Media Asuransi, JAKARTA – Ketua Dewan Asuransi Indonesia (DAI), Yulius Bhayangkara, menegaskan pentingnya kegiatan outlook bagi industri asuransi dalam menghadapi dinamika serta potensi risiko di masa depan. Penegasan tersebut disampaikan dalam acara Indonesia & Economic Insurance Outlook 2026 Media Asuransi yang digelar di Wisma Tugu I, Jl. HR Rasuna Said, Jakarta Selatan, Senin, 22 Desember 2025.
Menurut Yulius, industri asuransi memiliki karakteristik utama sebagai sektor yang mengelola sekaligus memonetisasi probabilitas. Oleh karena itu, pemahaman terhadap tren, risiko, dan berbagai kemungkinan yang akan terjadi ke depan menjadi kebutuhan mendasar bagi keberlangsungan industri.
“Industri asuransi ini kan industri yang me-monetize probabilitas. Nah probabilitas itu ada kan di depannya,” kata Yulius.
|Baca juga: Media Asuransi Selenggarakan Indonesia Economic and Insurance Outloook 2026
Ia menjelaskan, kajian outlook dan analisis tren ke depan berfungsi sebagai pijakan strategis bagi pelaku industri dalam mengukur langkah bisnis serta merumuskan arah kebijakan. Hal tersebut menjadi semakin relevan di tengah kondisi yang penuh tantangan, terutama bagi sektor asuransi umum yang berhadapan langsung dengan berbagai risiko.
Dalam kesempatan tersebut, Yulius juga menyoroti meningkatnya frekuensi bencana alam yang terjadi dalam beberapa tahun terakhir, termasuk dalam beberapa bulan terakhir. Menurutnya, kondisi tersebut merupakan salah satu risiko utama yang harus diantisipasi secara serius oleh industri asuransi.
“Banyak terjadi bencana yang tiba-tiba di beberapa tahun dan bulan terakhir ini, ya ada banyak sekali bencana. Dan ini nampaknya perlu kita antisipasi juga ke depannya. Sehingga, hal-hal seperti ini yang kemudian kita memastikan bahwa industri asuransi siap menghadapi itu,” tegasnya.
Selain kesiapan dalam menghadapi risiko, Yulius menekankan komitmen DAI untuk terus mendorong peningkatan inklusi dan literasi asuransi. Ia mengapresiasi capaian peningkatan inklusi dan literasi asuransi nasional yang dinilai cukup signifikan, serta memberikan penghargaan kepada Media Asuransi atas kontribusinya dalam meningkatkan pemahaman masyarakat terhadap industri asuransi.
|Baca juga: DAI Pantau Dampak POJK 20/2023 terhadap Likuiditas Asuransi Kredit
“Nampaknya saya lihat di inklusi hampir 50 persen kalau salah dari yang sebelumnya sekitar 12-13 persen naik. Memang luar biasa ada kenaikan, nampaknya ini kerja keras kita. Saya juga percaya inklusi literasi itu berhubungan dengan kemampuan industri untuk stay relevan dengan Indonesia,” jelas Yulius.
Lebih lanjut, Yulius menegaskan bahwa inklusi dan literasi memiliki keterkaitan erat dengan relevansi industri asuransi dalam mendukung pembangunan nasional. Menurutnya, upaya tersebut tidak hanya sebatas sosialisasi produk, tetapi juga mencerminkan keterlibatan aktif industri asuransi dalam menjawab kebutuhan bangsa dan berkolaborasi dengan sektor lainnya.
“Poin-poin seperti ini sebenarnya yang lagi kita mau bangun. Industri asuransi harus inline dengan industri yang lain dan kita juga harus engage dengan industri yang lain, sehingga kita juga bisa relevan dengan industri yang lain,” pungkas Yulius.
Editor: Irdiya Setiawan
| Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
