Media Asuransi, JAKARTA – Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menyatakan kesenjangan perlindungan asuransi (protection gap) terkait bencana alam yang terjadi di Indonesia saat ini masih tinggi. Hal itu menjadi sorotan lantaran posisi Tanah Air yang sangat rentan terhadap bencana alam mengingat posisinya di kawasan cincin api pasifik.
Selain berada di cincin api pasifik, Direktur Pengawasan Asuransi Umum dan Reasuransi OJK Munawar Kasan mengatakan, Indonesia juga memiliki iklim tropis dan curah hujan yang tinggi. Kondisi tersebut pada akhirnya bisa menyebabkan frekuensi bencana alam yang tinggi.
|Baca juga: Genjot Bisnis, BTN (BBTN) Siapkan Penguatan Modal hingga Dirikan Anak Usaha Asuransi di 2026
|Baca juga: Kupasi Annual Forum 2026 Dorong Kehadiran Asuransi Wajib Bencana di Indonesia
Berdasarkan data dari Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) sepanjang 2025, jumlah bencana hingga 31 Desember mencapai 3.233 kejadian meliputi; gempa bumi, erupsi gunung api, tsunami, banjir, cuaca ekstrem, kebakaran hutan (karhuta), tanah longsor, kekeringan, serta gelombang pasang dan abrasi.
“Ini menunjukkan bahwa ancaman bencana di Indonesia ini sangat tinggi,” kata Munawar, dalam Kupasi Annual Forum (KAF) 2026, di Wisma Tugu I, Jakarta Selatan, Kamis, 29 Januari 2025.
Marwan mengungkapkan terdapat beberapa penyebab utama rendahnya kesadaran masyarakat dalam perlindungan asuransi antara lain rendahnya kesadaran akan risiko bencana hingga keterbatasan pemahaman tentang mekanisme transfer risiko.
|Baca juga: Dicecar Akibat Saham Berfluktuasi, Manajemen Batavia Prosperindo (BPII) Buka Suara
|Baca juga: Pendapatan Jasa Asuransi Lippo General Insurance (LPGI) Naik 21% hingga Kuartal III/2025
Lebih jauh, Marwan menilai, keterjangkauan, ketidakpercayaan terhadap penyedian asuransi, serta kepercayaan budaya yang memengaruhi sikap perlindungan risiko juga menjadi penyebab rendahnya perlindungan asuransi di Indonesia.
“Yang terakhir adalah ada faktor budaya. Jadi sebagian masyarakat kita (menganggap) bencana itu sebagai takdir saja. Kalau sudah takdir ya sudah, mau ngapain? Kalau takdir ya kita terima saja,” tutupnya
Editor: Angga Bratadharma
| Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
