Media Asuransi, GLOBAL – Accenture dalam laporan terbarunya mengungkapkan para eksekutif asuransi berencana meningkatkan pengeluaran untuk kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI) pada 2026. Hal tersebut tetap dilakukan meskipun menghadapi kekurangan keterampilan yang mengancam kemampuan mereka untuk meningkatkan teknologi.
Laporan ini berjudul ‘Pulse of Change‘ yang dilakukan pada 2026 dengan melakukan survei kepada 3.650 pemimpin C-suite di 20 industri dan 20 negara antara November dan Desember 2025. Penelitian ini mencakup tanggapan dari 218 eksekutif asuransi senior.
Melansir Asia Insurance Review, Selasa, 27 Januari 2026, laporan tersebut mengungkapkan 90 persen eksekutif asuransi berniat berinvestasi lebih banyak pada AI tahun ini. Bahkan, sebagian besar pemimpin memandang AI sebagai pendorong pendapatan dibandingkan dengan alat untuk memangkas biaya.
Selain itu, 85 persen perusahaan lainnya melihat manfaat yang lebih besar bagi pertumbuhan dibandingkan dengan pengurangan biaya. Namun temuan penelitian ini mengidentifikasi hambatan besar dalam mewujudkan potensi nilai AI.
|Baca juga: Sah! Panji Irawan Resmi Jabat Dirut Bank Mandiri Taspen
|Baca juga: Park Young Mock Resmi Jabat Presiden Komisaris Lippo Insurance (LPGI)
|Baca juga: Hanwha Life Insurance Indonesia Alihkan 46,6% Saham ke Hanwha Insurance, Ada Apa?
Seperempat eksekutif menyebutkan kekurangan tenaga terampil sebagai faktor utama yang membatasi kemampuan mereka untuk mengambil manfaat dari AI. Terlepas dari tantangan-tantangan ini, sebanyak 24 persen organisasi telah menerapkan program pembelajaran berkelanjutan terkait AI, dan kurang dari satu dari 10.
Sementara hanya lima persen yang merancang ulang peran pekerjaan untuk mendukung adopsi AI. Survei tersebut juga menunjukkan AI sudah melampaui tahap percobaan, dengan 34 persen organisasi asuransi kini secara aktif menerapkan agen AI di berbagai fungsi.
Hampir sepertiga pemimpin C-suite asuransi menggunakan alat AI generatif setiap hari, sementara 57 persen menggunakannya setidaknya sekali seminggu. Selain itu, 29 persen bisnis mendesain ulang proses end-to-end dengan AI sebagai intinya.
Para eksekutif asuransi menyatakan keyakinannya bahkan di tengah kekhawatiran mengenai potensi gelembung AI. Jika gelembung seperti itu pecah, 47 persen mengatakan mereka akan meningkatkan investasi AI dan 37 persen mengatakan akan meningkatkan perekrutan tenaga kerja.
“Jelas bahwa para pemimpin asuransi yakin akan kemampuan AI untuk mendorong pertumbuhan yang signifikan, dan oleh karena itu, mereka secara signifikan meningkatkan investasi, meskipun ada ketidakpastian mengenai ROI,” ungkap Pemimpin Accenture Khalid Lahraoui.
Editor: Angga Bratadharma
| Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
