1
1

Data Klaim Allianz Tunjukkan Ada Pergeseran Wilayah Rawan Bencana

Mobil tergenang banjir akibat cuaca ektrem. | Foto: Allianz Indonesia

Media Asuransi, JAKARTA – Berdasarkan data Allianz Utama Indonesia, klaim yang diajukan tertanggung asuransi properti dan kendaraan di wilayah Bali per Desember 2025 diperkirakan mencapai Rp22 Miliar.

Data menyebutkan bahwa wilayah Badung, Denpasar, dan Gianyar menjadi kontributor klaim terbesar, yang didominasi oleh kerusakan akibat banjir dan water damage.

Disebutkan bahwa cuaca ekstrem belakangan ini memicu banjir di sejumlah wilayah yang selama ini tidak lekat dengan label ‘rawan banjir’. Bali, yang lebih dikenal sebagai destinasi wisata, justru mencatat dampak signifikan akibat banjir dan longsor.

|Baca juga: Survei Allianz : 61% Responden Khawatirkan Dampak AI bagi Bisnis di Australia

Pola serupa juga terlihat di wilayah lain di Tanah Air. Pada kuartal akhir 2025, hujan ekstrem juga menyebabkan banjir di sejumlah daerah, seperti Bima (Nusa Tenggara Timur), dan Kalimantan Selatan.

Kondisi ini menunjukkan pergeseran risiko banjir di Indonesia, dari risiko yang sebelumnya “terlokalisasi”, menjadi risiko yang semakin tidak terduga dan berdampak langsung pada aset masyarakat, khususnya rumah tinggal dan kendaraan pribadi.

“Yang berubah bukan hanya intensitas hujan, tapi juga pola risikonya. Ketika bencana, seperti banjir, bisa terjadi di area yang sebelumnya dianggap aman, masyarakat perlu melihat asuransi properti dan kendaraan sebagai bagian penting dari manajemen risiko, bukan sekadar perlindungan tambahan,” ungkap Direktur dan Chief Technical Officer Allianz Utama Indonesia, Ignatius Hendrawan dalam keterangannya, Senin, 2 Februari 2026.

|Baca juga: Peran Asuransi Jiwa Syariah di Perencanaan Warisan Ala Allianz

Menurutnya, perubahan pola risiko banjir ini menggeser cara pandang terhadap perlindungan aset. Asuransi properti dan kendaraan kini tidak lagi relevan diposisikan sebagai opsi tambahan. Jadinya, menjadi bagian penting dari manajemen risiko dengan beberapa pertimbangan utama karena banjir semakin sulit diprediksi lokasinya.

‘’Sehingga aset di luar wilayah langganan banjir pun berpotensi terdampak. Selain itu, rumah dan kendaraan merupakan aset bernilai tinggi, dengan biaya perbaikan yang dapat menjadi beban finansial signifikan ketika terjadi kerusakan akibat banjir. Kerugian akibat banjir sering terjadi secara tiba-tiba, tanpa ada ruang bagi kesiapan finansial jika tidak dilindungi sejak awal. Dengan ada perlindungan asuransi akan membantu mengalihkan risiko finansial, sehingga dampak banjir tidak sepenuhnya harus ditanggung oleh pemilik aset,’’ paparnya.

|Baca juga: Asuransi Parametrik, Pelindungan Cepat untuk Korban Bencana

Di tengah pola cuaca yang semakin sulit diprediksi, pendekatan terhadap perlindungan aset pun perlu berubah. Banjir tidak lagi bisa dilihat sebagai risiko musiman di wilayah tertentu, melainkan risiko yang dapat terjadi kapan saja dan berdampak langsung pada rumah serta kendaraan. Dalam situasi ini, asuransi menjadi bagian penting dari kesiapan finansial untuk mengelola risiko yang semakin kompleks.

“Perlindungan bukan tentang seberapa mungkin risiko terjadi kepada diri kita, tetapi tentang bagaimana kesiapan kita ketika risiko itu datang. Perubahan kesadaran ini yang selalu kami upayakan melalui berbagai inisiatif sebagai bentuk komitmen Allianz Utama dalam memberikan kenyamanan dan rasa tenang bagi nasabah dan masyarakat,” jelas Ignatius.

Editor : Wahyu Widiastuti

 

| Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Related Posts
Prev Post Petinggi OJK dan BEI Mundur Berjamaah, Komisi XI: Ada Masalah Struktural di Pasar Modal RI!
Next Post IHSG Kembali Anjlok di Awal Pekan

Member Login

or