1
1

Dorong Gaya Hidup Sehat, Allianz Indonesia Hadirkan Inisiatif Wellbeing

Allianz Indonesia menghadirkan inisiatif wellbeing untuk mendorong gaya hidup sehat yang lebih realistis dan berbasis bukti. | Foto: Allianz Indonesia

Media Asuransi, JAKARTA – Gaya hidup sehat semakin populer di kalangan pekerja urban, mulai dari diet viral hingga berbagai workout challenge. Namun di balik tren tersebut, risiko kesehatan justru terus meningkat.

Fenomena ini diperparah dengan maraknya infodemic, atau penyebaran informasi yang berlebihan, termasuk informasi yang salah atau menyesatkan, baik di dunia digital maupun lingkungan fisik yang terjadi selama terjadinya wabah penyakit.

Sejalan dengan perkembangan dunia digital dan sosial media yang saat ini makin mendominasi kehidupan masyarakat, penyebaran informasi kesehatan yang tidak akurat ini juga menjadi satu hal yang patut dicermati, sebagaimana disoroti oleh World Health Organization (WHO).

|Baca juga: Legislator Dorong Perlindungan 19 Juta Pekerja Miskin Masuk Kepesertaan BPJS Ketenagakerjaan

|Baca juga: Dana Pensiun Mulai Terapkan Life Cycle Fund, OJK Soroti Tantangan Berikut!

Akibatnya, banyak masyarakat, terutama pekerja dengan mobilitas tinggi terjebak pada tren kesehatan instan yang tidak berkelanjutan. Menjawab tantangan tersebut, dalam momentum World Health Day bertema ‘Together for Health, Stand with Science‘, Allianz Indonesia menghadirkan inisiatif wellbeing.

Chief People & Culture Allianz Life Indonesia Nina Hatumena menjelaskan inisiatif itu untuk mendorong gaya hidup sehat yang lebih realistis dan berbasis bukti. Di tengah rutinitas kerja yang padat, lanjutnya, kesehatan sering jadi prioritas terakhir atau baru dipikirkan ketika ada tren.

“Kami ingin menggeser cara pandang itu, bahwa hidup sehat bukan sesuatu yang menunggu waktu luang, tapi harus dibangun dari kebiasaan kecil yang dilakukan setiap hari. Ini bukan soal tren sementara, tapi investasi jangka panjang,” ujar Nina Hatumena, dalam keterangannya, Rabu, 8 April 2026.

Inisiatif ini menghadirkan Melanie Putria, Public Figure, Runner, dan Wellness Enthusiast, serta Rinta Agustiani Dwiputra, S.Gz, M.M, Nutritionist & Health Expert Itsbuah. Melanie menyoroti kesalahpahaman umum terkait aktivitas fisik sehari-hari.

|Baca juga: Bank Mandiri (BMRI) Catat Kredit Infrastruktur Tumbuh 30,8% per Februari 2026

|Baca juga: Kebijakan BPJS Ketenagakerjaan Diminta Lebih Sensitif terhadap Pekerja Perempuan

“Banyak orang merasa sudah cukup aktif karena aktivitas harian seperti beres-beres rumah atau berjalan saat menggunakan transportasi umum. Padahal itu termasuk Non-Exercise Physical Activity (NEPA), yaitu aktivitas fisik non-olahraga,” ujarnya.

Ia menjelaskan aktivitas seperti berjalan ke stasiun, berdiri di KRL, atau naik tangga memang bermanfaat bagi tubuh, namun belum dapat menggantikan olahraga yang terstruktur dan terukur. Dirinya menekankan empat pilar utama gaya hidup sehat, yaitu olahraga, nutrisi, istirahat & recovery, serta manajemen stres.

Sementara itu, Rinta menekankan tantangan terbesar dalam menerapkan gaya hidup sehat saat ini bukan pada kurangnya informasi, melainkan kesalahan dalam memahami dan memilih informasi yang tepat.

“Banyak orang ingin hidup sehat, tapi terjebak pada tren atau solusi instan yang belum tentu sesuai dengan kebutuhan tubuhnya. Akibatnya, hasilnya tidak bertahan lama, bahkan bisa berdampak sebaliknya,” jelasnya.

Ia mencontohkan fenomena yang sering terjadi saat seseorang mengikuti tren diet tanpa pemahaman tepat yang dapat mengganggu metabolisme tubuh, seperti efek yoyo, yaitu kondisi ketika berat badan turun drastis dalam waktu singkat, namun kembali naik dengan cepat, bahkan bisa lebih tinggi dari sebelumnya.

|Baca juga: Mirae Asset Soroti Tekanan Eksternal saat IHSG Melemah dan Rupiah di Atas Rp17.000

|Baca juga: Survei Sun Life: Lebih dari Setengah Perempuan Indonesia Pilih Prioritaskan Keluarga

Berangkat dari kondisi tersebut, sesi ‘Trend vs Truth‘ dihadirkan untuk membantu peserta memilah berbagai pola hidup sehat yang populer, serta memahami mana yang benar-benar bermanfaat dan mana yang berisiko jika dilakukan tanpa pendampingan yang tepat. Beberapa poin yang dibahas antara lain:

  • Very low-calorie diet: Dapat menurunkan berat badan secara cepat, namun sebagian besar yang hilang adalah massa otot dan cairan, bukan lemak. Kondisi ini berisiko memicu efek yoyo karena metabolisme melambat.
  • Keto diet: Efektif dalam kondisi tertentu, namun jika dilakukan dengan konsumsi lemak jenuh berlebih tanpa pengawasan, dapat meningkatkan risiko gangguan jantung dan membebani fungsi ginjal.
  • Intermittent fasting: Dapat membantu meningkatkan sensitivitas insulin dan mengatur pola makan, selama asupan nutrisi tetap seimbang.
  • Juice fasting: Dapat membantu memberi ‘istirahat’ pada sistem pencernaan dan meningkatkan asupan mikronutrien, namun perlu dilakukan dengan durasi dan komposisi yang tepat agar tetap aman.

Sebagai tindak lanjut, Rinta juga menegaskan pendekatan sederhana justru lebih efektif untuk pekerja urban, selama dilakukan secara konsisten. Beberapa kebiasaan yang dapat diterapkan antara lain:

  • Pola makan seimbang: Mengatur porsi karbohidrat, protein, serat, dan lemak sehat dalam satu piring, serta mengurangi makanan ultra-proses tinggi gula, garam, dan lemak jenuh.
  • Aktivitas fisik rutin: Kombinasi cardio dan latihan beban secara berkala.
  • Tidur berkualitas: Menjaga durasi tidur, konsistensi waktu, serta membatasi screen time sebelum tidur.
  • Micro-break setiap 90 menit: Untuk stretching ringan atau berjalan sejenak.
  • Power nap 15–20 menit: Membantu memulihkan fokus dan energi di tengah hari kerja.

Lebih jauh, pendekatan kesehatan berbasis sains tidak hanya berhenti pada pola hidup, tetapi juga mencakup upaya pencegahan yang telah terbukti efektif secara global, salah satunya melalui imunisasi. Data WHO menunjukkan 154 juta nyawa terselamatkan melalui imunisasi atau setara enam nyawa setiap menit selama 50 tahun terakhir.

Hal ini menegaskan di tengah derasnya tren kesehatan, intervensi berbasis bukti tetap menjadi fondasi utama dalam menjaga kesehatan masyarakat, termasuk mereka di usia produktif. Di tengah dunia kerja serba cepat, tren boleh datang dan pergi, namun kesehatan hanya dibangun melalui langkah konsisten, realistis, dan berbasis sains.

Editor: Angga Bratadharma

| Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Related Posts
Prev Post Legislator Dorong Perlindungan 19 Juta Pekerja Miskin Masuk Kepesertaan BPJS Ketenagakerjaan
Next Post Dana Pensiun Mulai Terapkan Life Cycle Fund, OJK Soroti Tantangan Berikut!

Member Login

or