Media Asuransi, JAKARTA – Head of Product Marketing & Development Allianz Life Syariah Indonesia Rina Triana mencatat total pembayaran klaim penyakit kritis sepanjang 2025 sebesar Rp600 miliar. Klaim tersebut dengan jumlah kasus sebanyak 2.600 hanya dalam setahun pada tahun lalu.
“Jadi kita cuma bicara tentang penyakit kritis saja, sampai 2025, kita telah membayarkan (klaim) sebesar Rp600 miliar dengan 2.600 kasus dalam satu tahun,” kata Rina, dalam Konferensi Pers & Talk Show AlliSya CI Hasanah, di Jakarta, Rabu, 4 Maret 2026.
|Baca juga: Allianz Syariah Hadirkan AlliSya CI Hasanah, Wujud Ikhtiar Jaga Jiwa dan Keuangan Keluarga
|Baca juga: Jelang THR, Nasabah Bank Jago Lebih Banyak Siapkan Kantong Buat Bayar Utang
Rina mengakui penyakit kritis sudah semakin banyak kejadiannya. Bahkan, dirinya membeberkan fakta dan data bahwa dari 2.600 kasus tersebut sebanyak 67 persen disumbangkan oleh tiga penyakit kritis. Kondisi ini tentu mengkhawatirkan dan perlu ada upaya mengantisipasi dan memproteksi.
“Nah yang mengejutkan adalah pertama, dari 2.600 kasus itu 67 persen itu terjadi penyakit kritisnya dari tiga penyakit kritis. Jantung, kanker, dan stroke. (Ketiga penyakit ritis) itu sudah berkontribusi 67 persen di 2.600 kasus,” tukasnya.
Fakta dan data kedua, dari sekitar 40 persen dari total 2.600 kasus tersebut terjadi di usia di bawah 45 tahun. Kondisi ini mengartikan penyakit kritis juga berisiko kepada mereka yang masih muda, dan tidak hanya berlaku bagi mereka yang sudah tua.
|Baca Juga: Sompo Indonesia Ramal Asuransi Perjalanan Terdampak Jika Perang AS-Israel dan Iran Berkepanjangan
|Baca Juga: OJK Geledah Kantor PT MASI Terkait Dugaan Tindak Pidana Pasar Modal
“Jadi kita menyadari yang namanya muda itu tidak berarti kebal terhadap penyakit kritis. Karena penyakit kritis sudah tidak lagi menunggu usia lanjut. Itu satu hal yang nyata yang benar-benar semakin waktu ini semakin mendatangi usia yang muda,” ucapnya.
Penyakit kritis jadi ancaman nyata
Penyakit kritis masih menjadi ancaman nyata bagi masyarakat Indonesia, bukan hanya dari sisi kesehatan, tetapi juga terhadap stabilitas finansial keluarga. Ketika risiko tersebut terjadi, yang terdampak bukan hanya kondisi medis, melainkan juga hilangnya penghasilan, terganggunya rencana keuangan, hingga perubahan kualitas hidup.
Data Global Cancer Observatory (GLOBOCAN) mencatat 408 ribu kasus kanker baru dan 242 ribu kematian di Indonesia sepanjang 2022, dengan proyeksi kenaikan kasus hingga 63 persen pada periode 2025–2040.
Sementara itu, data Kementerian Kesehatan RI tahun 2023 menunjukkan prevalensi stroke mencapai 8,3 per mil penduduk dan meningkat signifikan pada usia lanjut. Stroke bahkan menjadi penyebab kematian tertinggi sekaligus penyebab disabilitas terbesar di Indonesia.
Fenomena ini tidak lagi hanya menyerang kelompok lansia. Data internal Allianz Life Indonesia sepanjang 2025 menunjukkan total klaim penyakit kritis mencapai Rp600 miliar, dengan 40 persen klaim berasal dari nasabah berusia di bawah 45 tahun, yaitu kelompok usia produktif.
Angka ini meningkat 11 persen dibandingkan dengan tahun sebelumnya. Artinya, risiko penyakit kritis kini semakin dekat dengan generasi aktif yang menjadi tulang punggung keluarga.
Editor: Angga Bratadharma
| Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
