Media Asuransi, GLOBAL – Pasar asuransi non-jiwa India pada November 2025 mencapai level tertinggi dalam 13 bulan atau melonjak 24,2 persen secara tahunan (yoy). Kenaikan ini mencerminkan bulanan terkuat dalam tahun fiskal 2026.
Melansir Insurance Asia, Selasa, 6 Januari 2026, pengumpulan premi mencapai Rs26.897,4 crore, rebound tajam dari pertumbuhan 4,4 persen pada November 2024 dan 0,1 persen pada Oktober 2025. Menurut CareEdge Ratings, pertumbuhan ini didukung oleh kenaikan premi di segmen kesehatan, kebakaran, kendaraan bermotor, dan segmen lain.
Dasar yang rendah pada November tahun lalu juga membantu meningkatkan laju pertumbuhan. Bahkan, momentum premi membaik seiring dengan penyelesaian penerbitan polis tertunda dan perpanjangan dari Oktober, serta normalisasi pelaksanaan asuransi pertanian.
Direktur CareEdge Ratings Priyesh Ruparelia mengatakan premi asuransi non-jiwa melampaui Rs2,20 lakh crore secara year-to-date pada FY 2026. Dia mengatakan pertumbuhan didukung oleh langkah-langkah regulasi, adopsi digital yang meningkat, dan basis pelanggan kelas menengah yang berkembang.
Ia menambahkan inisiatif seperti platform Bima Trinity dan adopsi insurtech yang lebih luas diharapkan dapat meningkatkan penetrasi dan efisiensi distribusi. Sedangkan asuransi kesehatan mandiri terus memperluas pangsa pasar di segmen ritel, sementara prospek asuransi kendaraan bermotor tetap positif berkat penjualan kendaraan yang kuat.
|Baca juga: Skema Public Private Partnership Jadi Kunci Penerapan Asuransi Wajib Bencana
|Baca juga: OJK Disebut Perlu Fokus Kaji Asuransi Bencana ketimbang Asuransi Wajib Perjalanan bagi Wisman
|Baca juga: Medco (MEDC) Beberkan Penggunaan Dana Obligasi Rp1 Triliun, untuk Apa Saja?
Associate Director CareEdge Ratings Saurabh Bhalerao mengatakan pemulihan didorong oleh pemulihan asuransi kerusakan kendaraan dan kebakaran, penjualan kendaraan terkait perayaan, perbaikan harga pada perpanjangan polis, aktivitas komersial yang stabil, dan permintaan yang kuat untuk asuransi kesehatan.
Saurabh memperingatkan pertumbuhan berkelanjutan akan bergantung pada disiplin harga, insentif distributor di tengah komisi yang lebih rendah, dan laju pemulihan skema yang terkait dengan pemerintah.
Lebih jauh, ia menambahkan, pemotongan tajam komisi distributor untuk mengganti kerugian kredit pajak masukan dapat menekan saluran distribusi dan membebani pertumbuhan premi di masa depan.
Editor: Angga Bratadharma
| Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
