Media Asuransi, GLOBAL – Ketegangan geopolitik di Timur Tengah mulai merembet ke pasar asuransi global. Di tengah konflik yang memanas, permintaan terhadap asuransi siber diperkirakan mencatat peningkatan paling besar seiring meningkatnya risiko digital yang berkaitan dengan konflik geopolitik.
Dilansir dari Insurance Asia, Selasa, 17 Maret 2026, laporan GlobalData Plc pada kuartal III/2025 menunjukkan, sebanyak 27,4 persen profesional asuransi memperkirakan asuransi siber akan mengalami lonjakan permintaan terbesar apabila ketidakstabilan geopolitik semakin memburuk.
Angka tersebut menempatkan asuransi siber di atas asuransi risiko politik yang diperkirakan meningkat 25 persen, asuransi rantai pasok 23,8 persen, serta asuransi gangguan bisnis sebesar 13,1 persen.
Analis Asuransi GlobalData Charlie Hutcherson menilai konflik geopolitik kini semakin memengaruhi cara perusahaan menilai ancaman siber. Menurutnya, titik-titik konflik global kini tidak hanya berdampak pada lini asuransi perang laut dan risiko politik, tetapi juga mulai tercermin dalam ekspektasi eskalasi serangan siber.
Perusahaan juga semakin khawatir serangan siber dapat terjadi bersamaan dengan gangguan fisik terhadap perdagangan global. Kampanye peretasan yang didukung negara, serangan terhadap infrastruktur penting, serta aktivitas spionase digital kerap dikaitkan dengan konflik geopolitik, sehingga perlindungan siber menjadi prioritas.
Di sisi lain, konflik yang melibatkan Amerika Serikat, Israel, dan Iran juga mulai memengaruhi pasar asuransi kelautan, terutama di kawasan Selat Hormuz. Jalur laut strategis tersebut menjadi salah satu koridor utama perdagangan energi dunia karena sekitar seperlima pengiriman minyak dan gas global melewati kawasan tersebut.
|Baca juga: AAUI Usul Iuran Penjaminan Polis Dihitung dari Premi Neto
|Baca juga: AAUI Dorong Program Penjaminan Polis Segera Berjalan Demi Pulihkan Kepercayaan Publik
|Baca juga: Asuransi Jiwa Beralih ke SBN saat IHSG-Rupiah Lesu, Bos Ajaib: untuk Dapatkan Pendapatan Lebih
Seiring meningkatnya konflik, kapal yang berencana melintasi Selat Hormuz dilaporkan semakin sulit memperoleh perlindungan asuransi hull war-risk.
Kondisi ini terjadi setelah Amerika Serikat dan Israel meluncurkan kampanye serangan udara terhadap Iran pada 28 Februari, yang kemudian direspons dengan serangan balasan berupa rudal dan drone yang menargetkan aset militer serta infrastruktur energi di kawasan Teluk Persia.
Pelaku industri asuransi kelautan kini semakin berhati-hati dalam memberikan perlindungan bagi kapal yang berencana melewati jalur tersebut. Bahkan, sejumlah pihak menilai kapal tanker yang akan melintasi Selat Hormuz berpotensi kesulitan menemukan penjamin risiko di pasar asuransi saat ini.
Sementara Iran telah mengancam akan menutup Selat Hormuz dan menargetkan kapal yang mencoba melintas. Meski belum banyak kapal yang diserang secara langsung, namun sejumlah analis menilai pembatasan perlindungan asuransi saja sudah cukup untuk mengurangi lalu lintas pelayaran di kawasan tersebut.
Dari perspektif risiko, sejumlah pengamat menilai Selat Hormuz pada praktiknya hampir tertutup dari sisi asuransi karena banyak perusahaan menghentikan perlindungan bagi kapal yang memasuki wilayah tersebut.
Bagi kapal yang tetap memasuki Teluk Persia tanpa melintasi selat, premi asuransi war-risk juga melonjak tajam. Perlindungan hull war kini dapat mencapai biaya hingga satu persen dari nilai kapal untuk perlindungan selama tujuh hari, naik dari sekitar 0,25 persen sebelum konflik terjadi.
Di tengah kondisi tersebut, perusahaan asuransi dinilai perlu meninjau kembali eksposur terhadap jalur pelayaran utama dan koridor energi global. Selain itu, industri asuransi juga perlu bersiap menghadapi ancaman siber yang semakin terkait dengan konflik geopolitik.
Editor: Angga Bratadharma
| Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
