1
1

Di Tengah Ketidakpastian Global, AllianzGI Tegaskan Prospek Pasar Masih Konstruktif

Kantor Allianz Global Investors (AllianzGI) di Frankfurt. | Foto: AllianzGI

Media Asuransi, JAKARTA – Allianz Global Investors (AllianzGI) memperkirakan kondisi pasar akan tetap menantang pada kuartal kedua 2026, namun pasar tetap konstruktif terhadap perkembangan ekonomi global.

Saat ini, ketegangan geopolitik di Timur Tengah telah meningkatkan ketidakpastian dan mendorong kenaikan harga energi, yang berpotensi menimbulkan efek stagflasi terhadap pertumbuhan dan inflasi. Di sisi lain, investasi struktural terus menopang momentum ekonomi global, khususnya di bidang kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI).

Dalam lanskap yang penuh volatilitas ini, keyakinan dan disiplin investor menjadi faktor krusial dalam menjaga arah investasi. AllianzGI menilai, meskipun risiko jangka pendek meningkat, pasar masih menyimpan peluang seiring dengan berlanjutnya pemulihan ekonomi di berbagai kawasan. Pendekatan investasi yang selektif dan berbasis jangka panjang pun dinilai menjadi kunci untuk menavigasi ketidakpastian yang ada.

|Baca juga: Allianz Global Investors  Jalin Kemitraan dengan Talanx Ekspansi Jaringan Listrik Amprion di Jerman

Dalam laporan terbaru House View Q2 2026 yang dikutip Jumat, 10 April 2026, AllianzGI memperkirakan ekonomi global akan tetap berada dalam kondisi tertekan, tetapi tetap bertahan meskipun di tengah ketidakpastian saat ini.

Disebutkan bahwa harga minyak pada kisaran 90 hingga 110 dolar Amerika Serikat (dolar AS) dinilai masih dapat dikelola. Namun, jika level harga tersebut bertahan dalam jangka waktu yang lebih lama, hal ini berpotensi menekan pertumbuhan serta stabilitas harga.

Dalam kondisi ini, AllianzGI menekankan pentingnya diversifikasi dalam portofolio jangka panjang, dengan fokus pada kualitas imbal hasil (quality carry) serta tema ekuitas yang selaras dengan otonomi strategis dan AI. Terkait dolar AS, AllianzGI tetap mengambil pendekatan yang berhati-hati, meskipun terdapat penguatan jangka pendek sebagai aset safe haven.

|Baca juga: Allianz Global: Siap-siap, Permintaan Asuransi Professional Indemnity akan Meningkat

Dr. Christian Schulz, Chief Economist, AllianzGI, menilai perkembangan makroekonomi, “Setelah awal tahun yang cukup kuat, kami memperkirakan pertumbuhan ekonomi AS akan melambat pada pertengahan 2026. Kenaikan biaya energi diperkirakan akan menjaga inflasi di sekitar tiga persen, atau kembali berada di atas target dua persen yang ditetapkan The Fed,’’ jelasnya.

Hal ini kemungkinan akan mendorong bank sentral untuk menunda penurunan suku bunga acuan, dengan proyeksi berada di sekitar 3,5 persen pada akhir 2026.

Untuk kawasan Eropa, Schulz memperkirakan pertumbuhan moderat sebesar 1 hingga 1,5 persen pada 2026, dengan dorongan positif dari Jerman. Di saat yang sama, kenaikan harga energi berpotensi mendorong inflasi di zona euro melampaui target dua persen Bank Sentral Eropa (European Central Bank/ECB).

“Dalam kondisi ini, kami menilai kemungkinan tidak ada penurunan suku bunga ECB tahun ini, dan ambang untuk kenaikan suku bunga relatif rendah,” ujar Schulz.

Sementara itu di kawasan Asia, menurutnya, prospek ekonomi cenderung beragam. Ketika stimulus fiskal di Tiongkok mulai berkurang, Jepang justru mendapatkan dorongan dari peningkatan belanja pemerintah. Hal ini kemungkinan akan mendorong Bank Sentral Jepang kembali menaikkan suku bunga sebesar 50 basis poin tahun ini.

Editor : Wahyu Widiastuti

 

| Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Related Posts
Prev Post Industri Asuransi Wajib Ambil Peluang dari Pembangunan Kampung Nelayan Merah Putih
Next Post Jamkrindo Bukukan Laba Bersih Rp1,05 Triliun di 2025

Member Login

or