Media Asuransi, GLOBAL – Kalangan orang kaya di Asia ternyata masih menghadapi celah besar dalam perencanaan warisan. Meski mayoritas sudah sadar pentingnya legacy planning, namun banyak yang belum benar-benar mengambil langkah nyata.
Dilansir dari Insurance Asia, Selasa, 31 Maret 2026, laporan HSBC Life menunjukkan sekitar tiga perempat individu dengan kekayaan tinggi atau High-Net-Worth Individuals (HNWI) sudah memahami dan berencana melakukan perencanaan warisan. Namun, sekitar tiga dari lima responden masih belum memiliki struktur perencanaan yang jelas.
Kondisi ini menciptakan potensi risiko yang cukup besar. Dari tota kekayaan bersih sekitar US$ 9,9 miliar, sebanyak US$ 5,7 miliar di antaranya masih belum terlindungi karena belum adanya perencanaan yang konkret.
|Baca juga: Jajaran Petinggi BCA Kompak Borong Saham BBCA untuk Investasi Jangka Panjang
|Baca juga: Segarkan Jajaran Manajemen, Victoria Insurance Resmi Tunjuk Sekretaris Perusahaan Baru
Dalam praktiknya, asuransi jiwa kini mulai menjadi pilihan utama dalam perencanaan warisan. Instrumen ini bahkan menggeser metode tradisional seperti wasiat yang sebelumnya lebih umum digunakan.
Survei yang melibatkan lebih dari 900 orang kaya di sembilan pasar Asia dan Timur Tengah menunjukkan satu dari empat responden memilih asuransi sebagai alat utama perencanaan warisan. Sementara itu, hanya satu dari lima yang masih mengandalkan wasiat.
Penggunaan asuransi jiwa sebagai alat perencanaan ini bervariasi di tiap negara, dengan tingkat adopsi berkisar antara 17 persen hingga 35 persen. India, Thailand, dan Indonesia termasuk negara dengan penggunaan yang relatif lebih tinggi.
|Baca juga: OJK Ungkap Tantangan yang Pengaruhi Dana Pensiun di 2026
Dari sisi demografi, kelompok usia muda terlihat lebih aktif dalam mempersiapkan perencanaan warisan.
Responden berusia 30 hingga 39 tahun cenderung sudah mulai mencari informasi, sementara lebih dari separuh responden berusia di atas 60 tahun justru belum memiliki rencana yang jelas. Secara rata-rata, perencanaan warisan mulai dilakukan pada usia 45 tahun.
Faktor utama yang mendorong kesadaran ini adalah kondisi ekonomi dan keuangan global yang tidak stabil, yang disebut oleh sekitar 45 persen responden. Selain itu, peran penasihat keuangan juga cukup berpengaruh, terutama bagi kelompok usia muda. Sementara faktor seperti pernikahan atau kelahiran anak tidak terlalu dominan.
|Baca juga: Begini Respons OJK tentang Putusan KPPU di Dugaan Kasus Kartel Suku Bunga Pindar
|Baca juga: Bos OJK Perkirakan Inflasi Medis Masih Jadi Tantangan Utama Industri Asuransi RI
Dalam memilih lokasi untuk mengelola perencanaan warisan, mayoritas responden cenderung memilih pusat keuangan internasional. Sekitar 94 persen memilih wilayah seperti Hong Kong, Singapura, dan Uni Emirat Arab. Di sisi bisnis, HSBC Life mencatat pertumbuhan signifikan dari segmen nasabah kaya sepanjang 2025.
Perusahaan menerbitkan 456 polis legacy dengan nilai masing-masing di atas US$ 10 juta, atau tumbuh lebih dari dua kali lipat dibanding tahun sebelumnya. Segmen ini juga mendorong peningkatan contractual service margin bisnis baru menjadi US$ 3,4 miliar, naik 35 persen secara tahunan.
Editor: Angga Bratadharma
| Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
