Media Asuransi, JAKARTA – Keinginan memiliki usaha sendiri kerap terbentur satu persoalan: modal. Begitu mulai menghitung biaya sewa tempat, stok barang, promosi, hingga risiko rugi di awal, banyak orang akhirnya menahan langkah. Di tengah kondisi tersebut, dunia kerja justru bergerak semakin dinamis. Pilihan karier kini tidak lagi terpaku pada jalur konvensional, jam kerja kaku, atau struktur organisasi.
Mereka mencari fleksibilitas sekaligus peluang untuk bertumbuh. Salah satu kisah yang menggambarkan pola pikir ini datang dari Raka Rosadi Putra, seorang agency builder di Prudential Syariah. “Saya cari yang risikonya cukup rendah, tapi tetap punya potensi profit. Dari beberapa opsi, Prudential Syariah itu awalnya pilihan terakhir. Tetapi setelah saya eliminasi berdasarkan risiko dan peluangnya, justru ini yang paling ideal dan worth it buat saya,” ujarnya dalam keterangan tertulis yang dikutip Sabtu, 4 April Maret 2026.
Indonesia sebenarnya punya modal demografi yang kuat. Data kependudukan menunjukkan jumlah Generasi Z sekitar 74,93 juta jiwa dan milenial sekitar 69,38 juta jiwa. Artinya, lebih dari separuh penduduk Indonesia berada pada usia produktif, usia yang biasanya paling aktif mencari peluang, membangun karier, dan memulai usaha.
|Baca juga: Prudential Syariah dan Yayasan Islam Al-Azhar Berdayakan UMKM Hingga Komunitas
Namun, jumlah usia produktif yang besar ini tetap perlu didukung dengan akses peluang yang nyata. Pemerintah juga terus mendorong kenaikan rasio kewirausahaan. Kementerian UMKM mencatat rasio kewirausahaan nasional pada 2025 mencapai 3,29 persen. Angka ini menunjukkan perbaikan, tetapi masih menyisakan pekerjaan rumah: semakin banyak orang perlu didorong untuk berani memulai, termasuk memulai dari peluang yang tidak menuntut modal besar.
Profesi tenaga pemasar sering dianggap sebelah mata, padahal pada praktiknya profesi ini sangat dekat dengan semangat wirausaha. Tenaga pemasar membangun portofolio dan relasi, menyusun target dan mengatur waktunya sendiri. Banyak orang memilih jalur ini karena dua hal, yakni fleksibilitas dan kesempatan bertumbuh.
Di industri asuransi, misalnya, tenaga pemasar tidak hanya berperan menjelaskan produk. Mereka juga menjadi pihak yang mendampingi masyarakat memahami perencanaan keuangan, hingga keputusan-keputusan finansial penting yang tidak mudah.
Kebutuhan edukasi ini juga masih sangat besar. Survei Nasional Literasi dan Inklusi Keuangan (SNLIK) 2024 mencatat indeks literasi keuangan syariah 43,42 persen dan inklusi keuangan syariah 13,41 persen. Angka ini memperlihatkan bahwa masih banyak masyarakat yang membutuhkan penjelasan yang mudah dipahami, dan pendampingan yang tepat, agar lebih percaya diri dalam memilih solusi keuangan.
|Baca juga: Prudential Indonesia dan Prudential Syariah Kembali Menghadirkan NextGen
Di titik inilah tenaga pemasar yang profesional punya peran penting, bukan sekadar mencari penjualan, tetapi membantu orang mengambil keputusan yang lebih terencana.
Peluang usaha menjadi tenaga pemasar diakui industri. Ada indikator yang dapat dilihat secara nyata. Tenaga pemasar Prudential Syariah, misalnya, mencatat pencapaian di level industri melalui penghargaan. Pada ajang Sharia Insurance Convention and Awards (SICA) 2025, tenaga pemasar Prudential Syariah memborong enam penghargaan salah satunya sebagai The Best of The Best Sharia Agent maupun penghargaan lainnya yang diberikan kepada tenaga pemasar dan leader dari berbagai daerah.
Pencapaian seperti ini menunjukkan bahwa profesi tenaga pemasar memiliki jalur pengembangan yang jelas, mulai dari pembekalan, peningkatan kapasitas, hingga peluang berprestasi. Dengan kata lain, ini bukan pekerjaan yang ‘jalan di tempat’, melainkan dapat menjadi karier yang bertumbuh jika dijalankan dengan disiplin.
|Baca juga: Prudential Syariah Bersama DAI Dorong Literasi Asuransi Bagi UMKM di Jawa Timur
Selain prestasi, kisah di lapangan menunjukkan bahwa profesi tenaga pemasar bukan sekadar soal penghasilan, tetapi juga soal dampak, membantu peserta dengan mendampingi keluarga saat tertimpa musibah, membantu proses klaim, dan memastikan hak pelindungan diterima sesuai ketentuan. Hal serupa dialami Raka. Sejak 2022 ia menekuni profesi ini secara full-time dan telah menangani klaim dari jutaan hingga ratusan juta rupiah, termasuk pernah mendampingi peserta dengan klaim hingga Rp500 juta, totalnya kini mencapai miliaran rupiah.
Dalam profesi tenaga pemasar, yang biasanya paling menentukan bukan besar kecilnya modal uang, melainkan konsistensi untuk mulai segera, belajar, membangun jaringan, menjaga disiplin waktu, serta mengutamakan kebutuhan orang yang dilayani.
Raka menyampaikan pesan sederhana untuk siapa pun yang ingin berkembang, apa pun latar belakangnya. “Tanya dulu, punya mimpi atau tidak, dan mau capainya bagaimana. Kalau masih ragu, kosongkan gelas, giat belajar dan lihat peluang dari sudut pandang baru,” ujarnya.
Dia juga menekankan bahwa kerja keras saja tidak cukup, tetapi harus dibarengi kerja cerdas di tempat yang tepat.
Editor: S. Edi Santosa
| Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
