1
1

Bos Allianz Syariah: Penyakit Kritis Dapat Ubah Kehidupan Keluarga dalam Sekejap

Direktur Utama Allianz Life Syariah Indonesia Elmie A. Najas. | Foto: Allianz Syariah

Media Asuransi, JAKARTA – Direktur Utama Allianz Life Syariah Indonesia Elmie A. Najas menyatakan masyarakat perlu berhati-hati dan mengantisipasi terhadap risiko berupa penyakit kritis karena bisa mengubah kondisi dengan cepat. Perlindungan sebaik mungkin terutama melalui proteksi asuransi menjadi penting.

“Di Allianz Syariah, kami memahami setiap penyakit kritis dapat mengubah kehidupan sebuah keluarga dalam sekejap. Selain adanya tantangan fisik dan emosional, kondisi ini menimbulkan ketidakpastian kepada siapa pun,” kata Elmie, dalam sambutannya saat memperkenalkan produk AlliSya CI Hasanah,  di Jakarta, Rabu, 4 Maret 2026.

Ia menilai siapa pun bisa terkena risiko berupa penyakit kritis terutama ketika berdampak kepada pekerja dan orang-orang yang dicintai. Kondisi ini yang mendorong Allianz Syariah untuk menghadirkan produk asuransi yang bermakna dan relevan dengan kondisi tersebut.

“Ini menurut kami untuk terus menghadirkan solusi yang bermakna, relevan, dan memberikan ketenangan di saat-saat paling penting. Karena itu kami meluncurkan AlliSya CI Hasanah untuk menguatkan komitmen kami dalam mendampingi keluarga-keluarga Indonesia dan membantu mereka melindungi hal-hal yang paling berharga,” jelasnya.

Elmie menjelaskan upaya tersebut selaras dengan Maqasid Syariah, khususnya pilar Jaga Jiwa yang diterapkan di Allianz Syariah. “Karena kami percaya melindungi jiwa juga berarti melindungi, membantu keluarga, menjaga stabilitas, dan masa depan ketika menghadapi penyakit kritis,” ucapnya.

|Baca juga: Allianz Syariah Hadirkan AlliSya CI Hasanah, Wujud Ikhtiar Jaga Jiwa dan Keuangan Keluarga

|Baca juga: Jelang THR, Nasabah Bank Jago Lebih Banyak Siapkan Kantong Buat Bayar Utang

Penyakit kritis masih menjadi ancaman nyata bagi masyarakat Indonesia, bukan hanya dari sisi kesehatan, tetapi juga terhadap stabilitas finansial keluarga. Ketika risiko tersebut terjadi, yang terdampak bukan hanya kondisi medis, melainkan juga hilangnya penghasilan, terganggunya rencana keuangan, hingga perubahan kualitas hidup.

Data Global Cancer Observatory (GLOBOCAN) mencatat 408 ribu kasus kanker baru dan 242 ribu kematian di Indonesia sepanjang 2022, dengan proyeksi kenaikan kasus hingga 63 persen pada periode 2025–2040.

Sementara itu, data Kementerian Kesehatan RI tahun 2023 menunjukkan prevalensi stroke mencapai 8,3 per mil penduduk dan meningkat signifikan pada usia lanjut. Stroke bahkan menjadi penyebab kematian tertinggi sekaligus penyebab disabilitas terbesar di Indonesia.

Fenomena ini tidak lagi hanya menyerang kelompok lansia. Data internal Allianz Life Indonesia sepanjang 2025 menunjukkan total klaim penyakit kritis mencapai Rp600 miliar, dengan 40 persen klaim berasal dari nasabah berusia di bawah 45 tahun, yaitu kelompok usia produktif.

Angka ini meningkat 11 persen dibandingkan dengan tahun sebelumnya. Artinya, risiko penyakit kritis kini semakin dekat dengan generasi aktif yang menjadi tulang punggung keluarga.

Editor: Angga Bratadharma

| Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Related Posts
Prev Post Inilah Jadwal Pembatasan Operasional Angkutan Barang Selama Periode Libur Lebaran 2026
Next Post Allianz Syariah Bayar Klaim Penyakit Kritis Rp600 Miliar di 2025, Dikontribusikan 3 Penyakit Ini!

Member Login

or