Media Asuransi, JAKARTA – Asosiasi Perusahaan Pialang Asuransi dan Reasuransi Indonesia (APPARINDO) menegaskan penguatan kapasitas internal dan perluasan kolaborasi eksternal sebagai strategi utama dalam menghadapi tantangan industri asuransi yang kian kompleks.
Ketua Umum APPARINDO Yulius Bhayangkara menilai pialang asuransi dituntut untuk tidak hanya berperan sebagai perantara transaksi, tetapi juga mampu memberikan solusi berbasis analisis risiko dan data yang kuat. Karena itu, asosiasi memperkuat fondasi internal melalui pembentukan sejumlah departemen baru.
“Fokus utama periode ini memang penguatan kapasitas. Salah satunya dengan membentuk departemen riset yang sebelumnya belum ada,” kata Billy, sapaan akrabnya, dalam konferensi pers di Jakarta, Selasa, 10 Februari 2026.
Menurutnya, riset menjadi instrumen penting agar asosiasi memiliki analisis ilmiah dalam merespons isu industri. Billy menjelaskan keberadaan departemen riset memungkinkan APPARINDO untuk menilai berbagai tantangan secara objektif, termasuk dampak teknologi dan kecerdasan buatan terhadap peran pialang asuransi.
“Kalau ada yang bilang nanti pialang tidak kepakai karena AI, itu harus kita cek secara ilmiah, pakai data dan benchmarking, bukan sekadar asumsi,” ujarnya.
Selain riset, APPARINDO juga memperkuat fungsi teknologi informasi dan statistik untuk mendukung pengambilan keputusan berbasis data. Langkah ini dinilai penting agar pialang asuransi mampu mengikuti perubahan ekosistem industri keuangan.
|Baca juga: Direktur BFI Finance Sutadi Borong 1,18 Juta Saham BFIN, Jadi Pengendali?
|Baca juga: Astra Sedaya Finance Siapkan Rp1,52 Triliun untuk Pelunasan Obligasi Jatuh Tempo
Di sisi lain, APPARINDO menaruh perhatian besar pada kolaborasi eksternal. Billy menyebut, asosiasi aktif membangun hubungan dengan berbagai pemangku kepentingan, baik di dalam negeri maupun internasional.
“Kami tidak hanya duduk di dalam cangkang. Kami berkolaborasi di ekosistem perasuransian yang lebih besar,” katanya.
Beberapa kerja sama yang dijajaki antara lain dengan broker internasional serta lembaga asuransi global, termasuk diskusi dengan pelaku industri di London dan Singapura. Dengan kolaborasi ini Yulius berharap dapat memperluas perspektif dan meningkatkan daya saing pialang nasional.
APPARINDO juga mendorong peningkatan kompetensi sumber daya manusia melalui Lembaga Sertifikasi Profesi Perasuransian (LSPP). Melalui lembaga tersebut, anggota APPARINDO difasilitasi untuk memperoleh sertifikasi sesuai standar Badan Nasional Sertifikasi Profesi (BNSP).
“Pialang asuransi itu bukan jual produk, bukan makelar, apalagi calo. Kita ini menganalisa risiko dan memberi solusi,” tegas Billy.
Ia menambahkan pendekatan berbasis solusi inilah yang menjadi kunci peningkatan nilai tambah industri. Billy menilai relevansi pialang asuransi dengan sektor lain akan mendorong peningkatan literasi dan inklusi asuransi.
“Karena kita relevan, kita engage. Karena kita engage, kita bisa kasih solusi. Dari situ value tercipta,” ujarnya.
APPARINDO optimistis, dengan strategi tersebut, industri pialang dapat berkontribusi lebih besar terhadap pertumbuhan asuransi nasional sekaligus menjawab proyeksi peningkatan aset industri asuransi dalam beberapa tahun ke depan.
Editor: Angga Bratadharma
| Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
