Media Asuransi, JAKARTA – Surat Berharga Negara (SBN) diprediksi masih menjadi instrumen utama dalam portofolio investasi perusahaan asuransi umum. Hal itu sejalan dengan aturan asuransi umum yang menuntut adanya likuiditas, stabilitas arus kas, dan pengelolaan keuangan yang stabil.
“Hal ini sejalan dengan karakter kewajiban asuransi umum yang menuntut likuiditas, stabilitas arus kas, serta pengelolaan risiko yang prudent,” kata Ketua Umum Asosiasi Asuransi Umum (AAUI) Budi Herawan, kepada Media Asuransi, dikutip Rabu, 7 Januari 2026.
Berdasarkan data OJK, kata Budi, SBN masih mendominasi investasi asuransi umum lantaran memberikan kombinasi antara tingkat keamanan yang tinggi, imbal hasil yang relatif stabil, serta dukungan terhadap kebijakan pengelolaan aset dan liabilitas atau Asset Liability Management (ALM).
|Baca juga: Penempatan Dana Pensiun di SRBI Capai Rp4,09 Triliun per Oktober 2025
|Baca juga: Perusahaan Asuransi Berbondong-bondong Investasi ke Aset Digital Usai Harga Bitcoin Melonjak
|Baca juga: AAUI Nilai Asuransi Perjalanan Wajib bagi Wisman Penting untuk Tekan Risiko Wisata Alam
Kendati demikian, tambahnya, memasuki 2026 tren ini diperkirakan masih akan terus berlanjut, meskipun tidak menutup kemungkinan terjadi diversifikasi secara selektif ke instrumen lain seperti obligasi korporasi berkualitas tinggi atau reksa dana, sepanjang tetap memerhatikan profil risiko dan ketentuan regulasi.
Lebih jauh, Budi menambahkan, hasil investasi bukan menjadi pendorong utama pertumbuhan bisnis asuransi umum, melainkan lebih berperan menjaga kesehatan keuangan dan keberlanjutan usaha.
“Dari sisi hasil investasi, kinerja investasi yang stabil diharapkan dapat memberikan ruang penyangga terhadap tekanan klaim di beberapa lini usaha,” pungkas Budi.
Editor: Angga Bratadharma
| Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
