Media Asuransi, JAKARTA – PT Reasuransi Indonesia Utama (Persero) atau Indonesia Re menilai prospek bisnis reasuransi pada 2026 tetap berada pada jalur yang positif dan berkelanjutan, Industri terus beradaptasi dengan peningkatan eksposur risiko bencana alam serta dinamika ekonomi global yang dinamis.
Direktur Teknik Operasi Indonesia Re, Delil Khairat, menyampaikan bahwa meningkatnya frekuensi dan intensitas bencana alam, perubahan iklim, serta faktor lingkungan justru memperkuat urgensi kebutuhan akan proteksi asuransi dan reasuransi yang lebih terstruktur dan memadai.
|Baca juga: Komitmen Transparansi Berkelanjutan, Skor KIP Indonesia Re Terus Meningkat
“Eksposur risiko bencana seperti gempa bumi dan banjir memang menjadi perhatian, namun di sisi lain kondisi ini mendorong permintaan terhadap solusi reasuransi yang lebih kuat, baik untuk asuransi jiwa, kesehatan, maupun risiko katastropik. Indonesia Re melihat peluang strategis untuk semakin berperan dalam memperkuat ketahanan finansial perusahaan asuransi nasional,” ujar Delil Khairat dalam keterangannya, Rabu, 24 Desember 2025.
Menurutnya, fluktuasi ekonomi global yang ditandai dengan perubahan suku bunga, inflasi, dan volatilitas nilai tukar menuntut industri reasuransi untuk semakin disiplin dalam pengelolaan risiko.
Dalam konteks tersebut, penerapan underwriting yang prudent, pricing berbasis aktuaria yang akurat, penguatan valuasi, serta implementasi IFRS 17 menjadi faktor penting dalam menjaga daya saing perusahaan.
|Baca juga: Indonesia Re Dukung Digitalisasi dan Perlindungan Data di Sektor Asuransi Nasional
Dari sisi reasuransi umum, Indonesia Re memandang pasar domestik masih memiliki prospek pertumbuhan yang solid, ditopang oleh perbaikan fundamental ekonomi nasional, meningkatnya kesadaran masyarakat terhadap pentingnya asuransi, serta potensi pengembangan segmen risiko baru seperti siber dan perubahan iklim. Namun demikian, perusahaan tetap mencermati tantangan berupa peningkatan klaim akibat bencana alam, kondisi pasar yang melunak (soft market), serta ketatnya persaingan industri.
Untuk 2026, Indonesia Re memproyeksikan asuransi kesehatan, asuransi jiwa kredit, serta mortalitas individu dan kumpulan sebagai penopang utama pertumbuhan reasuransi jiwa. Sementara pada reasuransi umum, lini asuransi properti, asuransi kredit, dan kendaraan bermotor, serta asuransi teknik dan rekayasa seiring berlanjutnya proyek infrastruktur nasional, diproyeksikan tetap menjadi kontributor utama premi.
Dalam menjaga profitabilitas, Delil Khairat menegaskan bahwa Indonesia Re menerapkan strategi menyeluruh yang mencakup pengetatan seleksi risiko, penyesuaian tarif premi yang sejalan dengan profil risiko, diversifikasi portofolio, pemanfaatan data dan analitik lanjutan, penguatan program retrosesi, serta akselerasi digitalisasi proses operasional dan klaim.
|Baca juga:Tantangan Mengadang di 2026, AAUI Tawarkan Sejumlah Terobosan
Sebelum itu, dalam acara Sportcation Day 2025 Indonesia Re, Delil Khairat mengatakan, tahun ini memang berat bagi industri asuransi. Ini selain adanya tekanan dari regulasi, bencana alam, dan perubahan iklim dimana market juga tidak tumbuh.
“Jadi, ada fenomena eksposur kita, risiko kita makin naik. Dengan segala macam fenomena tadi, inflasi juga makin tinggi, klaim kita makin mahal, tapi premi kita segitu-gitu saja. Berarti secara industri, kita akan punya masalah nanti dengan performance industri itu,” katanya di Jakarta, 19 Desember lalu.
Karena itu, lanjut Delil, di 2026 tampaknya bisnis reasuransi akan semakin challenging. ‘Kita harus tetap mengedukasi semua stakeholders, dan juga ke masyarakat supaya makin sadar berasuransi.
Untuk 2025 ini, Delil mengatakan, kinerja bisa tutup buku dengan hasil baik. “Kami punya keyakinan finish strong. Apapun yang terjadi, InsyaAllah, tahun ini kami tutup dengan result yang solid, meskipun mungkin banyak metrik yang kami tidak bisa penuhi. Tetapi, InsyaAllah kita bisa menjaga bottom line tetap solid,” tegas Delil.
Editor : Wahyu Widiastuti
Foto Direktur Teknik Operasi Indonesia Re Delil Khairat
| Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
