Media Asuransi, GLOBAL – Analisis dari Allianz Risk Barometer menyebutkan responden di Asia Pasifik telah mengidentifikasi kelumpuhan rantai pasokan global dan kemarahan internet global sebagai dua skenario Black Swan yang paling masuk akal.
Melansir Asia Insurance Review, Jumat, 6 Maret 2026, lebih dari separuh dari 3.000+ responden yakni 51 persen mengidentifikasi kelumpuhan rantai pasokan global akibat konflik geopolitik sebagai skenario Black Swan yang paling masuk akal secara global. Hal ini bisa berdampak pada perusahaan mereka dalam lima tahun ke depan.
Selanjutnya, ketakutan pemadaman internet global menempati urutan kedua yakni sebesar 47 persen, mencerminkan meningkatnya kesadaran akan risiko dunia maya dan kecerdasan buatan Artificial Intelligence (AI) di kalangan para pemimpin bisnis.
Kelumpuhan rantai pasokan global menduduki peringkat pertama di China dan Hong Kong, Singapura, dan Korea Selatan, sedangkan pemadaman internet global menduduki peringkat pertama di Australia, India, Jepang, Malaysia, dan Thailand.
Black Swans didefinisikan sebagai kejadian tidak terduga yang sangat mengganggu dan merugikan secara ekonomi. Selain menimbulkan kerugian finansial dan bisnis yang besar, peristiwa seperti ini biasanya mempunyai implikasi jangka panjang, yang mengakibatkan pergeseran geopolitik dan sosial yang berlanjut selama bertahun-tahun.
|Baca juga: Transaksi Sedekah Bank Jago (ARTO) Melonjak 250% di Awal Ramadan 2026, Ini Pemicunya!
|Baca juga: Nasabah Bank Jago Syariah Tembus 2,4 Juta per Desember 2025, Tumbuh 16,5%!
|Baca juga: Allianz Syariah Hadirkan AlliSya CI Hasanah, Wujud Ikhtiar Jaga Jiwa dan Keuangan Keluarga
“Meskipun peristiwa Black Swan diperkirakan tidak akan terjadi dalam waktu dekat, namun skenario yang jarang terjadi dan berdampak besar ini dianggap semakin masuk akal dan harus dipertimbangkan oleh dewan eksekutif mengingat potensi konsekuensinya,” kata Chief Executive Officer (CEO) Allianz Commercial Thomas Lillelund.
“Meningkatnya interkonektivitas di seluruh rantai pasokan fisik dan digital berarti gangguan kini terjadi lebih cepat dan mengakibatkan kerugian besar. Dalam lingkungan geopolitik yang terfragmentasi saat ini, perusahaan harus meningkatkan ketahanan dan manajemen risiko terintegrasi agar dapat menghadapi badai berikutnya,” lanjutnya.
Mengingat kondisi geopolitik saat ini, tidak mengherankan jika kelumpuhan rantai pasokan akibat konflik geopolitik dianggap sebagai skenario Black Swan yang paling masuk akal.
Ancaman tarif, perang dagang dan proteksionisme, serta gangguan terhadap rantai pasokan dan pengiriman yang disebabkan oleh konflik regional di Timur Tengah dan Rusia/Ukraina menjadi agenda utama setiap dewan.
Interkonektivitas dan saling ketergantungan rantai pasok fisik dan digital juga berpotensi meningkatkan kerentanan di tengah ketidakpastian geopolitik, kemajuan pesat teknologi, dan perubahan iklim.
Editor: Angga Bratadharma
| Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
