1
1

Ketua PAI Sebut Timur Tengah Kagum dengan Kemajuan Industri Asuransi Syariah Indonesia

Ketua Persatuan Aktuaris Indonesia (PAI) Paul Setio Kartono saat berbincang di Podcast TVAsuransi. | Foto: Media Asuransi/Sarah Dwi Cahyani

Media Asuransi, JAKARTA – Ketua Persatuan Aktuaris Indonesia (PAI) Paul Setio Kartono mengungkapkan Indonesia mendapat sorotan positif dari negara Timur Tengah terkait kemajuan industri asuransi syariah, termasuk dalam pengembangan keilmuan aktuaria.

Menurut Paul, kebutuhan aktuaris di sektor syariah memang semakin jelas seiring penguatan regulasi dan pertumbuhan entitas asuransi syariah. Namun, ia mengakui, secara global standar aktuaria masih didominasi pendekatan konvensional.

|Baca juga: Penyegaran Manajemen, Kreditplus (KB Finansia) Umumkan Susunan Direksi Baru

|Baca juga: AASI Siap Jadi Fasilitator dan Jembatan Komunikasi untuk Optimalkan Spin-Off UUS Asuransi

|Baca juga: Presiden Direktur Sun Life Resmi Pimpin AAJI 2026-2028

“Tapi gini, memang standar-standar aktuaria itu di dunia ya saya tidak ngomong di Indonesia saja, itu memang lebih banyak di konvensional, sedangkan di syariah itu masih sedikit,” kata Paul, dikutip saat berbincang di Podcast TVAsuransi, Jumat, 27 Februari 2026.

Meski demikian, ia menilai, pengembangan kompetensi aktuaris syariah di Indonesia terus mengalami kemajuan signifikan. Hal tersebut bahkan diakui oleh negara-negara dengan mayoritas penduduk Muslim.

Paul mencontohkan pengalamannya saat diundang menjadi pembicara di forum kawasan Timur Tengah dan Afrika Utara atau Middle East and North Africa (MENA) di Dubai, Uni Emirat Arab, pada awal Februari lalu.

|Baca juga: KB Bank (BBKP) Bakal Gelar RUPSLB di Maret 2026, Susunan Pengurus Diubah?

|Baca juga: OJK Beberkan 4 Tujuan Utama UUS Asuransi Wajib Spin-Off di 2026

|Baca juga: Allianz Life Syariah Indonesia Ungkap Lakukan Studi Kelayakan Sebelum Spin-Off

Dalam forum tersebut, ia diminta memaparkan perkembangan aktuaria syariah di Indonesia di hadapan peserta dari berbagai negara, termasuk Mesir dan kawasan Afrika Utara.

“Saya pikir, saya di Arab tapi masa ngomongin syariah di sini. Ternyata, enggak lho. Jadi mereka justru kagum. Bahwa di Indonesia sudah sedemikian majunya. Bahkan di Arab sendiri, understanding-nya dan lain sebagainya belum semaju seperti di Indonesia,” jelasnya.

Ia mengungkapkan pemahaman dan pengembangan praktik asuransi syariah di sejumlah negara Arab belum tentu lebih maju dibandingkan dengan Indonesia. Faktor struktur kepemilikan dan model bisnis turut memengaruhi perkembangan industri di kawasan tersebut.

|Baca juga: Tertekan Klaim dan Rugi Berkelanjutan, 5 Asuransi Umum Cabut dari Bisnis Kesehatan

|Baca juga: Asuransi Perjalanan, Kendaraan, hingga Kecelakaan Diri Diyakini Dapat ‘Berkah’ Ramadan dan Idulfitri

|Baca juga: AAUI Tunggu Kejelasan Keterlibatan dalam Program Kopdes Merah Putih

Di beberapa negara Timur Tengah dan Afrika Utara, perusahaan asuransi syariah umumnya masih didominasi kepemilikan pemerintah, dengan keterlibatan swasta yang relatif terbatas. Kondisi ini membuat dinamika dan inovasi industri tidak sekompetitif di Indonesia.

Sementara negara seperti India dan Pakistan memang memiliki populasi Muslim besar, namun perkembangan asuransi syariah masih menghadapi tantangan regulasi maupun keterbatasan ekonomi.

“Kita progressing lah, lebih maju. Mungkin 20 tahun yang lalu kita masih jauh terbelakang. Tapi sekarang sih kita sudah progressing lah dalam knowledge,” tutup Paul.

Editor: Angga Bratadharma

| Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Related Posts
Prev Post Direktur PGAS Catur Dermawan Borong 1.000 Saham Perusahaan di Harga Rp2.190
Next Post Danantara Ungkap Strategi Penguatan Garuda Indonesia

Member Login

or