Media Asuransi, JAKARTA – Pengamat Asuransi Irvan Rahardjo menilai dampak konflik di kawasan Timur Tengah terutama diakibatkan Amerika Serikat (AS) dan Israel menyerang Iran terhadap kinerja perusahaan asuransi di Indonesia masih relatif terbatas.
Secara umum, Irvan mengungkapkan, kinerja industri asuransi nasional diperkirakan tidak akan terganggu secara signifikan. Hal ini karena lini bisnis yang berpotensi terdampak langsung oleh konflik tersebut memiliki porsi yang relatif kecil dalam portofolio industri asuransi Tanah Air.
|Baca juga: Perkuat Jajaran Pengawas, Tan Teck Long Resmi Jabat Komisaris OCBC (NISP)
|Baca juga: Seng Hyup Shin Mundur dari Kursi Wakil Komisaris Utama KB Bank (BBKP), Ada Apa?
Menurutnya, beberapa lini yang paling sensitif terhadap dinamika geopolitik global adalah asuransi marine cargo, marine hull, asuransi pesawat, serta asuransi perjalanan. Lini tersebut berkaitan langsung dengan aktivitas perdagangan internasional, transportasi laut, maupun mobilitas lintas negara.
“Target kinerja asuransi secara umum tidak terganggu, karena kontribusi asuransi marine cargo, asuransi pesawat, dan asuransi perjalanan relatif kecil,” ujar Irvan, kepada Media Asuransi, dikutip Selasa, 10 Maret 2026.
Ia menjelaskan portofolio industri asuransi umum nasional masih didominasi oleh lini bisnis utama seperti asuransi properti dan kendaraan bermotor. Asuransi properti menyumbang sekitar 29 persen dari total premi asuransi umum, sementara asuransi kendaraan berada di kisaran 16-20 persen.
Di sisi lain, lini asuransi perjalanan yang masuk dalam kategori miscellaneous atau asuransi umum lainnya umumnya memberikan kontribusi yang relatif kecil terhadap total portofolio industri. Meski demikian, kinerja lini ini berpotensi mengalami peningkatan dalam waktu dekat.
|Baca juga: Daisuke Ejima Lengser, Nobuya Kawasaki Masuk Bursa Calon Direktur Utama Bank Danamon (BDMN)
|Baca juga: BI Sebut Kesejahteraan Keuangan Masyarakat Semakin Jadi Perhatian Utama
|Baca juga: Perusahaan Asuransi Kelautan Tetap Sediakan Perlindungan Perang untuk Kapal di Teluk Persia
“Kinerja asuransi perjalanan berpotensi mengalami peningkatan pada momen mudik Lebaran tahun ini,” jelasnya.
Proyeksi pemerintah menunjukkan pergerakan masyarakat selama musim mudik tahun ini dapat mencapai lebih dari 143 juta orang. Peningkatan mobilitas tersebut berpotensi mendorong kebutuhan perlindungan perjalanan, baik untuk transportasi darat, laut, maupun udara.
“Lini asuransi perjalanan, yang masuk dalam kategori asuransi umum lainnya atau miscellaneous, umumnya memberikan kontribusi yang relatif kecil dibandingkan lini utama yakni properti, kendaraan, dan kredit,” imbuh Irvan.
Ia menambahkan secara keseluruhan industri asuransi umum masih menunjukkan tren pertumbuhan yang positif. Sepanjang 2025, premi asuransi umum tercatat tumbuh sekitar 4,8 persen, mencerminkan pemulihan aktivitas ekonomi dan meningkatnya kesadaran masyarakat terhadap perlindungan risiko.
“Meskipun premi asuransi umum tumbuh sepanjang 2025 mencapai 4,8 persen, dengan kontribusi asuransi properti sebesar 29 persen atau kendaraan 16-20 persen. Meskipun terus tumbuh seiring pemulihan wisata, porsinya masih di bawah lima persen dari total portofolio asuransi umum,” pungkas Irvan.
Editor: Angga Bratadharma
| Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
