Media Asuransi, GLOBAL – Meningkatnya biaya asuransi dan kontrol yang terjadi lebih ketat saat transit di Selat Hormuz memaksa pemilik kapal memikirkan kembali sistem pelayaran. Hal tersebut membuat akses semakin ditentukan oleh risiko, biaya, dan koordinasi.
Melansir Euronews, Rabu, 1 April 2026, kapal-kapal yang mencoba melintasi Selat Hormuz harus semakin berkoordinasi dengan pihak berwenang di Iran. Hal itu lantaran meningkatnya risiko dan melonjaknya biaya asuransi mengubah cara lalu lintas melintasi jalur air tersebut, yakni akses tidak lagi mudah bagi banyak kapal.
Thailand mengungkapkan salah satu kapal tanker minyaknya yang dimiliki oleh Bangchak Corporation telah melewati selat tersebut setelah melakukan pembicaraan dengan pihak berwenang Iran. Sementara kapal kedua masih menunggu izin bersama dengan kapal-kapal lain yang mencari transit yang aman.
|Baca juga: Jajaran Petinggi BCA Kompak Borong Saham BBCA untuk Investasi Jangka Panjang
Serangan baru-baru ini dan ketidakpastian yang terus berlanjut telah membuat pemilik kapal memutuskan apakah akan memasuki perairan tersebut atau tidak, dan keputusan tersebut kini ditentukan oleh risiko keselamatan dan kenaikan biaya.
Premi asuransi risiko perang telah melonjak sejak eskalasi dimulai pada 28 Februari, dan tarifnya meningkat beberapa kali lipat dalam hitungan minggu. Editor Keuangan Lloyd’s List David Osler mengatakan sebelum pertempuran, tarif rerata Selat Hormuz adalah 0,15-0,25 persen dari nilai lambung kapal untuk kebijakan satu minggu.
“(Namun) sejak konflik dimulai, tarifnya mencapai lima hingga 10 persen dari nilai lambung kapal,” kata David.
Untuk kapal pengangkut minyak mentah berukuran besar yang bernilai sekitar US$100 juta (€90 juta), hal ini berarti biaya tambahan beberapa juta euro untuk sekali transit. Asuransi masih tersedia, namun sering kali pada tingkat yang membuat transit menjadi jauh lebih mahal dan sulit untuk dibenarkan.
|Baca juga: Bos AAUI Pede Industri Asuransi Dapat ‘Berkah’ di Mudik Lebaran 2026
|Baca juga: Kasus Jiwasraya hingga Wanaartha Disebut Kegagalan Sistemik Industri Asuransi
|Baca juga: Allianz Life Indonesia Upayakan Produk Asuransi Tetap Relevan dengan Kebutuhan Pasar
“Jika mereka ingin melakukan perjalanan –dan dapat menemukan kru yang bersedia melakukan pekerjaan tersebut– mereka tidak akan terhambat karena kurangnya asuransi,” ucapnya.
Sebaliknya, keputusan sebagian besar didorong oleh masalah keselamatan. Pakar Kelautan Mustapha Zehhaf mengatakan beberapa perusahaan pelayaran menghindari selat itu karena risikonya. Ia mengatakan kapal-kapal yang melakukan transit sedang menyesuaikan rutenya dan, dalam beberapa kasus, berlayar lebih dekat ke pantai Iran.
Di sisi lain, biaya asuransi yang lebih tinggi dan risiko keamanan memaksa pemilik kapal untuk mempertimbangkan kembali apakah akan transit di selat tersebut. Jika situasi ini terus berlanjut maka hal tersebut akan menimbulkan guncangan pasokan bagi pasar energi global.
Editor: Angga Bratadharma
| Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
