1
1

Peluang Kinerja Asuransi di Kawasan Asia Pasifik Menjanjikan pada 2026, Berikut Lengkapnya!

Lembaga pemeringkat utang Fitch Ratings. | Foto: Menpan.go.id

Media Asuransi, GLOBAL – Fitch Ratings mempertahankan pandangan netral terhadap sektor asuransi di Asia Pasific (APAC) pada 2026. Sikap ini mencerminkan kinerja yang tetap kuat serta penyangga solvabilitas yang sehat di sebagian besar pasar kawasan.

Melansir Asia Insurance Review, Selasa, 16 Desember 2025, komentar tindakan non-rating setebal 10 halaman yang diterbitkan oleh lembaga pemeringkat pada 3 Desember 2025 memperkirakan margin operasi akan bertahan di tengah membaiknya dinamika persaingan, meskipun ada perubahan peraturan, pertumbuhan yang lebih lambat, dan volatilitas pasar.

Fitch menyebutkan pertumbuhan pasar asuransi jiwa dan non-jiwa kemungkinan melambat di sebagian besar pasar. Sedangkan perusahaan asuransi jiwa akan terus memprioritaskan pertumbuhan kualitas dan profitabilitas produk. Sementara perusahaan asuransi non-jiwa bakal fokus pada disiplin dan efisiensi penjaminan emisi.

Selain itu, perusahaan asuransi non-jiwa mendapatkan manfaat dari penetapan harga reasuransi yang lebih lunak, sementara perusahaan asuransi jiwa harus mempertahankan profitabilitas produk dan menerapkan manajemen aset-kewajiban yang dinamis melalui transisi peraturan dan pasar yang bergejolak.

Hasil investasi mungkin akan tertekan oleh rendahnya imbal hasil dan meningkatnya volatilitas, serta sedikit pergeseran ke arah aset-aset berisiko. Fitch menegaskan perusahaan asuransi APAC tengah mempersiapkan diri atau beradaptasi dengan rezim solvabilitas yang terus berkembang melalui peningkatan modal dan manajemen aset-kewajiban yang proaktif.

Meski demikian, modal harus tetap sehat, walau volatilitas pasar merupakan risiko utama. Lembaga pemeringkat ini mempertahankan pandangan yang memburuk pada sektor jiwa di China dan Taiwan. China menghadapi pertumbuhan premi yang lebih lambat di bawah peraturan komisi yang lebih ketat, dan sensitivitas pendapatan terhadap volatilitas pasar ekuitas.

Sedangkan kehidupan di Taiwan mungkin akan mengalami tekanan modal ketika standar baru mulai berlaku pada 2026, dengan beban risiko suku bunga yang lebih tinggi di bawah rezim solvabilitas baru, pergerakan nilai tukar yang merugikan, dan meningkatnya biaya lindung nilai yang membebani pendapatan.

Editor: Angga Bratadharma

| Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Related Posts
Prev Post Pegadaian Salurkan Bantuan untuk Korban Banjir dan Tanah Longsor di Sumatra Barat
Next Post Inilah 3 Jaminan Asuransi yang Terkait dengan Bencana Alam Sumatra

Member Login

or