1
1

Kontribusi Asuransi Syariah Naik 0,56% per September 2025

Unit Syariah Reasuransi dibawah naungan Asosiasi Asuransi Syariah Indonesia (AASI). | Foto: Media Asuransi/Arief Wahyudi

Media Asuransi, JAKARTA – Industri asuransi syariah mencatatkan pertumbuhan kontribusi (premi) sebesar 0,56 persen year on year (yoy) per September 2025. Nilai kontribusi industri ini meningkat tipis dari Rp18,82 triliun pada September 2024 menjadi Rp18,93 triliun pada September 2025.

Dikutip dari laman Asosiasi Asuransi Syariah Indonesia (AASI) pada Jumat, 9 Januari 2026, asosiasi menilai bahwa pertumbuhan kontribusi yang tipis ini, mengindikasikan adanya tantangan yang signifikan. Terutama akibat kontraksi yang dialami oleh sektor asuransi umum syariah.

Meskipun demikian, AASI melihat kemampuan industri asuransi syariah untuk tetap tumbuh, menunjukkan fondasi yang cukup kuat. Terutama berkat kinerja positif dari sektor asuransi jiwa syariah.

|Baca juga: Aset Asuransi Syariah Mencapai Rp49,05 Triliun per September 2025

Sektor asuransi jiwa syariah tetap menjadi penopang utama pertumbuhan industri asuransi syariah hingga September tahun lalu, dengan mencatatkan pertumbuhan kontribusi sebesar 3,56 persen yoy. Nilai kontribusi meningkat dari Rp15,70 triliun per September 2024 menjadi Rp16,26 triliun per September 2025.

AASI menilai, kinerja yang solid ini mencerminkan kepercayaan yang tinggi dari masyarakat terhadap produk asuransi jiwa syariah, serta efektivitas strategi pemasaran dan pengelolaan kontribusi yang diterapkan. Sektor asuransi jiwa syariah ini terus mendominasi industri dengan kontribusi lebih dari 85 persen dari total kontribusi industri.

|Baca juga:Aset Investasi Asuransi Syariah Naik 5,25%

Di sisi lain, sektor asuransi umum syariah justri mengalami kontraksi pertumbuhan sebesar 17,93 persen yoy. Nilai kontribusinya menurun dari Rp2,38 triliun per September 2024 menjadi Rp1,96 triliun per September 2025.

AASI menilai, penurunan kontribusi asuransi umum syariah yang tajam ini mengindikasikan adanya tekanan yang serius pada daya saing produk, peningkatan risiko klaim, serta melemahnya permintaan di sejumlah lini usaha. Untuk memulihkan kinerja, sektor ini membutuhkan respons strategis yang komprehensif, termasuk reposisi pasar, inovasi produk, penguatan manajemen risiko, dan peningkatan efisiensi operasional.

Sedangkan sektor reasuransi syariah mencatatkan penurunan pertumbuhan kontribusi sebesar 3,35 persen yoy. Nilai kontribusinya menurun dari Rp0,73 triliun per September 2024 menjadi Rp0,70 triliun per September 2025.

Meskipun penurunannya tidak separah sektor asuransi umum syariah, AASI menilai bahwa stagnasi ini mengindikasikan sektor reasuransi syariah masih berada dalam fase konservatif. Untuk mendorong pertumbuhan, diperlukan kolaborasi yang lebih erat dengan perusahaan asuransi primer dalam mengembangkan produk reasuransi yang inovatif dan sesuai dengan kebutuhan pasar.

Editor: S. Edi Santosa

 

| Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Related Posts
Prev Post OJK Catat Aset Dana Pensiun Melesat 10,72% Jadi Rp1.662 Triliun per November 2025
Next Post IHSG Kembali Menguat Jelang Rilis Data Tenaga Kerja AS

Member Login

or