1
1

IAIS: Perusahaan Asuransi Global Tetap Tangguh di Tengah Kemunculan Risiko Baru

Ilustrasi. | Foto: Freepik/jcomp

Media Asuransi, GLOBAL – Asosiasi Pengawas Asuransi Internasional (IAIS) mengatakan perusahaan asuransi global masih kuat secara finansial. Namun peningkatan investasi pada kredit swasta, meningkatnya fragmentasi geopolitik, dan penggunaan kecerdasan buatan yang lebih luas menciptakan risiko baru yang memerlukan perhatian regulasi yang lebih ketat.

Dalam Laporan Pasar Asuransi Global 2025, IAIS mengatakan, perusahaan asuransi terus menunjukkan solvabilitas, likuiditas, dan profitabilitas yang solid, dengan risiko sistemik di tingkat global sedikit lebih rendah dibandingkan dengan tahun lalu dan masih jauh di bawah sektor perbankan.

Melansir Insurance Asia, Selasa, 20 Januari 2026, perusahaan asuransi non-jiwa mencatat peningkatan rasio gabungan di beberapa wilayah, sementara perusahaan asuransi jiwa memperoleh keuntungan dari pendapatan investasi yang stabil dan selisih yang lebih baik.

Oleh karena itu, kondisi sektor ini secara keseluruhan pada 2026 digambarkan stabil. Laporan tersebut menandai pesatnya pertumbuhan kredit swasta dalam portofolio investasi perusahaan asuransi jiwa.

|Baca juga: RKAB 2026 Disetujui, Vale Indonesia (INCO) Lanjutkan Operasional dan Keberlanjutan Investasi

|Baca juga: Humpus Maritim (HUMI) Rombak Jajaran Komisaris dan Direksi, Berikut Susunan Lengkapnya!

|Baca juga: POJK 36/2025 Resmi Diluncurkan, Begini Respons Bos Prudential Indonesia!

Meskipun eksposur keseluruhan tetap moderat, namun IAIS mengatakan kelas aset membawa risiko terkait penilaian, likuiditas, kualitas peminjam, dan struktur kompleks, sehingga mendorong pengawas untuk meningkatkan pemantauan dan analisis risiko sistemik.

Fragmentasi geoekonomi, yang didorong oleh ketegangan perdagangan, sanksi, dan perbedaan kebijakan moneter, juga memengaruhi nilai aset, mata uang, dan suku bunga perusahaan asuransi, sehingga menjadikan pengelolaan aset-liabilitas menjadi lebih kompleks bagi kelompok internasional.

Para pengawas meresponsnya dengan memperkuat stress test dan koordinasi lintas batas. IAIS juga menunjuk pada perluasan penggunaan kecerdasan buatan dalam penjaminan, penetapan harga, dan klaim.

|Baca juga: Manajemen Maximus Insurance (ASMI) Buka Suara terkait Fluktuasi Saham

|Baca juga: KB Bank (BBKP) Salurkan Kredit Rp10,64 Triliun dari Dana Rights Issue Rp11,9 Triliun

Meskipun perusahaan asuransi melaporkan peningkatan efisiensi, namun regulator mengkhawatirkan tata kelola model, bias data, risiko dunia maya, dan ketergantungan pada penyedia pihak ketiga, serta menyerukan kerangka pengawasan yang lebih kuat.

Sementara itu, perusahaan reasuransi tetap memiliki kapitalisasi yang baik pada 2024, dengan hasil underwriting yang stabil, premi yang meningkat, dan strategi investasi yang konservatif, meskipun kerugian akibat bencana alam meningkat dalam beberapa tahun terakhir.

Editor: Angga Bratadharma

| Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Related Posts
Prev Post Riset Prudential Sebut Generasi Muda Lebih Memilih Pengelolaan Keuangan yang Terencana
Next Post Islamic Insurance Society (IIS) Sukses Menggelar Rapat Kerja (Raker) 2026 di Malaysia

Member Login

or