskan bahwa di tengah derasnya tren kesehatan, intervensi berbasis bukti tetap menjadi fondasi utama dalam menjaga kesehatan masyarakat, termasuk bagi mereka yang berada di usia produktif.

Di tengah dunia kerja yang serba cepat, tren boleh datang dan pergi, namun kesehatan hanya bisa dibangun melalui langkah yang konsisten, realistis, dan berbasis sains.

Editor: S. Edi Santosa

| Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Related Posts
Prev Post BI: 2025 Tahun sulit, tapi Ekonomi RI Tetap Tumbuh 5,11%
Next Post Herry Triyatno: Putuskan Spin-off Sebelum POJK 4/2023

Member Login

or