1
1

Asuransi Jiwa Beralih ke SBN saat IHSG-Rupiah Lesu, Bos Ajaib: untuk Dapatkan Pendapatan Lebih

President Director Ajaib Juliana. | Foto: Ajaib

Media Asuransi, JAKARTA – Pelemahan nilai tukar rupiah dan terjadinya volatilitas di pasar saham sehingga berpengaruh terhadap pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mendorong pelaku industri keuangan untuk meninjau kembali strategi investasinya.

Bahkan sejumlah perusahaan asuransi jiwa terpantau sudah mulai mengalihkan sebagian portofolio investasinya dari saham ke instrumen yang lebih stabil seperti Surat Berharga Negara (SBN).

Menanggapi fenomena tersebut, President Director Ajaib Juliana menilai, keputusan pengalihan portofolio investasi pada dasarnya kembali kepada strategi masing-masing perusahaan, termasuk pertimbangan risiko dan peluang di pasar.

Meski terdapat kecenderungan beberapa pelaku industri mengambil langkah yang serupa, namun setiap institusi tetap memiliki pendekatan investasi yang berbeda sesuai dengan kebijakan internal dan profil investornya.

|Baca juga: Permata Bank (BNLI) Tak Ubah Fokus Bisnis 2026 Meski Ekonomi Global Penuh Tantangan

|Baca juga: Ajaib Tekankan Penguatan Edukasi untuk Investor saat Konflik Timur Tengah Membara

|Baca juga: Dampak Konflik Timur Tengah Berpotensi Masuk ke Indonesia? Begini Kata Ajaib!

“Kalau dari sisi kita pastinya itu berkaca lagi kepada masing-masing perusahaan. Mereka kan pasti punya penilaian masing masing. Walau memang ada kecenderungan untuk melakukan hal yang serupa,” kata Juliana, di Jakarta, akhir pekan lalu.

Dalam praktiknya, ia menjelaskan, keputusan pengalokasian investasi biasanya didasarkan pada analisis terhadap peluang pasar yang dinilai mampu memberikan imbal hasil optimal. Oleh karena itu, tidak jarang pelaku industri melakukan perubahan strategi sebelum tren terlihat secara luas di pasar.

Juliana mencontohkan pengalamannya ketika berdiskusi dengan salah satu manajer investasi yang produknya juga tersedia di platform Ajaib. Menurutnya, manajer investasi tersebut telah lebih dulu melakukan penyesuaian portofolio berdasarkan potensi sektor yang diperkirakan mengalami kenaikan.

“Mereka menyatakan ‘Oh iya ini loh yang akan kita lakukan Di produknya kita ini’, karena kita melihat ada potensi ini di pasar bahkan sebelum harganya itu naik. Makanya kita (melakukan) switch ke industri tertentu,” ungkapnya.

|Baca juga: Permata Bank (BNLI) Perkuat Unit Usaha Syariah, Siap Spin-Off?

|Baca juga: Ekonom Permata Bank: Pimpinan Baru OJK Harus Segera Pulihkan Kepercayaan Pasar

Langkah tersebut, lanjutnya, kerap menjadi salah satu faktor yang membuat kinerja suatu produk investasi bisa meningkat secara signifikan dalam waktu tertentu. Juliana menilai pola yang dilakukan manajer investasi tersebut juga dapat menjadi gambaran bagi pelaku industri lain.

Hal itu, lanjutnya, termasuk perusahaan asuransi jiwa dalam mengelola portofolio investasinya di tengah dinamika pasar. Namun, dirinya menekankan, perusahaan biasanya tetap menjaga keseimbangan antara aset yang bersifat stabil dengan instrumen yang memiliki potensi pertumbuhan lebih tinggi.

“Biasanya memang pasti akan ada komposisi untuk bertahan atau surviving, untuk memastikan ini bisa stabil. Sementara di sisi lainnya ada aset-aset yang dialokasikan untuk bisa memberikan kualitas dan kelonggaran perusahaan mendapatkan pendapatan yang lebih dan lain-lain,” pungkas Juliana.

Editor: Angga Bratadharma

| Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Related Posts
Prev Post AAUI Dorong Program Penjaminan Polis Segera Berjalan Demi Pulihkan Kepercayaan Publik
Next Post Investor Institusional Mulai Hengkang dari Pasar Modal, Begini Kata Bos Ajaib!

Member Login

or