Media Asuransi, JAKARTA – Rendahnya minat masyarakat Indonesia terhadap produk asuransi masih menjadi pekerjaan rumah besar bagi industri keuangan khususnya perasuransian.
Direktur Hukum dan Kepatuhan PT AIA Financial Rista Qatrini Manurung mengungkapkan persoalan tersebut tidak berdiri sendiri, melainkan dipengaruhi oleh sejumlah faktor sosial yang saling berkaitan. Ia menegaskan akar utama dari persoalan ini adalah minimnya pemahaman masyarakat terhadap produk keuangan, khususnya asuransi.
“Banyak sekali aspeknya. Tapi beberapa pertanyaan secara singkat jawabannya satu, bahwa rendahnya literasi masyarakat Indonesia akan produk keuangan, termasuk di dalamnya terlebihnya adalah untuk produk asuransi,” ujar Rista dalam sidang promosi doktoralnya di Jakarta, Senin, 30 Maret 2026.
Selain faktor literasi, sentimen negatif terhadap industri asuransi juga dinilai turut memperburuk persepsi publik. Menurutnya, maraknya keluhan terkait klaim serta pemberitaan media membuat kepercayaan masyarakat terhadap asuransi semakin tergerus.
|Baca juga: Jajaran Petinggi BCA Kompak Borong Saham BBCA untuk Investasi Jangka Panjang
|Baca juga: Segarkan Jajaran Manajemen, Victoria Insurance Resmi Tunjuk Sekretaris Perusahaan Baru
Rista menjelaskan, kondisi ini berbeda dengan yang pernah terjadi di sektor perbankan pada masa lalu. Saat itu, persoalan sistemik tidak tersebar luas karena keterbatasan penyebaran informasi. Kini, di era digital, setiap isu dapat menyebar dengan sangat cepat hingga menjangkau berbagai wilayah dalam hitungan detik.
Di sisi lain, faktor budaya juga menjadi penghambat yang cukup kuat. Ia menilai, karakter masyarakat Indonesia yang menjunjung tinggi nilai gotong royong justru membuat kebutuhan terhadap asuransi sering kali dianggap tidak mendesak.
“Kesadaran untuk berasuransi kurang itu karena ada budaya gotong royong. Yaitu di mana kalau nanti terjadi suatu peristiwa yang merugikan atau kemudian peristiwa yang menyedihkan, itu masyarakat lainnya dalam hal ini adalah keluarga dekat, teman, dan lain itu akan saling membantu,” ujar Rista.
Lebih lanjut, Rista mengungkapkan, pola prioritas keuangan masyarakat juga turut berpengaruh. Dalam banyak kasus, masyarakat cenderung lebih memilih membelanjakan uangnya untuk kebutuhan konsumtif dibandingkan perlindungan jangka panjang.
|Baca juga: Begini Respons OJK tentang Putusan KPPU di Dugaan Kasus Kartel Suku Bunga Pindar
|Baca juga: Bos OJK Perkirakan Inflasi Medis Masih Jadi Tantangan Utama Industri Asuransi RI
Temuan tersebut, kata dia, menjadi hasil analisis yang dilakukan oleh industri asuransi dalam membaca perilaku masyarakat. Preferensi terhadap barang seperti telepon genggam dinilai masih lebih tinggi dibandingkan membeli produk proteksi.
Untuk itu, ia menekankan pentingnya peran seluruh pemangku kepentingan dalam mendorong perubahan. Mulai dari regulator, pelaku industri, agen asuransi, hingga institusi pendidikan, dinilai harus aktif meningkatkan literasi dan inklusi keuangan masyarakat.
Upaya ini dinilai krusial agar masyarakat tidak hanya memahami manfaat asuransi, tetapi juga mulai menjadikannya sebagai bagian dari perencanaan keuangan jangka panjang.
Editor: Angga Bratadharma
| Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
