Media Asuransi, GLOBAL – Rekor harga Bitcoin mendorong perusahaan asuransi global mempercepat adopsi aset digital dalam strategi investasinya. Hampir sembilan dari 10 perusahaan asuransi kini menjadikan aset digital sebagai prioritas strategis.
Melansir Insurance Asia, Selasa, 6 Januari 2026, studi global yang ditugaskan oleh Brava Finance mencatat, 92 persen manajer aset asuransi telah memiliki atau tengah mengembangkan strategi aset digital. Sebanyak 88 persen menyebut adopsi aset digital kini menjadi prioritas strategis, bahkan 52 persen menilainya sebagai kebutuhan yang mendesak.
Survei terhadap 25 manajer aset asuransi di Amerika Serikat, Inggris, Singapura, Hong Kong, dan sejumlah negara Eropa menunjukkan mayoritas responden sudah memiliki eksposur. Sekitar 88 persen responden telah menempatkan aset digital dalam portofolio, dengan 44 persen mengalokasikan 1–2 persen dan 36 persen menempatkan 2–5 persen dari total aset kelolaan.
Seluruh responden berencana meningkatkan alokasi aset digital dalam 12 bulan ke depan. Sebanyak 44 persen memperkirakan alokasi naik menjadi 5–10 persen, sementara 44 persen lainnya menargetkan peningkatan hingga 10–25 persen. Aset digital juga semakin dipandang sebagai instrumen diversifikasi.
Sebanyak 92 persen responden menilai aset digital efektif untuk mendiversifikasi portofolio, terutama untuk meningkatkan imbal hasil berbasis risiko. Sekitar 72 persen menyebut potensi peningkatan risk-adjusted return sebagai pendorong utama, disusul pencarian sumber imbal hasil alternatif oleh 40 persen responden.
|Baca juga: Nasabah Kini Lebih Memilih Premi Asuransi Tunggal dari Reguler, Bos OJK Ungkap Penyebabnya!
|Baca juga: BBCA Umumkan Likuidasi BCA Finance di Hong Kong, Ini Alasannya!
|Baca juga: Alamtri (ADRO) Umumkan Kurs Dividen Tunai Interim 2025, Investor Dapat Rp145 per Saham
Lonjakan harga Bitcoin menjadi pemicu utama pembahasan ulang strategi aset digital. Sebanyak 96 persen responden menyatakan reli Bitcoin mendorong diskusi internal, meski kekhawatiran terhadap volatilitas masih tinggi. Sebanyak 96 persen responden khawatir harga Bitcoin dapat turun tajam dari level tertingginya.
Kondisi tersebut mendorong pergeseran minat ke aset digital yang lebih stabil. Sebanyak 88 persen responden mulai melirik stablecoin sebagai alternatif untuk menekan risiko volatilitas.
Meski minat meningkat, namun tantangan adopsi tetap signifikan, terutama terkait kustodi dan keamanan aset, ketidakpastian regulasi, volatilitas pasar, serta risiko ESG dan reputasi. Hambatan internal seperti tata kelola, proses operasional, dan keandalan vendor juga masih menjadi perhatian.
Di sisi lain, resistensi klien relatif rendah. Sebanyak 92 persen responden menyebut klien dan trustee mendorong manajer aset asuransi untuk mempertimbangkan strategi aset digital. Sejalan dengan temuan studi tersebut, Brava Finance meluncurkan stablecoin separately managed account serta dana kredit pertamanya melalui kendaraan investasi teregulasi di Cayman.
Dana ini menargetkan imbal hasil tahunan 8–12 persen, menawarkan likuiditas keesokan hari, dan berfokus pada strategi pembiayaan berbasis stablecoin tanpa eksposur langsung ke aset volatil seperti Bitcoin.
Editor: Angga Bratadharma
| Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
