1
1

Kontribusi Dana Pensiun dan Asuransi Terhadap PDB Masih Kecil

Ketua Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Mahendra Siregar. | Foto: Media Asuransi/Sarah Dwi Cahyani

Media Asuransi, JAKARTA – Ketua Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan (OJK), Mahendra Siregar, menyoroti masih rendahnya kontribusi industri dana pensiun (Dapen) dan asuransi terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) Indonesia. Kondisi ini dinilai tertinggal jauh dibandingkan negara-negara dengan sistem keuangan yang lebih maju

Mahendra menjelaskan bahwa di banyak negara, pertumbuhan sektor jasa keuangan sangat bergantung pada kekuatan industri dana pensiun dan asuransi.

“Tidak ada sektor jasa keuangan di negara-negara yang bisa maju tanpa dukungan yang kuat dan kontribusi besar dari dana pensiun maupun industri asuransi. Itu saya rasa jawabannya,” ujar Mahendra pada Press Conference, di Rumah Imam Bonjol, Kamis, 27 November 2025.

|Baca juga: Mayoritas Investasi Dana Pensiun Terkonsentrasi di Fixed Income, Kemenkeu: Membatasi Imbal Hasil!

Lebih lanjut, Mahendra menegaskan bahwa rasio kontribusi Dapen dan asuransi Indonesia terhadap PDB saat ini perlu ditingkatkan.

“Kontribusi dana pensiun dan asuransi Indonesia terhadap PDB, atau perbandingannya terhadap PDB dalam bentuk rasio itu masih sangat kecil. Jadi memang harus ditingkatkan,” lanjut Mahendra.

Ia menekankan bahwa upaya peningkatan tersebut tidak dapat mengandalkan pendekatan lama yang hanya menyasar kelompok tertentu. Menurut Mahendra, industri perlu mengembangkan produk-produk inovatif yang mampu menyesuaikan kebutuhan masyarakat dari berbagai segmen.

“Aspek penyesuaian atau customization menjadi kunci dalam pengembangan produk. Kami akan mendukung dan mendorong inovasi dalam aspek ini, karena ini menjadi salah satu bagian penting dalam financial health. Bukan dilihat dari semata-mata pertumbuhan perkembangan industrinya, tapi juga keseluruhan dari upaya untuk meningkatkan financial health,” terangnya.

|Baca juga: Pemerintah Sebut Dana Pensiun Bisa Putus Mata Rantai Sandwich Generation di Indonesia

Sementara itu, di kesempatan berbeda, Ratu Belanda Maxima turut membagikan praktik terbaik mengenai edukasi dan literasi perencanaan jangka panjang di negaranya. Ia menilai bahwa kesadaran akan pentingnya pensiun sering kali tidak muncul secara alami, terutama di kalangan anak muda.

“Perencanaan jangka panjang sangat penting, tapi itu yang paling sulit. Saat muda, kita tidak pernah berpikir akan tua kan? Jadi sangat penting bagi kita untuk menjadikannya sebagai default dalam segala hal yang kita lakukan, karena jika tidak orang tidak akan pernah memikirkannya,” ungkap Ratu Maxima.

Ratu Maxima kemudian menjelaskan inisiatif nasional di Belanda yang disebut “Pension Three Days”, yaitu program tahunan di mana perusahaan dan pemberi kerja meluangkan tiga hari khusus untuk berdiskusi dengan seluruh karyawan mengenai rencana pensiun dan masa depan finansial mereka.

“Hal ini membuat semua orang lebih sadar,” sambungnya.

Menurut Ratu Maxima, pemerintah dan regulator dapat berperan signifikan dengan mendorong bank serta lembaga keuangan untuk menciptakan mekanisme yang membantu masyarakat menabung dalam jangka panjang.

Editor: Irdiya Setiawan

 

| Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Related Posts
Prev Post Allianz Syariah Wujudkan Kepedulian Sosial Berbasis Maqasid Syariah
Next Post OJK Dukung Kolaborasi Pemerintah dan UNSGSA untuk Kesejahteraan Keuangan

Member Login

or