1
1

Konflik AS-Israel vs Iran Guncang Asuransi Nasional, Premi Naik hingga RBC Terancam Turun?

Ilustrasi. | Foto: Kindel Media via Pexels

Media Asuransi, JAKARTA – Konflik antara Amerika Serikat (AS) dan Israel melawan Iran dinilai mulai memberi tekanan terhadap industri asuransi umum dan reasuransi Indonesia. Dampak paling nyata dirasakan pada lini asuransi penerbangan dan marine, seiring meningkatnya risiko perang dan terganggunya jalur distribusi global.

Pengamat Asuransi Arman Jufry mengatakan karakter bisnis asuransi yang bersifat internasional membuat industri dalam negeri tidak bisa lepas dari gejolak geopolitik global.

“Dengan terjadinya perang AS-Israel vs Iran dampaknya bagi industri asuransi yang paling parah kita rasakan pada asuransi penerbangan dan marine dan tentunya akan berpengaruh terhadap asuransi umum & pasar reasuransi,” ujar Arman, kepada Media Asuransi, dikutip Rabu, 4 Maret 2026.

“Hal ini disebabkan karena asuransi adalah international business sehingga sangat berkaitan dengan negara lain,” tambah Arman.

|Baca juga: Bandara Dubai Hentikan Operasional, Asuransi Perjalanan Tidak Tanggung Risiko Perang

|Baca juga: Konflik Timur Tengah Ganggu Penerbangan, Klaim Asuransi Bergantung pada Waktu Pembelian Polis

|Baca juga: Asuransi Perjalanan Tidak Tanggung Pembatalan Penerbangan Akibat Konflik Timur Tengah

Menurut Arman, lini asuransi penerbangan menjadi sektor yang paling rentan. Hal itu berkaitan dengan kebijakan reasuradur global yang dapat mengeluarkan pemberitahuan pembatalan polis apabila terjadi perang, seperti kondisi saat ini.

Ia menjelaskan, dalam asuransi penerbangan terdapat dua komponen utama, yakni asuransi hull & liability serta asuransi war risk yang secara khusus mencakup risiko perang. Dalam situasi konflik terbuka, premi war risk berpotensi meningkat dan maskapai juga menghadapi biaya tambahan akibat perubahan rute penerbangan (rerouting).

Dampaknya bahkan mulai dirasakan pada penundaan sejumlah penerbangan, termasuk penerbangan umrah. Tekanan serupa juga membayangi lini marine hull insurance. Penutupan Selat Hormuz memperbesar risiko pelayaran dan memicu kenaikan premi, terutama untuk kapal yang melintasi kawasan terdampak konflik.

Selain premi, timbul pula biaya tambahan yang dikenal sebagai additional cost of working, yakni beban operasional ekstra akibat gangguan jalur distribusi. Arman menilai konflik tidak hanya berdampak pada sisi underwriting, tetapi juga pada kondisi keuangan industri.

Risiko perang berpotensi menekan nilai investasi perusahaan asuransi, yang pada akhirnya dapat memengaruhi perhitungan tingkat kesehatan permodalan. “Akibat risiko perang ini bisa menyebabkan nilai investasi turun dan dampaknya perhitungan risk based capital yang menurun,” katanya.

Dari sisi struktur premi, peningkatan risiko otomatis akan direspons dengan penyesuaian tarif, khususnya pada produk-produk yang memiliki eksposur langsung terhadap zona konflik. Hal ini dinilai wajar dalam praktik asuransi global, mengingat reasuradur internasional juga akan memperhitungkan ulang eksposur risiko mereka.

Terkait lalu lintas pelayaran, Arman menegaskan,kapal yang terdampak bukan hanya kapal pengangkut minyak. Kapal komersial lain yang melewati jalur strategis seperti Selat Hormuz juga berpotensi terkena dampak, sehingga memicu penyesuaian premi dan tambahan biaya operasional.

Ia menambahkan eskalasi konflik juga dapat memicu kenaikan harga minyak dunia yang berdampak luas terhadap perekonomian domestik. Kenaikan ongkos angkut dan biaya produksi berpotensi mendorong inflasi, ditambah tekanan dari pelemahan nilai tukar rupiah.

“Kenaikan harga minyak bisa memicu inflasi karena ongkos angkut naik, biaya produksi juga naik dan jangan lupa faktor melemahnya rupiah, semua itu harus diantisipasi,” pungkas Arman.

Editor: Angga Bratadharma

| Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Related Posts
Prev Post OJK Targetkan Finalisasi New RBC Tahun Ini, Uji Coba Difokuskan ke Asuransi Beraset Jumbo
Next Post DAI Sebut Transparansi dan Penguatan Governance Jadi Kunci Dana Asuransi Mengalir ke Saham

Member Login

or