Media Asuransi, GLOBAL – GlobalData memproyeksikan pasar asuransi risiko politik akan mengalami peningkatan tajam dalam permintaan. Hal itu terjadi di tengah meningkatnya ketegangan antara Amerika Serikat (AS), Israel, dan Iran di Timur Tengah.
Melansir Insurance Asia, Selasa, 31 Maret 2026, konflik ini berdampak pada sektor-sektor utama termasuk perhotelan, energi dan infrastruktur, aset-aset seperti hotel, pusat data, dan jaringan pipa yang dipandang rentan terhadap serangan rudal dan insiden pesawat tak berawak.
Meskipun ketegangan geopolitik telah meningkatkan permintaan akan asuransi siber sejak dimulainya perang Rusia-Ukraina, namun data survei GlobalData menunjukkan minat terhadap perlindungan risiko politik juga meningkat dengan kecepatan yang sama.
|Baca juga: Mayoritas Anggota AFPI Siap Ajukan Banding terkait Putusan KPPU
|Baca juga: Begini Respons OJK tentang Putusan KPPU di Dugaan Kasus Kartel Suku Bunga Pindar
Sebuah jajak pendapat yang dilakukan di berbagai situs Verdict Media pada kuartal ketiga dan keempat 2025 menemukan meski sebagian besar profesional asuransi memperkirakan asuransi siber mendapatkan permintaan tertinggi, namun sekitar satu dari empat responden percaya asuransi risiko politik juga tumbuh signifikan.
Di sisi lain, permintaan akan asuransi rantai pasokan juga diperkirakan meningkat karena gangguan pada rute pelayaran utama. Insiden baru-baru ini menyoroti risikonya, dengan serangan rudal dilaporkan terjadi di beberapa bagian wilayah tersebut, termasuk kerusakan pada Fairmont di hotel Palm di Dubai.
Daerah antara Israel dan Iran dipandang sangat rentan terhadap aktivitas rudal dan jatuhnya puing-puing dari pesawat tak berawak yang dicegat. Analis Asuransi Senior GlobalData Ben Carey-Evans mengatakan asuransi risiko politik menjadi lebih penting bagi bisnis yang beroperasi di dekat zona konflik.
|Baca juga: Segarkan Jajaran Manajemen, Victoria Insurance Resmi Tunjuk Sekretaris Perusahaan Baru
|Baca juga: Victoria Insurance (VINS) Dapat Suntikan Modal Jumbo dari Victoria Investama (VICO), Ini Tujuannya!
Hal itu karena kebijakan standar sering kali mengecualikan kerusakan akibat perang. Kondisi ini berarti kerugian akibat serangan militer mungkin tidak tercakup dalam asuransi properti tradisional atau gangguan bisnis, dan klaim dapat menghadapi sengketa hukum.
Dirinya menambahkan risiko kerusakan akibat rudal yang dicegat atau serangan yang tidak disengaja masih tinggi di lokasi seperti Uni Emirat Arab dan Qatar, sehingga meningkatkan kebutuhan akan perlindungan khusus.
Editor: Angga Bratadharma
| Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
