Media Asuransi, JAKARTA – Pengamat Asuransi Irvan Rahardjo menilai eskalasi konflik antara Amerika Serikat (AS) dan Israel yang menyerang Iran memberikan tekanan signifikan terhadap industri asuransi. Kondisi ini patut diwaspadai dan diantisipasi sebaik mungking.
Ia menambahkan lini bisnis yang paling terdampak akibat memanasnya konflik tersebut yakni asuransi marine cargo, marine hull, asuransi pesawat (aviation), serta asuransi perjalanan.
“Eskalasi konflik di Timur Tengah, terutama serangan ke Iran berpotensi besar memicu lonjakan drastis premi marine cargo dan tarif angkutan tanker,” ujar Irvan, kepada Media Asuransi, dikutip Jumat, 6 Maret 2026.
|Baca juga: Tegas! OJK Beri Sanksi Finfluencer Sesat dan Debt Collector yang ‘Nakal’
|Baca juga: 7 Asuransi dan Reasuransi Masuk Pengawasan Khusus, OJK Soroti RBC dan Permodalan sebagai Biang Kerok
Ia menjelaskan hal tersebut khususnya terjadi di Selat Hormuz, jalur vital yang mengalirkan lebih dari 20 juta barel minyak per hari atau sekitar 20 persen konsumsi dunia. Konflik di jalur ini, Irvan mengatakan, berpotensi memicu lonjakan harga minyak hingga US$120 per barel atau sekitar US$2,4 triliun per hari.
“Indikasi penyesuaian sudah terlihat dengan adanya penundaan pengiriman oleh trader dan kenaikan biaya operasional kapal, karena tingginya risiko keamanan,” imbuhnya.
Gangguan tersebut berdampak pada nilai pertanggungan asuransi kargo (hull) dan kapal (machinery) yang sangat besar. Apalagi mengingat tingginya volume energi yang melintas dan berpotensi menaikkan premi risiko perang atau war risk premi secara signifikan.
Irvan menyatakan dampak paling langsung akan terasa pada asuransi marine war risk. Hal itu lantaran premi untuk pelayaran di Teluk Persia sudah naik dua kali lipat sejak konflik Israel dan Iran di Juni 2025.
|Baca juga: 20 Calon Pengganti ADK OJK Lolos Seleksi Tahap I, Termasuk Friderica Widyasari Dewi dan Hasan Fawzi
|Baca Juga: Dampak Konflik Timur Tengah Menjalar ke Industri Asuransi, Begini Respons Sompo Indonesia!
Sehingga dengan eskalasi yang jauh lebih besar, kenaikannya bisa mencapai 5-10 kali lipat. Irvan merinci, untuk satu kapal bernilai US$50 juta, ditambah biaya tambahan per pelayaran yang mencapai US$350.000-500.000 atau sekitar Rp5,8-8,4 miliar.
“Dalam hitungan jam setelah serangan, sembilan kapal LNG langsung mengubah haluan menjauhi Selat Hormuz, dan perusahaan pelayaran besar menolak kontrak baru,” kata Irvan.
Tak hanya berdampak pada asuransi langsung, Irvan juga menyoroti perubahan di pasar reasuransi global. Ia menyebut pasar reasuransi yang sebelumnya cenderung melunak pada awal 2026 kini berbalik arah atau mengalami hardening.
“Untuk risiko di atas kapasitasnya, reasuradur lokal bergantung pada retrosesi dari raksasa global seperti Lloyd’s, Swiss Re, dan Munich Re dan lain-lain. Pasar reasuransi global yang tadinya melunak 5-15 persen di awal 2026 kini berbalik arah,” ungkapnya.
“(Bahkan), beberapa reasuransi besar sudah memasukkan klausul eskalasi yang memungkinkan mereka membatalkan coverage jika konflik memburuk,” pungkasnya.
Editor: Angga Bratadharma
| Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
