Media Asuransi, JAKARTA – Ketua Dewan Asuransi Indonesia (DAI) Yulius Bhayangkara menegaskan industri asuransi menyambut baik upaya reformasi dan pendalaman di pasar modal Indonesia. Penguatan governance dan transparansi diharapkan berdampak positif terhadap sektor perasuransian Tanah Air.
“Kalau kita lihat di struktur yang kita punya di industri asuransi, kita ada sekitar hampir Rp800 triliun sebenarnya dana yang terinvestasi. Yang terbesar memang di asuransi jiwa dan ada lagi sebagian di asuransi umum,” kata Yulius, di Jakarta, Selasa, 3 Maret 2026.
Yulius menyambut baik upaya pendalaman pasar. Akan tetapi, lanjutnya, mengingat industri asuransi mempunyai pengalaman cukup pahit di pasar saham maka faktor governance menjadi fokus bagi pelaku perasuransian ketika mau menempatkan dananya untuk diinvestasikan.
“Tapi industri asuransi punya pengalaman yang mungkin agak lumayan mengerikan dulu itu. Jadi governance akhirnya jadi salah satu bagian paling penting buat kita. Saat ini sebenarnya jadi menarik nih asuransi diundang. Karena banyak cash kan, ada sekitar Rp800 triliun, lumayan ini boleh ditarik ke sana,” katanya.
Kendati demikian, ia mengaku, DAI sudah menyampaikan kepada para anggota di seluruh Indonesia bahwa faktor governance harus diperhatikan dan disiplin. Dirinya tidak menampik perusahaan asuransi tetap membutuhkan pasar saham untuk mengembangkan hasil investasi yang lebih optimal daripada Surat Berharga Negara (SBN).
|Baca juga: OJK Ajak Industri Asuransi hingga BPJS Ketenagakerjaan Kembali Ramaikan Pasar Modal
|Baca juga: Konflik Timur Tengah dan Penutupan Selat Hormuz, OJK Soroti Ancaman Inflasi dan Volatilitas Pasar
|Baca juga: Soal Danantara dan Demutualisasi BEI, Komisi XI Tegaskan Negara Tidak Cari Untung
“Jadi kita butuh sesuatu yang bisa optimal, pasti. Karena sekali lagi saham pasti kemampuan mengembangkannya lebih optimal daripada SBN. Kalau kita lihat SBN paling besar saat ini kita taruh. Tapi untuk meningkatkan kapasitas itu kan kita butuh saham,” ucapnya.
Akan tetapi, karena pernah ada pengalaman pahit industri asuransi di pasar saham maka industri asuransi lebih memilih untuk berhati-hati. “Sehingga kami menetapkan governance harus. Dan selain sudah ada aturan-aturannya, yang juga kami butuhkan adalah warning sistemnya segera,” tuturnya.
“Jadi jangan sampai, ya kadang-kadang banyak informasi di belakang yang kita tidak tahu, teman-teman tiba-tiba taruh (uang di pasar saham) begitu sudah sampai di dalam jurang kita baru tahu. Tadi sudah ada info dari OJK, bahwa akan ada transparansi yang lebih dalam. Nah ini sangat penting buat kami,” tegasnya.
Menurutnya hal semacam itu penting. “Karena at the end of the day sekali lagi, dana yang kami punya ini bukan dana titipan untuk dibungakan sebenarnya. Tapi dana yang akan kita pakai supaya solvabilitas ketika polis jatuh dan klaim ada, itu kita punya dana. Jadi sekali lagi governance itu yang paling utamanya,” ucapnya.
“Tapi kita menyambut dibukanya, dinaikkannya free float ini, sekali lagi tapi harus dibangun dengan transparansi, governance, sama law enforcement yang jelas,” pungkasnya.
Editor: Angga Bratadharma
| Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
