Media Asuransi, JAKARTA – Head of Product Marketing & Development Allianz Life Syariah Indonesia Rina Triana menilai sebaiknya seseorang tidak hanya memilih asuransi kesehatan saja atau hanya asuransi penyakit kritis semata. Pasalnya, keduanya mempunyai perbedaan karakteristik.
|Baca juga: Allianz Syariah Hadirkan AlliSya CI Hasanah, Wujud Ikhtiar Jaga Jiwa dan Keuangan Keluarga
“Sebenarnya memang tergantung kemampuan ya. Cuman memang sebenarnya sebagai proteksi, fungsi dari antara asuransi kesehatan dan asuransi penyakit kritis itu berbeda. Jadi sebaiknya diambil dua-duanya,” kata Rina, dalam Konferensi Pers & Talk Show AlliSya CI Hasanah, di Jakarta, Rabu, 4 Maret 2026.
Dirinya menggambarkan seperti gunung es ada yang berada di lautan. “Kalau kita lihat gunung es itu kelihatan kan. Nah itu semacam kayak asuransi kesehatan di mana semua orang aware dan sadar perlu asuransi kesehatan. Itu seperti kita melihat gunung, langsung kelihatan,” ucapnya.
Akan tetapi, lanjutnya, seseorang tidak bisa melihat di bawah gunung yang cukup dalam. Ketika seseorang melihat di bawah gunung itu diibaratkan seperti melihat penyakit kritis. Pasalnya, akan ada banyak biaya-biaya yang tidak ditanggung oleh asuransi kesehatan.
|Baca juga: Allianz Syariah: Asuransi Kesehatan Saja Tidak Cukup, Perlu Proteksi Penyakit Kritis
“Contoh misalnya dengan santunan Rp1 miliar. Kan biasanya kalau orang penyakit kritis itu pasti ada masa pemulihan. Kalau misalnya kayak penghasilan bisnis dua bulan (masa pemulihan) itu kan lumayan. Di situlah fungsinya asuransi penyakit kritis sebagai income replacement. Sebagai pengganti selama masa pemulihan,” jelasnya.
Penyakit kritis jadi ancaman nyata
Penyakit kritis masih menjadi ancaman nyata bagi masyarakat Indonesia, bukan hanya dari sisi kesehatan, tetapi juga terhadap stabilitas finansial keluarga. Ketika risiko tersebut terjadi, yang terdampak bukan hanya kondisi medis, melainkan juga hilangnya penghasilan, terganggunya rencana keuangan, hingga perubahan kualitas hidup.
Data Global Cancer Observatory (GLOBOCAN) mencatat 408 ribu kasus kanker baru dan 242 ribu kematian di Indonesia sepanjang 2022, dengan proyeksi kenaikan kasus hingga 63 persen pada periode 2025–2040.
Sementara itu, data Kementerian Kesehatan RI tahun 2023 menunjukkan prevalensi stroke mencapai 8,3 per mil penduduk dan meningkat signifikan pada usia lanjut. Stroke bahkan menjadi penyebab kematian tertinggi sekaligus penyebab disabilitas terbesar di Indonesia.
|Baca juga: Allianz Syariah Bayar Klaim Penyakit Kritis Rp600 Miliar di 2025, Dikontribusikan 3 Penyakit Ini!
|Baca juga: Allianz Syariah: Asuransi Kesehatan Saja Tidak Cukup, Perlu Proteksi Penyakit Kritis
Fenomena ini tidak lagi hanya menyerang kelompok lansia. Data internal Allianz Life Indonesia sepanjang 2025 menunjukkan total klaim penyakit kritis mencapai Rp600 miliar, dengan 40 persen klaim berasal dari nasabah berusia di bawah 45 tahun, yaitu kelompok usia produktif.
Angka ini meningkat 11 persen dibandingkan dengan tahun sebelumnya. Artinya, risiko penyakit kritis kini semakin dekat dengan generasi aktif yang menjadi tulang punggung keluarga.
Editor: Angga Bratadharma
| Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
