Media Asuransi, JAKARTA – Country Manager & Direktur Utama Allianz Life Indonesia Alexander Grenz menyebutkan di tengah derasnya arus informasi dan disrupsi digital, kolaborasi yang kuat antara industri dan media menjadi fondasi untuk menjaga kredibilitas dan memperkuat literasi.
“Allianz Indonesia berkomitmen untuk terus menjadi bagian dari solusi dalam membangun ekosistem informasi yang bertanggung jawab dan berintegritas,” ujar Alexander Grenz dikutip dari keterangan tertulisnya, Kamis, 26 Februari 2026.
Berangkat dari kondisi itu, di tengah perubahan lanskap media dan pergeseran pola konsumsi informasi masyarakat, Allianz Indonesia kembali menggelar Media Appreciation Night – Special Ramadan Reflection & Insight bersama pemimpin redaksi media yang bertemakan ‘Trust in Goodness, United in ONE Harmony‘.
Acara itu menegaskan pentingnya membangun kepercayaan melalui itikad baik dan kolaborasi guna mewujudkan hubungan yang harmonis antara industri, media, dan masyarakat.
Allianz Indonesia menilai peran media yang kredibel serta komunikasi yang transparan dan bertanggung jawab menjadi semakin krusial dalam menjaga stabilitas informasi dan meningkatkan literasi masyarakat.
|Baca juga: WOM Finance (WOMF) Guyur Dana Jumbo ke Maybank, untuk Apa?
|Baca juga: Maybank Indonesia (BNII) Salurkan Kredit Rp123,64 Triliun di 2025
Hal itu diperlukan dalam rangka menghadapi tantangan untuk membangun kepercayaan di era digital yang ditandai dengan fenomena post-truth, di mana opini dan persepsi kerap berkembang lebih cepat dibandingkan dengan fakta yang terverifikasi.
Dalam gelaran tahun ini, Allianz Indonesia menghadirkan dua narasumber inspiratif, yaitu Ipang Wahid, Founder of Ipang Wahid Stratejik (IPWS) dan Ust. Dr. Fahruddin Faiz, filsuf dan akademisi filsafat Islam, yang membahas pentingnya trust dari perspektif komunikasi strategis serta nilai-nilai etika dalam kehidupan modern.
Dalam acara itu, Founder of Ipang Wahid Stratejik (IPWS) Ipang Wahid mengangkat perception engineering sebagai pendekatan strategis dalam merespons tantangan post-truth.
Ia menjelaskan bagaimana persepsi publik terhadap korporasi, pemerintah, maupun figur publik kerap terbentuk dari narasi yang terfragmentasi, terutama melalui media sosial dan kanal digital. Menurutnya di era post-truth, fakta saja tidak lagi cukup. Institusi harus mampu mengelola persepsi secara strategis
“Karena persepsi yang tidak dikelola akan dikelola oleh opini. Perception engineering bukan sekadar strategi komunikasi, tetapi upaya sistematis untuk memastikan kebenaran tetap memiliki ruang dan suara. Bagi industri asuransi dan media yang bertumpu pada kepercayaan, ini bukan pilihan, melainkan keharusan,” ujar Ipang Wahid.
Ia juga menekankan media memiliki peran sentral dalam membentuk dan menjaga trust publik. Di tengah pergeseran konsumsi informasi dari media arus utama ke media sosial dan kanal digital, kolaborasi antara industri dan media dinilai semakin relevan.
“Untuk memastikan masyarakat memperoleh informasi yang akurat, kontekstual, dan bertanggung jawab,” pungkasnya.
Editor: Angga Bratadharma
| Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
